Bidadari Bermata Biru

Bidadari Bermata Biru
eps 63


__ADS_3

"assalamualaikum, maaf lama tadi aku sempat keliru dengan ruangan yang dokter beritahukan, jadi aku tanya suster" diyan masuk dengan membawa segulung perban


"wa'alaikumussalam warahmatullah" jawab shira dan dokter Dilla bersamaan


"ngga apa-apa, aku juga ngga ada jadwal kok setelah ini" ucap Dilla


dilla mengambil perban yang di bawa oleh Diyan lalu mengganti perban di tangan dan di perut Shira.


Diyan tadi keluar karna dilla kehabisan perban di ruangannya, Dilla sebenarnya ingin keluar untuk mengambilnya sendiri namun diyan menawarkan diri, dilla pun menjelaskan ruangan tempat diyan untuk mengambil perban, tapi karna diyan tak tahu ruangan itu ia pun meminta kepada suster yang kebetulan lewat.


"dok, apakah shira sudah bisa masuk kuliah?" tanya Diyan dengan wajah penuh harap


"mungkin sudah bisa tapi mungkin juga belum bisa, itu semua tergantung kepada shira, apakah ia merasa tangannya ini sudah bisa menulis atau belum" jawab dokter dilla yang sedang mengganti perban di bagian perut Shira


"sepertinya sudah bisa dok karna aku menulis memakai tangan kananku, jadi tak ada masalah kan?" tutur Shira menambahkan


"kalau kamu merasa sudah bisa, berarti kamu sudah bisa masuk kuliah lagi, tapi ingat luka kamu ini masih belum bisa terkena air, apalagi tusukan di perutmu ini, jangan sampai tertekan atau kamu membawa barang yang berat, ingat itu!!!!" jelas Dilla memperingati shira


"iya dok, aku akan berhati-hati" balas shira


"hmm shira mata kamu sangat indah, apakah kamu blasteran?" tanya dilla penasaran


saat shira pertama kali di bawa ke rumah sakit ini dilla berpikir bahwa mata shira di pakaikan softlens tapi setelah Shira berulang kali ke rumah sakit dilla pun yakin bahwa Shira tidak memakai softlens tapi mata aslinya memang berwarna biru, apalagi saat memperhatikan dengan jelas wajah Shira, sangat mirip orang luar atau mungkin shira l blasteran karna ia sangat lancar berbahasa Indonesia. pikir Dilla


"Syukron atas pujiannya, namun orang tuaku Indonesia asli dan aku juga berasal dari kota c, aku datang ke sini hanya untuk melanjutkan kuliahku" jawab shira tanpa sadar menyebutkan nama kota tempat ia berasal.


setelah menjawab pertanyaan dokter dilla shira langsung menunduk, ia kembali teringat kepada orang tuanya yang baru saja meninggalkannya, Diyan langsung mengelus pundak shira dan mengangguk kepada shira agar shira tak kepikiran tentang orangtuanya.


"owh jadi kamu bukan blasteran? tapi muka kamu mirip banget sama orang bule" balas dilla seperti tak percaya


"mata aku ini adalah anugrah dari Allah, aku adalah salah satu orang yang beruntung karna Allah memberikanku mata yang indah, mata dokter juga indah kok" tutur Shira mencoba tersenyum


"kamu bisa aja" ujar Dilla sedikit malu

__ADS_1


"oke selesai" sambungnya setelah selesai mengganti perban di perut dan tangan Shira


"makasih dok" ucap diyan dan shira bersamaan


"kalian ke sini naik apa? apakah kalian di antar oleh paman kalian lagi?" tanya dilla


"kami naik taksi, paman sedang ada pekerjaan kantor, ia belum pulang saat kami ke sini" jawab shira


"terus teman laki-laki kalian waktu ke sini kemana? kenapa ngga mereka aja yang mengantar kalian?" tanya Dilla lagi


"owh kak ashar dan kak Andra masuk kerja" jawab Diyan


"owh jadi mereka kakak kalian? apakah kalian saudara? tapi kalian ngga mirip, kalian juga seumuran" tanya Dilla sembari memperhatikan wajah diyan dan shira bergantian


"kami bukan saudara kandung kami saudara sepupu" jawab diyan lagi


"itu yang memakai baju kemeja kotak-kotak yang datang ke sini itu namanya siapa?" tanya Dilla malu-malu bahkan pipinya sedikit memerah


diyan dan shira saling memandang, ternyata sekian banyak pertanyaan tadi itu hanya pengalihan.


"dia kak Andra, kakak kandung aku"


"owh namanya Andra" ucap dilla sambil mengangguk-anggukkan kepalanya


"hmmm..... gimana jika kalian aku antar pulang? aku ke sini bawa mobil,. dan sebentar lagi aku akan pulang" sambungnya


"sebelumnya makasih atas tawarannya dok, tapi ngga usah tempat tinggal kami agak jauh dari sini" tolak diyan halus agar tidak menyinggung perasaan Dilla


"apakah dokter penasaran dengan kak andra? jika dokter berkenan maka berikan nomor pribadi dokter,, aku akan menyuruh kak Andra untuk berkenalan dengan dokter, siapa tahu kalian cocok, kak andra juga belum pernah dekat dengan wanita lain selain keluarga kami" tutur shira menawarkan kepada Dilla, ia seperti tahu maksud Dilla saat bertanya tentang kakaknya


"benarkah? masa laki-laki tampan seperti dia ngga punya pacar sih, aku ngga percaya" balas dilla sedikit ragu


"kami itu dilarang berpacaran, jadi kami tak pernah berpacaran, maksud saya itu jika kalian cocok maka langsung nikah aja, ngga pacaran" ucap shira lagi

__ADS_1


Dilla manggut-manggut, ia sangat salut kepada shira dan keluarganya, mereka sepertinya sangat memahami agama, Dilla langsung sedikit insekyur apakah ia sepedan dengan andra yang mungkin agama sangat jauh di atasnya? namun ia tetap menulis nomor pribadinya di kertas dan memberikannya kepada Shira


saat Dilla masih menulis nomor pribadinya di kertas telepon shira berbunyi, ia langsung mengangkatnya


"assalamualaikum Ra" ucap candra


"iya wa'alaikumussalam paman" balas Shira


"apakah kalian telah selesai? jika kalian telah selesai maka keluarlah paman ada di lobby rumah sakit sekarang" ucap candra lagi


"iya kami telah selesai paman, kami akan segera ke situ" jawab Shira


shira pun memberi tahu Dilla bahwa pamannya sekarang berada di lobi untuk menjemput ia dan Diyan.


shira dan Diyan pun pamit kepada Dilla, dengan berat hati Dilla mengantar shira dan Diyan sampai ke depan ruangannya.


Dilla sebenarnya masih ingin bercerita bersama Diyan dan shira, namun karna candra telah menjemput mereka jadi Dilla tak bisa menahan mereka.


shira dan diyan berjalan menuju lobby dengan pelan, tak bisa di pungkiri perut shira masih sakit ia berjalan, sekarang saja ia berjalan sambil di bantu oleh Diyan


"shira!! Diyan!!" ucap seseorang menepuk pundak diyan dan shira dari belakang


karena kaget diyan dan shira langsung berbalik dan melihat siapa yang menepuk pundak mereka, dan betapa kagetnya mereka berdua saat melihat farah dan satya yang masih berjalan menuju kearah mereka.


diyan dan shira pikir bahwa itu dokter Dilla namun tebakan mereka salah, yang menepuk pundaknya bukan dokter dilla namun Farah


"ka... kalian ngapain di sini? apakah kalian sakit? dan kalian kapan datang ke sini lagi? kenapa kalian tidak memberitahu kami jika sudah balik ke sini?" tanya farah dengan bertubi-tubi masih dengan wajah kagetnya


pertama tadi farah pikir ia hanya salah lihat namun saat diyan tak sengaja melihat ke samping ia pun langsung yakin bahwa itu adalah shira dan Diyan, ia langsung menghampiri keduanya dan menepuk pundaknya


"farah.. kamu ngapain di sini?" balas shira dan diyan bertanya kepada farah tanpa menjawab satupun pertanyaan Farah barusan


"ihhh kalian belum menjawab pertanyaan ku malah balik tanya,aku yang dulu bertanya jadi kalian harus menjawab pertanyaan ku dulu baru aku juga akan menjawab pertanyaan dari kalian" balas farah

__ADS_1


"itu..." baru saja shira ingin menjawab namun tertahan saat ada yang memanggil namanya dari belakang yang ternyata adalah Candra


"maaf ya rah, aku akan menjelaskan besok saat di kampus, paman kami sudah menjemput kami" ucap shira dengan terburu-buru lalu pergi meninggalkan farah dan satya yang masih bingung


__ADS_2