Bidadari Bermata Biru

Bidadari Bermata Biru
eps 65


__ADS_3

"Ira apakah kamu mengenal Ferenc lionita sinaga istri dari direktur utama keluarga Alvaro yang sebelumnya?" tanya candra menghentikan mobilnya karna lampu merah


"tidak paman, bahkan namanya saja aku baru dengar dari paman barusan" jawab Shira jujur, ia memang tak tahu bahwa orang yang ia tolong bernama feren omanya frans dan Farah


"kalau shira ngga tahu siapa feren kenapa feren mencari tahu identitas Shira? ia bahkan rela membayar ahli komputer paling handal demi meretas identitas shira, aku saja kualahan karna sedari pagi menghadapi ahli komputer yang di bayarnya" ucap candra dalam hati sambil menatap ke arah Shira


"kalian mau kemana?" tanya candra saat melihat shira dan diyan sedang membuka pintu mereka ingin keluar dari mobilnya


"tunggu paman kami akan ke depan sebentar" ucap shira lalu keluar dari mobil


candra hanya memandang mereka dari dalam mobil, mereka mau ngapain keluar dari dalam mobil? candra bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


candra memperhatikan shira dan diyan sampai saat diyan dan shira berhenti pas di depan mobil sport mewah yang berwarna merah terang lalu mereka menunduk membantu nenek-nenek yang sepertinya telah menjatuhkan barang bawaannya, candra tersenyum ini lah salah satu sifat shira dan Diyan yang paling ia sukai, mereka tak akan meninggalkan seseorang yang membutuhkan pertolongan sebelum mereka menolongnya.


"mari nek biar kami bantu" tawar Diyan


diyan mengambil kantong plastik yang sobek lalu mengikat sobekanya dan memungut satu persatu tomat yang tadi terjatuh.


begitupun dengan shira, ia juga membantu memungut sayuran dan buah-buahan yang terjatuh lalu menaruh semuanya di kantong plastik


dengan terburu-buru keduanya memasukkan barang jatuh itu kedalam plastik karna sebentar lagi lampu merah itu akan berganti jadi berwarna hijau.


saat-saat terakhir shira mengambil beberapa uang berwarna merah dari dalam saku gamisnya lalu ia mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dari dalam saku gamisnya dan menyimpannya ke dalam kantong sayuran lalu berucap dalam hati "semoga bermanfaat untuknya dan keluarganya" lalu shira mengambil selembar daun sawi dan membungkus uang itu agar uangnya tak tercampur dengan sayuran yang lain.


setelah itu ia melihat ke arah diyan yang ternyata sedang melakukan hal yang sama dengan dirinya, Diyan dan shira bertatapan lalu keduanya langsung tersenyum seperti mengetahui pikiran masing-masing, begitulah sahabat....


"ini nek" ucap shira dan diyan menyodorkan dua kantong plastik setelah membantu nenek itu menyebrangi jalan


"makasih nak, kalian baik sekali, semoga allah membalas kebaikan kalian berdua" balas nenek itu berterima kasih kepada keduanya

__ADS_1


"aamiin..... Afwan nek" ucap keduanya


"kalau boleh tahu nenek tinggal dimana? mungkin kami bisa membantu mengantar nenek sampai rumah" tanya Shira kepada nenek itu, ia sangat kasihan apalagi melihat usia nenek ini yang sepertinya sudah sangat tua


"rumah nenek dekat sini kok, nenek juga sudah biasa, kalian pulang saja sepertinya mobil itu telah menunggu kalian sejak tadi karna saat lampu hijau dia tak pergi tapi memarkirkan mobilnya di sana" ucap nenek itu menunjuk mobil sport berwarna merah terang di bawah pohon


"ah nenek salah mabil paman kami itu yang berada di sana" ujar Shira menunjuk mobil pamannya yang tak jauh dari mereka


"owh nenek kira yang itu" tutur nenek itu


"yaudah nenek pulang dulu sekali lagi terima kasih karna telah menolong nenek" sambungnya lalu mengangkat dua kantong plastik yang berisi sayuran


shira dan diyan memandang ke arah perginya nenek tadi, setelah nenek itu menghilang dari pandangan keduanya, mereka langsung pergi menuju ke arah mobil pamannya dan pulang bersama-sama.


satu hal yang shira dan diyan tak tahu, tadi saat keduanya sedang asik memungut sayuran ada seorang laki-laki yang terus memperhatikan keduanya lalu bergumam "dia memang sangat cantik dan baik" laki-laki tak berhenti memperhatikan shira, apalagi saat Shira tersenyum bersama Diyan.


"I can't wait to meet him tomorrow, wait for me


(aku tidak sabar untuk segera bertemu dengannya besok, tunggu aku)" gumam laki-laki itu sembari tersenyum, setelah itu ia pun kembali menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari tempat itu


......................


frans duduk termenung di taman rumah sakit, ia bingung dengan jalan hidupnya sendiri, ia tak tahu apa yang harus ia katanya kepada Shira, apalagi kata farah shira dan diyan besok sudah akan masuk kuliah kembali.


frans mengusap kasar rambutnya, saat ini ia sangat bimbang dan dilema namun ia sudah tak bisa apa-apa.


ia sudah tak bisa mundur sekarang ini ia hanya bisa maju selangkah demi selangkah walaupun mungkin akan sangat menyakitkan untuk dirinya.


frans harus ikhlas apapun yang terjadi kedepannya ia harus menerimanya dengan lapang dada. Frans tak boleh mengeluh, masih banyak orang di luar sana yang mungkin cobaannya lebih sulit dari dirinya. Ia harus rela melepaskan Shira dan ikhlas menerima wanita yang telah menyelamatkan omanya, walau bagaimanapun wanita itu hampir mengorbankan nyawanya demi menolong omanya, ia memang harus membalas kebaikan wanita itu.

__ADS_1


frans menunduk ia langsung teringat dengan kata-kata yang pernah ia baca di buku


*sekuat apapun kau genggam bila ia belum rezekimu pasti akan hilang, sedangkan bila itu rezekimu, selemah apapun dirimu ia pasti mendatangimu. dan....


yang memang untukmu akan datang meski tak kau jemput. yang bukan untukmu akan pergi meski tak kau pinta.


jodoh rezeki dan ajal itu adalah rahasia ilahi*


"gue harus ikhlas" gumam frans mencoba tersenyum


"aku sering menasehati orang lain untuk sabar dan gak boleh lemah pada kehidupan, tapi nyatanya di belakang mereka, aku sendiri lemah.


hanya saja aku berusaha kuat dan tegar agar aku bisa melihat senyum kebahagiaan dari bibir orang-orang yang aku sayang" ucap frans dalam hati


setelah merasa tenang frans kembali ke kamar omanya


Candra, shira dan Diyan telah sampai di rumah dan ternyata ashar, Andra dan sinta juga telah sampai, Shira melihat jam di pergelangan tangannya ternyata sekarang sudah jam setengah enam pantas saja kakaknya sudah pulang.


ketiga masuk ke dalam rumah, tak lupa mereka mengucap salam, agar para setan-setan yang mengikuti mereka sejak tadi tak ikut masuk ke dalam rumah.


candra langsung masuk ke kamarnya agar bersiap-siap dan pergi ke masjid bersama ashar dan andra


"kok kalian lama banget? apakah kalian di jemput oleh paman?" tanya ashar yang sudah selesai mandi ia juga sudah memakai sarung dan peci, seperti biasa ashar dan andra pasti akan ke Masjid untuk menunaikan shalat


"maaf kak tadi kami ngobrol dulu dengan dokter yang mengganti perban Shira, ia kami di jemput oleh paman saat di rumah sakit" jawab Diyan


"Ra, yan kalian siap-siap gih, kita pergi shalat di masjid bersama kak Andra, kak ashar dan paman candra" ucap sinta yang baru keluar dari kamar dengan sudah memakai mukena.


"oke" jawab shira dan diyan lalu langsung masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap untuk pergi ke masjid bersama-sama

__ADS_1


__ADS_2