Bidadari Bermata Biru

Bidadari Bermata Biru
eps 37


__ADS_3

diyan sekarang masih berkutat dengan masakannya, diyan memasak sop ayam, cah kangkung, tempe goreng tepung, perkedel tahu, dan cumi asam manis


"kak, mangkok besar ada nggak, untuk tempat aku pindahin sopnya?" tanya Diyan kepada gavin namun tidak memalingkan pandangannya, diyan masih tetap mengaduk sop yang sedikit lagi akan masak


"oke kakak ambil dulu ya," ucap gavin lalu memajukan badannya ke arah diyan, lalu setelah sampai tepat pas di belakang diyan, gavin langsung mengambil mangkok lemari atas kepala diyan


diyan yang merasa ada badan kekar di belakangnya refleks langsung membalikkan badannya ke arah badan tersebut, diyan sontak kaget melihat dada bidang gavin di depannya yang terus di majukannya untuk mengambil mangkok seperti perintah diyan tadi


karna malu akhirnya wajah diyan langsung merah seperti tomat, diyan ingin pergi keluar dari dada bidang gavin, namun tertahan oleh gavin karna ia telah berhasil mendapatkan mangkok itu dan menyimpannya di atas meja tempat diyan masak,


posisi mereka sekarang sangatlah ambigu, hingga jika ada yang melihatnya mereka, pasti akan salah paham,


tangan gavin berada di belakang diyan sedangkan diyan berada di tengah-tengah tangan gavin,


"ini mangkoknya" ucap gavin masih setia mempertahankan posisinya depan diyan


"iya makasih, sekarang kakak bisa mundur" ujar diyan tegas, diyan merasa ini tidak benar, dia tidak boleh seperti ini dengan seseorang yang bukan mahramnya, apa kata orang jika mereka melihat mereka seperti ini


gavin mendengar suara diyan yang sepertinya marah, langsung saja mundur beberapa langkah menjauh dari diyan


"maaf" ujar gavin merasa bersalah


"hmm" balas diyan, lalu setelah itu dia langsung memindahkan sop ayam ke wadah yang di ambil gavin tadi,


dengan sangat hati-hati diyan memindahkan sopnya, diyan memindahkan ayamnya dulu baru setelah itu kuahnya


setelah semua masakan selesai, dan sudah tertata rapi di meja, diyan pun langsung membersihkan dapur, mencuci semua peralatan yang di pakainya tadi, tidak lupa selalu ada gavin yang membantunya, seperti sekarang ini, gavin yang bahkan belum pernah sekali pun mencuci piring, sekarang sedang membantu diyan mencuci piring dengan hati-hati


"udah kak biar aku aja, ini tinggal dikit kok, kakak duluan aja ke atas, aku udah tau jalannya tadi" ujar diyan masih sedang mencuci piring dengan talenta


"yaudah kakak tunggu kamu di meja makan, sekalian siapin makanan untuk shira" ucap gavin lalu melepaskan piring yang di pegang nya lalu pergi menuju meja makan


"kak, untuk makanan shira siapin nasi sama sop aja" ucap diyan di sela-sela cuci piringnya, gavin yang mendengar itu membalas diyan dengan mengatakan "oke"


setelah diyan selesai mencuci piring, dia langsung pergi menghampiri gavin di meja makan yang sedang menunggunya,


diyan melihat gavin membaringkan kepalanya di atas meja dengan menjadikan tangannya sebagai bantal

__ADS_1


diyan segera mendekatinya


"kak aku udah selesai, ayo naik ke atas udah mau shalat subuh" ucap diyan membuat gavin membangunkan kepalanya melihat ke arah sumber suara.


"oke" balas gavin singkat


mereka berdua pun kembali naik ke atas untuk membawakan makanan shira


namun setelah sampai di atas betapa kagetnya diyan melihat farah yang sedang memeluk shira yang sedang menangis sesugukkan


"ada apa ini" ucap diyan mengagetkan farah, shira dan frans, mereka bertiga pun akhirnya berbalik melihat ke arah suara


"yan" ucap shira dengan suara parau


"kenapa, ada apa ini? kenapa shira menangis?" tanya Diyan dengan sangat khawatir,, melihat shira menangis dan di peluk oleh farah


flashback


setelah kepergian diyan dan gavin tadi, shira langsung teringat oleh kakaknya, dia pun menanyakan tasnya kepada frans, shira ingin mengambil hpnya, dia takut kakak-kakaknya akan menghubunginya


"kak tas aku dimana ya?" tanya shira


"boleh kalau tidak ngerepotin kakak" ujar shira


"oke kamu tunggu di sini dan jangan kemana-mana" ucap frans dijawab anggukan oleh shira


frans turun untuk mengambil tas Shira yang berada dalam mobilnya, namun frans melewati meja makan, dia melihat gavin melakukan hal yang menurutnya tak pantas,. diyan adalah wanita Sholehah seperti shira, dan diyan pasti tidak akan mau jika di sentuh sama yang bukan mahramnya, apalagi sekarang tangan gavin berada di belakang diyan, dan diyan berada di tengah himpitan tangan gavin, terlihat jelas bahwa Diyan sangat risih dengan posisinya itu


frans oun berniat untuk menghampiri mereka berdua, namun dia urungkan setelah dia melihat gavin mendur karena ucapan tegas yang keluar dari bibir diyan...


frans pun langsung melanjutkan jalannya menuju ke arah mobilnya, lalu mengambil tas milik shira...


setelah sampai di atas frans kaget melihat sudah ada farah yang duduk sedang bercerita dengan shira


saat kepergian frans tadi, farah datang ke kamar frans karna farah sempati mendengar ada yang ribut di kamar tersebut,farah sangat kaget saat melihat shira yang tengah duduk dengan lemasnya di atas ranjang frans,,,


melihat farah masuk, shira pun menjelaskan semua tentang mengapa dia ada disini kepada farah,, namun Shira tidak mengatakan tentang para preman semalam, shira hanya mengatakan dengan singkat bahwa dia dan diyan tersesat, saat ingin kembali pulang lalu bertemu dengan perampok, dan mereka berdua akhirnya menelpon frans dam gavin,,

__ADS_1


melihat penampilan shira yang sekarang, farah pun merasa bersalah, tidak seharusnya semalam dia membiarkan shira dan diyan pulang berdua,...


frans mendekat ke arah shira dan farah lalu memberikan tas yang di ambilnya tadi kepada shira


"Ini" ucapnya seraya memberikan tas itu kepada shira


"makasih kak" ucap shira


lalu shira pun membuka tasnya dan mengeluarkan handphonenya,. betapa kagetnya dia melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari kakak-kakaknya, shira kemudian mengeluarkan handphone diyan juga, di sana shira juga melihat banyak panggilan dari sanga kakak


shira pun langsung menelpon balik sang kakak, tak lama kemudian sinta pun mengangkat telponnya


"halo assalamualaikum ra" ucap sinta dengan suara parau, seperti orang yang telah lama menangis


"wa'alaikumussalam warahmatullah, kakak kenapa? kalian ngga papa kan?" tanya shira panik,


"ra, hiks hiks, ra..... ra umi sama abi ra" ucap sinta dengan gagap membuat shira semakin panik apalagi saat mendengar di situ sepertinya ada kakak pertamanya, amanda yang juga ada di samping sinta namun dia sedang nangis


"umi sama abi kenapa kak? jangan buat aku panik, kenapa dengan mereka, apakah telah di temukan?" tanya shira mendesak tak sabar


"umii..... umii sama abi jasadnya telah di temukan, dan mereka akan dikebumikan besok pagi jam 9 bersama dengan jasad orang tua dan adik-adik diyan" ucap sinta gagap seakan tak sanggup untuk berbicara


Dorrrrr......


shira membeku di tempat, tak berbicara tak bergerak lagi, matanya menatap kosong ke depan


shira yang mendengar kata jasad dari sang kakak langsung tak bisa berbuat apa-apa, bahkan bernafas pun sangat susah,


frans dan farah melihat shira berubah seperti itu langsung kaget, namun mereka tidak bersuara karena mereka pikir ini masalah serius jadi mereka membiarkan dulu shira berbicara dengan seseorang dalam telpon itu


jasad, jasad, itu berarti umi sama abi benaran telah meninggalkan kami? umi abi ira belum siap, kenapa mendadak dan secepat ini ya Allah,


ucap shira menjerit dalam hati


namun setelah shira mendengar sang kakak yang terus saja menangis di telepon, shira pun langsung menguatkan hatinya dan mencoba untuk terdengar baik-baik saja oleh kakaknya, shira juga memberi nasehat kepada sang kakak


"kak ingatlah kata umi dan abi, takdir semua orang itu telah di tulis di lauh Mahfudz bahkan beribu-ribu tahun sebelum orang itu lahir, jadi kita harus bisa menerima kenyataan, dan mencoba menerima semua ini" ucap shira menangkan sinta yang terus menangis berdampingan dengan amanda sang kakak pertama,

__ADS_1


bahkan anak amanda oun ikut menangis saat melihat uminya menangis sangat kencang


__ADS_2