Bidadari Bermata Biru

Bidadari Bermata Biru
eps 68


__ADS_3

entah mengapa shira merasakan perasaan berbeda saat bertatapan dengan Alex, sebelumnya ia tak pernah seperti ini.


shira langsung menundukkan kepalanya kembali, ia takut terbuai jika terus memandang Alex. Alex pun sama ia tak malu ia hanya merasakan perasaan yang tak pernah ia rasakan, ia sebenarnya masih ingin menatap shira namun karna Shira telah menundukkan kembali wajahnya ia pun langsung pergi ke kursi tempat duduknya.


pelajaran selesai... dosen keluar setelah memberikan tugas kepada semua mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kelas.


setelah dosen keluar alex langsung gercep maju ke kursi shira bahkan ia lebih cepat daripada diyan dan farah yang duduk di samping Shira.


shira kaget saat Alex tiba-tiba saja memukul mejanya dan menatap ke arahnya


"hay girls namaku Alex" ucap alex mengulurkan tangannya


shira beru sadar ternyata namanya sangat mirip dengan laki-laki yang berada di depannya ini, ia harus menjawab apa? apakah ia harus menyebut namanya dengan nama panggilannya agar tak terdengar mirip dengannya?


shira mengatupkan tangannya di depan dada lalu berkata


"Alexa"


"wau nama kita hampir sama hanya kurang a saja" ucap Alex


shira menjawabnya dengan tersenyum simpul, lalu ia menghampiri Diyan dan farah yang telah menunggunya.


alex dan Grace pun ikut ke kantin bersama dengan diyan, shira dan Farah


setelah sampai di kantin rupanya frans, satya dan gavin telah duduk manis di salah satu meja makan


"di sini" teriak Satya melambai-lambai kan tangannya


ketiga langsung pergi ke arah satya, sedangkan alex dan Grace masih tetap mengikuti Shira.


saat shira duduk alex pun juga langsung menarik salah satu kursi dari meja makan lain lalu duduk di samping Shira membuat semaunya bingung dan kaget dengan tindakan alex yang sangat agresif

__ADS_1


"hay girls kita bertemu lagi" ucapnya sambil tersenyum manis.


shira hanya mengangguk lalu menyerong kursinya mendekat kepada Diyan


Grace tak duduk ia hanya berdiri sambil memperhatikan mereka semua, melihat grace yang tak kunjung duduk shira pun membuka suaranya dan menyuruh grace untuk duduk awalnya grace menolak karna tak enak kepada yang lain namun karna paksaan dari shira, diyan dan juga farah Grace pun duduk di pertengahan farah dan Diyan.


"kalian siapa? terus kenapa dia seperti selalu ingin berdekat dekatan dengan shi... eh Alexa?" tanya Satya sambil menunjuk alex dengan tatapan tak suka, sedangkan frans hanya diam tak berkata apa-apa, ia hanya memperhatikan shira yang tak berkata apa-apa saat alex duduk tepat di sampingnya


"owh kenalan my is Alexander, kalian boleh panggil aku Alex, dan yang berambut cokelat itu adalah Grace keluargaku" jawab alex dengan masih mencampur bahasa Inggris dan Indonesia


gavin, satya dan frans sangat kaget, ketiga langsung saja melihat ke arah shira dan Alex secara bergantian, mereka seperti menemukan sedikit kesamaan di wajah shira dan alex mungkin jika alex juga di pakaikan hijab seperti shira maka keduanya akan sedikit mirip apalagi mata mereka terlihat sama-sama berwarna biru.


frans, gavin dan satya seperti tak percaya apakah mereka saudara kembar apalagi mereka seumuran, bisa jadi


Shira tak tahu bahwa ia sedang di perhatikan, sebab ia masih fokus dengan pikirannya sendiri, ia mengingat kembali ucapan pamannya semalam, pamannya berkata bahwa ia ingin shira menikah dengan cucu feren,


*flashback onn*


tok tok tok


"masuk lalu tutup kembali" ucap Candra yang berada di dalam ruang kerja


shira masuk dengan sedikit bingung, ia berpikir tumben sang paman memanggilnya ke ruang kerja, apalagi ruang kerja pamannya kedap suara apakah ada hal yang sangat penting hingga harus di bicarakan dengan sembunyi-sembunyi tanpa di ketahui oleh para kakak-kakaknya?


"ada apa paman memanggilku kemari?" tanya shira sembari mendekati candra lalu duduk di sofa depan pamannya


Shira memang sering masuk ke ruang kerja Candra namun baru kali ini Shira benar benar memperhatikan ruang kerja ini, ruangan ini sangat rapi dan bersih Shira bertanya-tanya siapakah yang membersihkan ruangan ini apakah paman sendiri atau para kakaknya yang lain? sepertinya candra tidak mungkin membersihkan ruangan ini sendirian karna candra biasanya sangat sibuk dan tak banyak waktu di rumah


"paman ingin membicarakan hal serius denganmu" jawab Candra


"emmm apa paman?" tanya shira mulai gugup

__ADS_1


"kamu tau kan dua minggu lagi paman akan keluar negeri, namun paman sangat tidak bisa meninggalkan kalian sendirian di sini, paman khawatir kepada kalian semua jadi paman minta kepada kamu untuk menerima lamaran cucu Ferenc lionita sinaga istri direktur utama keluarga Alvaro yang dulu, yang paman pernah sebutkan saat kita di dalam mobil, paman ingin sebelum paman ke luar negeri kamu dan cucu feren sudah menikah agar paman bisa tenang meninggalkan kalian di sini karna setidaknya ada pelindung kalian di sini" ucap pamannya menjelaskan se simpel mungkin agar shira cepat mengerti


"tapi... kenapa harus aku paman? kan ira masih kuliah, ira juga baru mau masuk kuliah kembali besok" jawab Shira lirih


"karna yang paling mereka incar itu adalah kamu bukan para kakak-kakakmu, aku tidak akan tenang meninggalkanmu di sini sendirian, bagaimana jika Alfred menemukanmu di sini? paman hanya akan bisa tenang jika paman pergi kamu sudah menikah dengan cucu feren, setidaknya mereka bisa melindungi kamu, dengan kekuasaan mereka seharusnya Alfred tidak akan bisa berbuat apa-apa kepadamu, karna mereka sangat tidak bisa di singgung, mereka termaksud keluarga terkaya dan paling di takuti SE Asia, hanya keluarga Alvaro masih menyembunyikan kebenaran itu" ucap candra dalam hati


"paman.. paman... paman apakah paman baik-baik saja?" tanya shira melambai-lambai kan tangannya depan wajah pamannya


"ehh, maaf paman belakang ini banyak urusan jadi paman banyak pikiran" ujar candra kembali sadar dari lamunannya


"karna feren bilang kamu pernah menolongnya dan dia ingin sekali menjodohkan kamu dengan cucu laki-laki nya" jawab Candra


shira terdiam ia mengingat-ingat kembali apakah ia pernah menolong orang yang bernama feren?


"tapi paman, aku tidak pernah menolong orang yang bernama feren itu" tutur Shira


"feren itu orang yang kamu tolong di jalan saat ingin kembali ke sini, dan membuat kamu tertusuk dan masuk rumah sakit sayang" ujar candra menjelaskan sejelas mungkin agar shira setuju dengan ke inginannya


shira terdiam tak menjawab apa-apa, ia seperti tak bisa berkata-kata, ia tak tahu harus menjawab apa dengan lamaran yang tiba-tiba ini, apalagi saat mengingat surat yang di tulis oleh frans


*tenanglah aku tak akan mencari penggantimu, aku akan tetap menunggumu kembali ke sini*


shira berpikir apakah ia telah berdosa karna membuat frans berharap kepadanya? apa yang harus ia katakan kepada frans nanti?


"jadi gimana ra? apakah kamu mau menerima lamaran cucu feren? niat baik seseorang itu jangan di sia-siakan ra, mereka itu orang baik paman tidak mungkin menjerumuskan kamu kepada orang-orang yang tidak baik" tutur candra lagi


"hmmm paman, bolehkan aku memikirkannya dulu? sungguh aku masih sangat bingung dengan lamaran yang tiba-tiba ini Paman, biarkan aku untuk istikharah dulu selama tiga hari, setelah tiga hari ira janji akan menjawabnya paman" ujar shira sambil menunduk


melihat raut wajah tertekan Shira candra pun langsung tak tega, ia langsung berdiri dan memeluk shira lalu berkata dengan lembut


"apapun keputusanmu paman akan menerimanya, paman akan selalu mendukungmu dari belakang dan paman akan selalu melindungi mu, jangan terlalu di pikirkan"

__ADS_1


*flashback off*


__ADS_2