
frans keluar ruangan itu dengan wajah kesal Manahan marah, jujur saja dia tadi sangat marah, jika saja tidak ada shira di dalam maka sudah di pastikan pak Harto pasti babak belur
shira yang melihat frans jalan terburu-buru seperti marah langsung menarik ujung kemeja frans sambil memanggilnya
"kak"
karna mendengar shira memanggilnya frans pun menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat ujung kemejanya yang di pegang oleh shira, frans menatap shira lalu menyinggungkan senyuman di bibirnya lalu bertanya
"kenapa hm?"
eh yang di tatap malah menunduk malu-malu, tanpa menatap wajah frans shira kembali bertanya
"kakak marah?"
bukannya menjawab frans malah membuka tasnya lalu mengambil satu buah pulpen dan mengulurkannya kepada shira
"pegang ini" ucapnya masih menatap pada shira
pelan-pelan shira mengangkat kepalanya lalu melihat apa yang frans ulurkan kepadanya, shira melihat satu buah pulpen, shira langsung melepas kemeja frans yang di pegang nya sejak tadi, lalu menarik pulpen itu namun tertahan karna frans juga memegangnya dengan erat, seketika mereka saling bertatapan.
shira pikir pulpen itu untuk di berikan padanya namun ternyata dirinya salah menduga, ternyata pulpen itu untuk menjadi penghubung mereka berdua
"kamu pegang ujungnya dan aku juga pegang ujungnya, kakak tidak marah.... ayo kita segera ke kamar asram mu" ucap frans menjelaskan seraya berjalan duluan membuat shira mengikutinya.
"siapa nama lengkap kamu?" tanya frans di tengah perjalanan mereka
"hah, oh itu Alexandra" jawab sedikit terkejut dengan pertanyaan Frans
"hanya Alexandra? tidak ada tambahannya seperti yang di bilang pak Harto tadi?" tanya frans lagi namun tetap berjalan tanpa menoleh ke arah shira
"iya, sejak kecil nama aku memang Alexandra, ngga ada tambahan" jawab shira masih senantiasa menunduk.
frans tak bertanya lagi, dia hanya mengangguk anggukan kepalanya, frans tak berpikir panjang dia hanya berpikir bahwa memang asistennya itu salah memindai nama shira
lagi pula mana mungkin shira punya hubungan dengan pengusaha ternama se Amerika, orang tuanya saja sudah meninggal. sebenarnya frans tadi cukup terkejut juga saat mendengar nama Alexandra Gottardo, siapa yang tidak kenal keluarga Gottardo, yaitu pengusaha ternama se Amerika, bahkan mereka telah melebarkan sayapnya di asia juga
pemandangan shira dan frans yang jalan seperti sekarang ini sangat enak di pandang, frans benar-benar menghargai Shira, bahkan banyak mahasiswa dan mahasiswi yang melihat ke arah mereka sambil menebak-nebak siapa yang bersama dengan seniornya Frans alvaro pemilik kampus ini
frans hanya berjalan dengan santai dan tidak menghiraukan hiruk-pikuk yang sedang membicarakan dirinya dan masih senantiasa memegang pulpen penghubungnya dengan shira,
sedangkan shira jangan di tanya wajah shira sekarang sudah sangat merah akibat menahan malu di perhatikan oleh mahasiswa dan mahasiswi se kampusnya itu, Untung dia berjalan sambil menunduk jika tidak mungkin semua orang akan melihat wajah merahnya yang seperti tomat itu.
__ADS_1
setelah sampai di depan gerbang asrama ternyata sudah ada Diyan, gavin, farah dan juga satya, frans pun berhenti di depan mereka, karna shira sedang menunduk jadi dia tidak melihat mereka, dia hanya terus berjalan hingga terdengar bunyi
bruk......
shira menabrak punggung frans, shira langsung sadar dan mundur beberapa langkah
mereka gavin yang melihat itu langsung saja tertawa bahkan diyan pun ikut tertawa melihat kelakuan shira
"hahahaha, kamu ngelamunin apa ra?" tanya farah di sela-sela tawanya
sedangkan wajah shira semakin merah karna di tanya seperti itu oleh farah, shira sangat malu
frans hanya tersenyum simpul
"kalian udah siap? mau kita antar sekarang? jam berapa kalian jadwal penerbangan kalian?" tanya frans bertubi
"aku mengikut shira aja" jawab diyan
pelan-pelan shira kembali mengangkat kepalanya lagi lalu menjawab pertanyaan frans
"entar aja kak, sekarang udah jam setengah dua belas nanggung, aku dan diyan mengambil penerbangan malam jam 8 karna siang tadi tiketnya udah habis " jawab shira
"owh iya aku hampir lupa, ternyata shira masih ada lomba, gimana ra apa kamu akan mengikuti lomba itu dulu? lagian kan penerbangan kita jam 8, sementara lomba itu jam 4, bandara juga tak terlalu jauh dari sini" terang diyan
"hmmm harus ya?" tanya shira kepada semuanya
"iya" jawab kompak mereka semua dengan sedikit berteriak sambil tersenyum
"yaudah deh boleh, sebentar setelah shalat ashar aku akan mengikuti lomba nyanyi dan piano itu dulu" ujar shira lalu menatap diyan dan kembali bertanya
"kamu udah baikan yan? bagaimana perasaan mu saat ini? apakah kak ashar sudah menelponmu kembali?"
"iya aku udah lumayan baikan kok, kak ashar tadi udah nelpon aku, dia nanya kita jadi pulang atau tidak, dia juga bilang bahwa dia akan menjemput kita di bandara jika kita telah sampai" walaupun raut wajah Diyan memang sudah tak seperti tadi pagi, namun shira tau bahwa diyan masih sangat terpukul oleh berita kepergian orang tua sekaligus adik-adiknya itu....
musholla kampus itu pun berbunyi menandakan sebentar lagi adzan akan di kumandangkan,
mereka ber enam pun langsung pergi menuju musholla itu bersama-sama
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
rena , yura, dan laura sekarang telah berada di dalam ruang dekan
__ADS_1
"ada apa kalian ke sini?" tanya pak Harto
"maaf pak kami ingin menanyakan tentang biodata Alexandra" jawab rena
"untuk apa?" tanya pak Harto heran
"kami hanya ingin lebih dekat lagi dengan Alexandra pak, kami ingin membuat kejutan di hari ulang tahunnya" jawab yura
"tapi dia telah mengambil cuti selama tiga bulan ke depan" ucap pak dekan membuat mereka bertiga terkejut dan bertanya-tanya mengapa shira mengambil cuti
"untuk apa alexa mengambil cuti? apakah dia hanya sendiri mengambil cuti atau berdua bersama diyan?" tanya rena bertubi
"katanya orang tuanya meninggal di kotanya, makanya dia ingin mengambil cuti, sekalian dia juga ingin menenangkan dirinya, dan dia mengambil cuti bersama dengan diyan Fauziyah" terang pak Harto
"o.. orang tua alexa meninggal pak?" tanya laura memastikan bahwa yang di dengarnya itu benar
jika orang tua alexa telah meninggal, berarti benar yang di katakan yura bahwa shira tidak ada hubungan dengan pengusaha ternama se Amerika itu
"iya" ucap dekan
"kalau begitu kami tidak membutuhkan lagi biodata Alexandra pak, kami sudah mendapat jawabannya" ucap laura lagi dengan antusias
pak Harto yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, bingung dengan mahasiswi seniornya ini,
setelah beberapa lama di dalam ruangan dekan rena, yura dan laura pun keluar dengan memasang raut wajah bahagia dan lega tak seperti raut wajah semalam yang sangat tertekan batin
"tuh kan. apa aku bilang, mana mungkin alexa ada hubungan dengan pengusaha ternama se Amerika itu, di lihat dari tampangnya saja, sudah di pastikan bahwa dia itu orang kalangan bawah alias rakyat jelata" ucap yura dengan bangganya menghina alexa
*
*
*
untuk menebus kesalahanku karna kemarin aku ngga up jadi hari ini aku up dua, dan jika aku ngga sibuk aku akan meng up satu eps lagi..
jangan lupa like, komen dan vote ya...
selamat membaca....
kapan kapan lagi ☺️☺️
__ADS_1