
setelah selesai berbicara dengan andra shira dan diyan tak kembali ke kantin lagi, diyan hanya mengirimkan pesan singkat kepada farah bahwa mereka langsung ke musholla karena adzan dzuhur telah berbunyi,
farah, frans, gavin, dan satya pun langsung pergi ke mushollah setelah mendengar farah membaca pesan dari diyan bahwa mereka tak kembali lagi ke kantin melainkan pergi ke mushollah
"sebenarnya siapa yang menelpon mereka tadi sehingga mereka harus pergi sangat jauh dari kita?" tanya gavin saat berjalan menuju ke mushollah
"aku ngga tahu tapi tadi aku sekilas melihat nama yang menelpon di hand phone shira dan nama itu tak pernah sekalipun shira atau diyan yang mengungkitnya di depanku" jawab farah
"terus namanya siapa? laki laki atau perempuan?" tanya satya yang penasaran
setelah mendengar pertanyaan satya barusan farah refleks langsung berbalik melihat kakaknya frans, namun frans tak berkata apa apa, frans hanya diam.
farah menyadari bahwa setelah frans menerima perjodohan sang oma ia cenderung sangat pendiam bahkan sama mereka pun ia akan tetap pendiam
setelah itu farah pun kembali melihat satya dan bersiap untuk menjawab pertanyaan yang di tanyakan olehnya tadi
"sepertinya laki laki karena namanya kak andra"
"benarkah? ku kira shira dan diyan tak banyak menyimpan nomor orang lain, mungkin saja itu adalah keluarganya atau tidak kakak laki lakinya" tutur satya karena tak mau membuat frans akan kepikiran oleh orang yang menelpon di hand phonenya
namun tak sesuai dugaan mereka bertiga, nyatanya setelah frans mendengar kata farah tadi, ia tak bereaksi apapun, ia hanya diam dengan raut wajah yang sangat tenang
__ADS_1
belum sempat ketiga kembali bereaksi frans sudah pergi menuju ke arah tempat wudhu karena ternyata mereka telah tiba di depan mushollah
"segitu serius kah kita saat bercerita hingga kita tak sadar bahwa kita telah sampai di depan mushollah?" tanya satya kepada farah dan gavin namun ternyata mereka juga telah pergi ke ruang wudhu menyisakan hanya dia seorang diri di depan mushollah dan berbicara sendirian, bahkan ada mahasiswi yang menertawakannya karena mereka menganggap bahwa satya sedang berbicara sendirian.
karena tak mau menanggung malu satya pun langsung segera masuk ke ruang wudhu mengikuti frans dan gavin karena ruang wudhu akhwat dan ikhwan berbeda
tak lama kemudian terdengar suara iqomah lalu semuanya serentak menunaikan shalat dzuhur berjamaah.
sementara itu wawan dan windra yang berada di kota c sedang bersiap siap karena mereka telah mendapat kabar bahwa shira dan diyan berada di ibukota j, mereka berencana untuk berangkat besok pagi ke ibukota j karena kabar yang wawan dapat dari anak buahnya mereka sampai saat ini belum mendapatkan alamat tempat shira dan keluarganya tinggal.
wawan harus gerak cepat sebelum alfred kembali menelponnya, ia ingat betul saat alfred menelponnya dan mengancamnya akan menghancurkan semua perusahaan miliknya jika ia tak cepat menangkap shira dan diyan.
sebenarnya wawan juga tak tahu mengapa alfred sangat ingin menangkap shira dan diyan karena setahu wawan shira dan diyan adalah anak yang teladan dan mereka juga sangat jarang berkomunikasi dengan orang yang tidak di kenalnya, bahkan wawan sampai heran dan kaget saat mendengar target alfred adalah shira dan diyan.
pada saat pemilik perusahaan perusahaan yang cukup besar di amerika mendengar bahwa perusahaan gottardo dan perusahaan franklin bersatu mereka langsung gempar bahkan tak ada yang bisa mengganggu perusahaan franklin lagi, bahkan para media indonesia dan amerika juga sangat berantusias saat mendengar dua perusahaan terbesar se amerika bersatu.
.....................
shira, diyan dan farah telah selesai shalat, dan mereka pun sedang melipat dan merapikan kembali mukena yang telah mereka pakai
"ra......." panggil farah namun setelah ia memanggil nama shira ia tak berkata apa apa lagi melainkan menatap shira dengan tatapan yang sulit di artikan
__ADS_1
shira berbalik menatap farah, shira ingin bertanya mengapa farah memanggilnya namun ia urungkan karena saat ini diyan menariknya keluar bersama dengan farah.
shira dan farah hanya menatap diyan dengan ekspresi bingung.
saat mereka sampai depan pintu mushollah diyan melepas genggaman tangannya kepada shira dan farah.
lalu ia berkata dengan sedikit berbisik namun masih bisa di dengar oleh farah "ra, setelah shalat tadi aku sekilas melihat ada pesan yang dikirimkan oleh paman di hp kamu"
shira tak menjawab ia langsung mengambil hpnya lalu membuka aplikasi whats up untuk melihat pesan apa yang di kirim oleh pamannya kepada dirinya
"apakah kalian telah selesai kelas? kebetulan paman ada di masjid dekat kampus kalian, jika kalian telah selesai kelas paman ayo kita ke perusahaan paman dulu setelah urusan paman selesai baru kita akan pulang ke rumah, jujur saja paman sangat khawatir kepada kalian berdua"
candra sekarang sedang berada di dalam mobil rolls royce miliknya yang berwarna hitam di samping gerbang kampus shira, ia menatap layar hpnya menunggu balasan pesan dari shira namun sejak tadi shira tak membalas pesan whats upnya, tapi saat candra ingin menyimpan hp miliknya ia melihat layarnya nyala, rupanya itu adalah balasan pesan dari shira ia pun segera membuka pesan itu "iya paman kami hari ini tidak ada kelas tambahan, paman ada dimana? apakah paman masih berada di masjid dekat kampus?"
candra langsung segera membalas pesan itu " oke kalau begitu kalian segera keluar, paman sedang berada di samping gerbang kampus kalian, paman memakai mobil paman warna hitam yang biasa paman pakai"
saat shira melihat balasan pamannya ia pun langsung mengatakan kepada diyan bahwa paman candra sedang menunggu di samping gerbang kampus. di saat yang bersamaan satya yang melihat farah, diyan, dan shira terus berdiri di samping pintu keluar mushollah ia tak tahan dan langsung memanggilnya dan bertanya kepada farah
"rah... kalian ngapain berdiri di situ terus?"
ketiganya langsung serentak berbalik memandang ke arah suara yang memanggil, serentak ketiga melihat wajah kebingungan frans, gavin, dan satya, saat melihat ekspresi mereka yang seperti itu ketiga langsung serentak tersenyum
__ADS_1
lalu setelah itu shira, diyan dan farah pun menghampiri frans, gavin dan satya yang berada di depan mushollah
setelah semuanya berkumpul bersama shira pun langsung pamit kepada ketiganya bahwa ia dan diyan akan pulang duluan sebab ada urusan yang harus mereka kerjakan segera, shira sengaja tak mengungkit soal pamannya karena ia tak boleh berbicara kepada teman-teman nya bahwa ia telah ke sini bersama keluarganya tanpa se izin dari pamannya, apalagi saat mengetahui bahwa wawan dan windra akan ke sini.