Bidadari Bermata Biru

Bidadari Bermata Biru
eps 62


__ADS_3

Arisa yang memang ada di rumah langsung menuju ke kamar ibu mertuanya saat ia di beritahukan oleh para pelayan bahwa feren pingsan.


arisa langsung memanggil ben supir yang biasa mengantarnya lalu membawa feren ke rumah sakit pradana A.k


dalam perjalanan menuju rumah sakit arisa langsung menelpon fandi dan memberitahukan keadaan feren saat ini, arisa menceritakan kepada fandi sambil menangis karena khawatir dengan keadaan feren.


fandi tak bisa berbuat apa-apa ia juga sama khawatir nya dengan Arisa, fandi hanya bisa mencoba menenangkan arisa dengan berkata bahwa ia akan segera datang ke rumah sakit untuk menyusulnya,


arisa juga menelpon frans dan Farah agar mereka menyusul ke rumah sakit jika mereka sudah tak ada kelas.


dan disinilah mereka semua berkumpul, satu keluarga ini dengan tegangnya menunggu dokter keluar dari dalam ruangan, agar bisa menanyakan keadaan feren


tak lama kemudian pintu ruangan terbuka semuanya orang langsung berdiri


"gimana keadaan mami saya dok?" tanya fandi dengan sangat khawatir sedangkan yang lain hanya diam menunggu jawaban sang dokter


"untuk sekarang pasien baik-baik saja, untung saja kalian membawanya tepat waktu, jika tidak saya ngga tahu apa yang akan terjadi kepada ibu anda, dan saya ingatkan kepada anda agar ibu anda tidak banyak berpikir apalagi marah-marah", jawab dokter itu


"iya dok,. makasih ya dok" ucap fandi setengah membungkuk

__ADS_1


dokter itu pun pergi, sedangkan feren sekarang telah di pindahkan di kamar VVIP karna sebenarnya rumah sakit yang mereka datangi adalah rumah sakit milik ayah Satya.


fandi tak berani masuk ke dalam kamar omanya, ia sangat merasa bersalah karna frans pikir omanya kumat karna ia menentang kemauan omanya untuk menikahi wanita yang menolong omanya tempo hari.


"udahlah, lo ngga usah salahin diri lo sendiri, lagian oma lo juga udah ngga apa-apa kan, jadi lo ngga usah terlalu khawatir kaya gitu" ucap gavin berusaha menenangkan Frans


satya dan gavin memang ikut datang ke rumah sakit untuk menemani farah dan frans. gavin sekarang berada di luar karna sedang menemani Frans sekaligus menghiburnya agar frans tak terlalu merasa bersalah, sedangkan satya sejak tadi sudah masuk ke dalam kamar feren bersama dengan farah, fandi dan Arisa


"atau gue terima aja kali ya tawaran oma, menikah dengan wanita yang telah menolong oma?" tanya frans tiba-tiba membuat gavin kaget


"percuma Frans, lo hanya akan tertekan dan juga sakit hati karna menikah dengan orang yang tidak lo cintai" jawab Gavin menatap frans dengan tatapan yang dalam.


gavin seperti dapat merasakan perasaan frans, ia, frans dan satya sudah sangat lama bersahabat jadi mereka sangat dekat hingga seperti saudara.


"jika memang itu adalah keputusan lo, gua akan dukung pokoknya gue akan selalu dukung apapun keputusan lo" ujar gavin sembari merangkul bahu frans


"mending kita cari musholla, udah lewat shalat ashar sejak tadi, sekalian lo shalat istikharah juga siapa tahu dapat petunjuk, jangan sampai hari ini lo nerima perjodohan itu dan besok shira masuk kampus, lo kan bingung harus pilih yang mana, jika bisa lo bisa milih dua-duanya sih bagus ini... lo harus milih salah satu antara oma lo dan cinta lo Shira" sambungnya panjang lebar membuat frans menatapnya sinis dan melepaskan rangkulan tangannya lalu berjalan dengan kesal mencari musholla.


gavin pun segera mengejar temannya itu, namun saat ia belum jauh dari tempatnya tadi, ia melihat sesosok yang sangat ia rindukan bahkan selalu ia pikirkan selama tiga bulan terakhir ini, siapa lagi kalau bukan Diyan.

__ADS_1


gavin mematung seperti tak percaya, apakah benar yang di lihatnya barusan adalah Diyan? namun sepertinya dia ngga akan salah lihat, tapi.... jika benar itu diyan apa yang diyan lakukan di rumah sakit ini, rumah sakit ini termaksud rumah sakit termahal di ibukota j ini, selama ini ia hanya mengenal bahwa diyan adalah orang dari kalangan biasa biasa saja bukan kalangan menengah apalagi kalangan atas.


pikiran Gavin sekarang di penuhi tentang pertanyaan pertanyaan tentang Diyan, gavin berniat untuk pergi mengejar Diyan namun ia langsung tertahan saat frans menarik kerah bajunya dari samping


"mau kemana lo?" tanya frans dengan nada kesalnya


"frans ayo kita ke sana, aku ingin memastikan bahwa yang aku lihat barusan itu Diyan" jawab Gavin tak sabar lalu mengajak frans ke tempat dimana ia melihat diyan tadi


"lo bicara apa sih? maksud lo memastikan bahwa yang lo lihat diyan itu apa? apa yang diyan lakukan di sini, lo pasti salah lihat karna lo sudah sangat bucin kepadanya" ucap frans menghentikan langkahnya mengikuti gavin


"benaran frans aku melihat diyan tadi berjalan di sini, gua ngga bohong dan gua ngga mungkin salah lihat" ujar gavin mencoba mencari Diyan


"jika memang yang lo lihat itu adalah Diyan, menurut lo apa yang dia lakukan di sini?" tanya Frans


"mungkin dia menjenguk atau mengantar keluarganya yang sedang sakit" jawab gavin masih belum menyerah mencari diyan


"heh!!! lo lupa Diyan itu hanya mengenal shira saat pertama datang ke sini, keluarganya aja bukan di sini, ngapain dia datang ke rumah sakit ini coba" jelas frans


"gua yang dilema lo yang ngehalu, lagian diyan itu kemana-mana selalu bersama Shira, jika tadi lo lihat mereka berdua maka gue mungkin akan percaya, ini lo lihatnya hanya diyan ngga ada Shira, jadi gue mana percaya" sambungnya lagi lalu pergi meninggalkan gavin yang masih mencari keberadaan Diyan

__ADS_1


gavin terdiam benar juga yang di katakan oleh frans, diyan biasanya pergi kemana-mana itu pasti bersama dengan Shira, mungkin benar yang dikatakan oleh frans ia sepertinya hanya salah lihat karna ia sudah terlalu merindukan.


gavin pun dengan lunglai mengikuti frans pergi ke musholla, dalam perjalanan ia masih berpikir tentang diyan, ia sangat jelas melihat bahwa itu adalah diyan cara berjalan, wajah, dan cara berpakaiannya itu semua menyamai Diyan, apakah ia memang hanya salah lihat atau benar itu adalah Diyan? gavin tak mengerti apakah ia sangat merindukan Diyan sampai-sampai ia membayangkan orang lain menjadi Diyan?


__ADS_2