Bidadari Bermata Biru

Bidadari Bermata Biru
eps 60


__ADS_3

shira berbalik lalu tersenyum kepada sinta dan diyan yang begitu heboh hanya karena melihatnya mengambil air minum sendiri.


"aku ngga apa-apa kok kak," shira menjawab sambil berjalan dengan pelan ke meja makan lalu duduk dan meminum air yang baru saja di ambilnya di dapur


sinta hanya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya, shira memang orang yang tak suka merepotkan orang lain walau kakaknya sekali pun


sinta berjalan ke arah shira lalu duduk tepat di samping nya bersama Diyan, sinta melihat sekeliling namun ia tak melihat pamannya, seharusnya di jam seperti ini pamannya akan turun untuk sarapan lalu pergi ke kantornya.


"paman mana ra?" tanya Sinta


"paman tadi keluar pas setelah kalian juga keluar, katanya ada urusan mendadak, jadi ngga sempat sarapan" jawab Shira


"jadi kapan kita akan masuk kampus lagi ra?" tanya diyan tiba-tiba


memang seharusnya shira masuk kembali ke kampus beberapa hari yang lalu namun karna ia terluka jadi Diyan dan Shira belum bisa masuk kampus kembali.


"ngga tau yan, aku akan tanya dokter dulu, kebetulan sebentar adalah jadwal aku untuk pergi mengganti perban ku ke dokter Dilla" jawab Shira, sedangkan diyan hanya manggut-manggut saja tanda mengerti.


"yang antar siapa? kan paman lagi pergi, gimana jika paman ngga pulang sampai sebentar sore?" tanya Sinta


"owh iya benar juga yang di katakan sinta, yang antar kamu siapa? atau kakak jangan masuk kerja dulu ya hari ini, kakak khawatir jika kamu ngga ada yang antar" tutur andra yang baru saja menyimpan belanjaan yang tadi di beli dari pasar


shira nampak berpikir sejenak, benar juga jika pamannya sebentar belum pulang hingga sore yang akan mengantarnya sebentar siapa? kak andra dan kak ashar kerja di kantor pamannya yang ada di ibukota j ini, sedangkan kak sinta juga kerja di toko roti dekat kantor paman Candra.


"ngga papa kok, kalian pergi siap-siap aja entar kalian telat, lagian kak Andra mana bisa izin kak andra kan baru masuk beberapa hari yang lalu, kalian tenang aja nanti jika paman belum pulang saat jam jadwalku aku akan meminta diyan untuk menemaniku ke rumah sakit" jawab shira tenang agar kakaknya tak khawatir lagi

__ADS_1


"tapi kalian hati-hati ya, jangan kaya hari itu lagi" ucap andra lalu mengusap kepala shira dengan lembut lalu ia ke kamar untuk bersiap-siap agar ia tak terlambat pergi bekerja, begitupun dengan sinta dan Ashar.


sekarang hanya tersisa diyan dan shira di meja makan, hening sejenak sampai diyan membuka bibirnya untuk bertanya kepada Shira


"Ra, kamu belum mau pasang kartu yang dulu sempat kita buka saat meninggalkan ibukota ini?"


"entahlah yan, aku bingung kita tunggu aja sampai kita udah masuk kampus lagi baru kartu itu kita pasang kembali" jawab shira. diyan pun hanya mengangguk


tak berapa lama sinta, Andra dan ashar keluar dari kamar dalam keadaan rapi.


"kami berangkat dulu ya, kalau ada apa-apa jangan lupa untuk menelpon kami, oke" ucap Andra


Di jawab ancungan jempol oleh Diyan dan Shira lalu keduanya langsung menjawab serentak "oke"


"pokoknya kalian tenang aja, aku pasti akan merawat shira seperti anak ku sendiri" ucap diyan membuat seisi rumah itu tertawa.


kakak adik ini jika bercanda memang selalu membuat orang yang ada di samping mereka akan tertawa walaupun candaan mereka sangat tidak masuk akal.


ashar, Andra dan sinta pun pergi meninggalkan shira dan diyan di rumah.


...----------------...


frans beberapa hari ini telah berhasil melarikan diri dari omanya, setiap hari ia akan pergi pagi-pagi dan pulang malam saat omanya telah tidur.


Tapi sepertinya hari ini ia tak seberuntung biasanya, saat ia turun dari lantai dua, omanya telah duduk di sofa ruang tamu yang pastinya akan ia lewati, frans menarik nafas dalam-dalam, lalu berjalan melewati omanya seperti tak melihat apa-apa. namun baru beberapa langkah ia melewati sofa yang di duduki oleh omanya, ayahnya langsung menegurnya

__ADS_1


"kamu mau kemana pagi-pagi buta seperti ini?" ucap Fandi mengagetkan Frans.


Frans tidak menyangka bahwa di situ ternyata ada juga ayahnya, ia pikir hanya omanya saja.


"mau ke kampus pih, tapi aku mau ke rumah satya dulu karna ada makalah yang harus aku kerjakan bersama satya" jawab frans mencoba tenang agar papinya percaya, sebenarnya ia juga sangat takut saat berbohong karena ia selama ini hampir tak pernah berbohong, namun mau gimana lagi demi melindungi diri dari perjodohan konyol sang oma, ia harus berbohong. bisa kah ini di katakan berbohong demi kebaikan? frans tak tahu namun hatinya tetap merasa bersalah.


"ngga usah banyak alasan kamu ans, oma tahu selama beberapa hari ini kamu pergi pagi dan pulang malam, untuk menghindar dari Oma, iya kan?" tanya omanya kini mulai berdiri dan berjalan ke arah frans dengan marah


"oma ngomong apa sih, aku akhir-akhir ini banyak tugas, oma tahu kan ini itu tahun terakhir aku kuliah, mana urusan kantor juga, ans bukan menghindar tapi ans memang banyak pekerjaan Oma" jawab frans mencoba menjelaskan kepada omanya


"oke kalau begitu, fandi sementara waktu ini kamu jangan melibatkan ans untuk masalah perusahaan, kamu urus sendiri dulu jika memang kamu butuh bantuan maka panggil aku saja, biar ans bisa istirahat, aku ingin berbicara kepadanya" ujar feren kepada Fandi


fandi tak bisa berbuat apa-apa, jika ini adalah keputusan maminya maka ia akan mengikutinya karna selama ini ia tak pernah melawan apapun yang di katakan oleh maminya ini. fandi bahkan seperti anak kecil jika di hadapkan dengan feren, ia akan menjadi sangat penurut.


"iya mih" jawab fandi


"tapi oma ans juga kan perlu belajar dan juga...." belum selesai frans berbicara ia sudah di bungkam oleh sang ayah


"dengarkan kata oma mu" ujar fandi tegas dan tak bisa di bantah


frans langsung terdiam dan tidak berkata-kata lagi, ia sudah tak tahu, kali ini sudah pasti ia tak akan bisa kabur lagi dari omanya ini


"jadi gimana dengan obrolan kita terakhir ans, apakah kamu sudah setuju?" tanya omanya to the poin


"omaaa..... kan aku udah pernah bilang aku udah ada orang yang aku cintai oma dan itu tidak akan pernah tergantikan oleh orang lain" jawab Frans

__ADS_1


"untuk apa kamu mencintai orang yang jelas-jelas sudah tak ada kabar, jelas-jelas dia itu sudah pergi meninggalkan kamu, asal usulnya saja tidak di tahu" tutur omanya membuat frans mengepalkan tangannya hingga urat-urat nya terlihat


__ADS_2