
shira sedang berjalan menuju ruang dekan bersama dengan Frans, setelah lelah menangis dan berpelukan di rumah frans tadi.
mereka ber lima langsung ke asrama tempat farah, diyan, dan shira tinggal. sebenarnya Farah yang akan menemani shira untuk ke ruang dekan untuk meminta izin cuti, namun shira melarangnya karena khawatir kepada diyan yang masih lemas akibat guncangan yang di dapatnya usai sarapan di rumah Farah, farah menurut dia akhirnya hanya membantu diyan memberaskan barang-barangnya beserta barang-barang shira yang akan mereka bawa pulang.
alhasil frans menawarkan diri untuk menemani shira pergi melapor keruang dekan
tibalah shira dan frans di depan ruang dekan, shira sangat gugup, shira takut bahwa ia tidak akan di izinkan untuk meminta cuti selama tiga bulan apalagi ini baru beberapa minggu setelah masuk awal semester tiga
"tenanglah ada aku, semua akan baik-baik saja" ucap frans menenangkan Shira, lalu menatap mata biru shira dalam
shira mendengar pelunturan frans refleks langsung mengangkat kepalanya menatap frans, mata mereka pun terkunci selama beberapa saat hingga mereka di kagetkan dengan pak dekan yang datang entah dari mana
"kalian ada apa ke ruangan saya?" tanya dekan kepada frans dan shira,
"jika ada hal yabg penting maka masuklah ke dalam" sambungnya lagi mendahului mereka berdua, lalu masuk ke dalam ruangannya
shira dan frans pun mengikuti pak dekan masuk ke ruangannya
"silahkan duduk" ucap pak Harto menunjuk sofa yang ada dalam ruangan
shira dan frans duduk bersampingan sedangkan pak Harto duduk di depan mereka
"jadi begini pak, saya datang ke sini karna saya dan diyan ingin meminta izin untuk cuti selama tiga bulan apakah boleh?" tanya shira dengan wajah serius
frans langsung kaget mendengar itu, ia memang tau shira dan diyan akan mengambil cuti, namun dia tak mengira bahwa selama tiga bulan, tiga bulan bukanlah waktu yang singkat
sebelum menjawab pak Harto menatap frans dulu, pak Harto tau pasti shira ada hubungannya dengan anak dari sang pemilik kampus ini, makanya dia ingin meminta tanggapan Frans.
frans hanya mengangguk pasrah, dia tau shira pasti sangat terpukul atas kepergian orang tuanya dan juga orang tua diyan, makanya dia meminta cuci selama itu
__ADS_1
melihat anggukan frans pak Harto pun kembali bertanya
"kalau boleh saya tau kenapa kamu ingin mengambil cuti selama itu?
"orang tua saya dan orang tua diyan meninggal pak, jadi saya akan pulang sekalian saya ingin menenangkan diri dulu di sana selama beberapa bulan jika bapak mengizinkan" jawab shira lalu menunduk, shira takut dia akan menjatuhkan air matanya lagi, entah mengapa shira tak bisa menahan air matanya jika menyebut orang tuanya
"udah kamu yang sabar ya, semua pasti ada hikmahnya" bisik frans menenangkan shira
"ya sudah kalau itu memang ke inginan kalian" ucap dekan
"mana surat cuti kalian?" tanya dekan lagi
shira mengangkat wajahnya, dia lupa membuat surat cutinya dan juga diyan
"maaf pak aku belum membuatnya" jawab shira
"ya sudah kalau begitu kalian ke BAAK dulu untuk mengurus surat cuti kalian" suruh dekan
sebenarnya perihal masalah cuti bukan melapor pada dekan, namun frans ingin mengambil jalan mudah agar tak berbelit-belit dan harus melapor ke prodi atau sebagainya
panjang umur, setelah frans berkata pintu langsung saja di ketuk oleh seseorang yaitu asisten frans yang bernama Riki,
Riki berjalan ke arah mereka bertiga sambil membawa dua lembar kertas, yaitu kertas cuti shira dan diyan lalu memberikannya langsung kepada dekan
"silahkan di lihat pak" ucapnya lalu mundur beberapa langkah. shira langsung berdiri dan mengucapkan terimakasih dengan sedikit membungkukkan badannya, dijawab dengan anggukan oleh Riki lalu dia kembali keluar saat melihat bosnya melambaikan tangannya
pak Harto melihat dua kertas itu, tertulis nama Diyan Fauziyah dan Alexandra Gottardo, dekan mengedip ngedipkan mata memastikan bahwa dia tak salah melihat nama. namun sama saja setelah beberapa kali mengedip ngedipkan mata tetap tak merubah nama itu
"Gottardo? bukankah itu nama marga keluarga pengusaha ternama di amerika sana? mengapa bisa tertera jelas di sini? apakah hanya kebetulan? atau memang dia ada hubungannya dengan pengusaha ternama di Amerika?" pak dekan bertanya-tanya dengan dirinya sendiri, dia tak berani bertanya kepada shira maupun Frans, dia hanya memasang raut wajah terkejut dan bingung
__ADS_1
melihat raut wajah dekan yang terkejut sekaligus bingung shira dan frans pun tidak tahan untuk bertanya
"apakah ada masalah pak" ucap mereka bersamaan
pak Harto langsung tersadar, namun bukannya menjawab dia langsung menatap shira intens seperti menyelidik.
shira yang di tatap seperti itu merasa risih, dia hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah frans ingin meminta bantuan agar pak Harto tak menatapnya lagi
"maaf apakah ada masalah?" frans kembali Dengan suara yang tegas dan mengintimidasi
pak Harto yang mendengar suara langsung sadar dan menoleh ke arah frans, benar saja frans telah menatapnya dengan tajam, pak Harto hanya bisa menunduk dan meminta maaf atas kebodohannya
"maaf saya tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin memastikan apakah benar nama mahasiswi yang ada di depan saya ini adalah Alexandra Gottardo?" tanya dekan dengan menunduk merasa takut dengan tatapan elang Frans
"maaf pak tapi nama saya hanya Alexandra, tidak ada tambahan Gottardo" sanggah shira membenarkan namanya
"namun di sini tertulis bahwa nama kamu Alexandra Gottardo" ucap pak Harto lagi masih Keukeh
"mungkin asisten saya salah memindai nama, kita tinggal hapus saja Gottardo di belakangnya" dengan suara beratnya, entah kenapa frans sangat marah melihat dekan yang berdebat dengan shira,
"owh baiklah, saya akan segera memberikan stempel" ucap dekan mengalah lalu pergi ke mejanya lalu mengambil stempel kampus dan menindisnya di surat cuti shira dan diyan
setelah mendapatkan stempel pak Harto segera memberikan dua kertas itu kepada shira namun malah frans yang menariknya membuat pak dekan itu hanya memasang wajah bersalahnya
"terima kasih pak, kami keluar dulu" ucap frans namun dengan suara yang tidak ramah
frans lalu mengajak shira untuk keluar ruangan itu secepatnya,. frans sangat marah saat pak Harto menatap shira seperti tadi, apalagi dia sampai mendapat tatapan shira yang seperti risih di tatap seperti itu.
sebelum sampai benar-benar keluar dari ruangan itu frans kembali berbicara dengan tegas
__ADS_1
"sebaiknya anda jaga sikap anda, jangan sampai saya melihat untuk kedua kali perilaku anda tadi, anda pasti tau akibatnya"
pak Harto hanya bisa meminta maaf, dia tidak akan mampu melawan frans anak pemilik kampus sekaligus anak pengusaha ternama di ibukota ini