
shira sekarang sedang duduk di sofa ruang tamu yang tak jauh dari meja makan, shira menatap semua orang yang sedang ingin sarapan, yaitu gavin, diyan, frans, farah dan juga orang tua mereka
sebelum shalat subuh shira telah makan jadi shira memilih untuk pergi duduk di sofa ruang tamu sambil memperhatikan mereka semua
shira menatap mereka dengan sedikit senyuman, shira melihat diyan yang tersenyum malu-malu akibat terus-terusan di puji karena masakannya begitu enak dan pas di lidah
setelah selesai makan Diyan ingin mengambil semua piring lalu pergi mencucinya namun di tahan oleh mami farah.
mami farah Langsung memanggil pelayan untuk membersihkan meja makan
setelah itu mereka berlima pergi menghampiri shira yang sedang duduk di sofa, seakan dia sedang nonton padahal dia hanya menatap kosong tayangan tv itu.
sedangkan ayah frans telah pergi ke kantornya
karna mendengar suara diyan yang tertawa lepas membuat shira mengalihkan pandangannya ke diyan, shira melihat diyan yang tertawa sangat bahagia karena bercanda dengan farah dan sedang ke arahnya.
"ya Allah jangan hilangkan tawa di wajah diyan ya Allah, aku serasa tak sanggup untuk memberitahunya sekarang ya Allah, serasa aku akan merenggut raut bahagia itu setelah aku memberitahu kepadanya tentang kedua orang tuanya" ucap shira dalam hati sampai menjatuhkan air matanya
"kamu kenapa ra?" tanya diyan yang baru sampai dan duduk di samping shira
tanpa aba-aba shira langsung memeluk erat diyan, sangat erat bahkan tak ingin melepaskannya, shira bingung apakah dia akan sanggup memberitahu diyan dan melihat diyan yang akan menangis di depan matanya.
perlakuan shira itu membuat semua mata yang melihatnya menjadi keheranan, termaksud mami farah
__ADS_1
"hmm yan, ciri-ciri orang yang di sayang oleh allah itu bagaimana ?" tanya shira mengulangi percakapannya yang kemarin bersama sinta di kantin dan masih senantiasa memeluk diyan dengan tidak menghiraukan yang lain
tanpa banyak bertanya diyan langsung saja menjawab
"ciri-ciri allah menyayangi hambanya adalah, Allah akan selalu memberi hamba yang di sayangnya itu dengan banyak cobaan, Karena dengan cobaan itu Allah tau siapa yang selalu menyebut namanya Walau sesulit apapun cobaan yang di terimanya" jawaban diyan sama persis dengan jawaban shira saat menjawab pertanyaan sinta
"lalu bagaimana jika Allah memanggil hambanya untuk menghadap dirinya" tanya shira lagi
"hmm berarti waktu hamba yang di panggilnya itu untuk hidup dan beribadah kepada Allah sudah selesai dan allah ingin cepat-cepat hambanya untuk menghadap kepadanya dan allah sudah sangat menyayangi hamba itu" seperti yang di harapkan jawaban diyan sama persis dengan jawaban shira lagi
"berarti allah sudah sangat mencintai bibi, paman, dan adik-adik kamu kan yan, makanya dia memanggil mereka secepat ini" ucap shira masih berusaha membuat suaranya tetap tenang
diyan langsung melepas pelukan Shira lalu bertanya
"saat pergi ziarah mobil yang di tumpangi mereka masuk jurang dan meledak, tidak ada satu pun yang selamat, dan jasad mereka baru di temukan tadi subuh, termaksud jasad umi dan abi" ucap shira dengan suara yang kecil namun masih terdengar di telinga diyan bahkan frans, gavin, farah, dan juga maminya kaget mendengar ucapan shira barusan
diyan belum merespon apapun dari perkataan shira barusan, dia hanya diam membeku saja tanpa mengatakan apa-apa, seketika badan diyan langsung lemes dan tak bertenaga, diyan menatap kosong lalu menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras
shira yang melihat itu langsung kembali memeluk diyan, setelah itu shira merasa pundak diyan bergetar, shira tau diyan sekarang sedang menangis walaupun dia tak mengeluarkan suaranya
"ngga ra, ini ngga mungkin ra, bilang sama aku ra bahwa semua itu itu ngga benar, apa yang kamu katakan tadi hanya bercanda... ayo katakan ra" ucap diyan memilih untuk tidak percaya, walaupun sebenarnya dia tau shira tidak akan pernah bercanda soal seperti ini, apalagi orang tua mereka
"yan kamu tau jawabannya, kamu harus tenang jangan sampai kamu kebawa emosi" ucap shira dengan suara yang di buat selembut mungkin agar diyan tenang
__ADS_1
"seharusnya dulu kita ngga usah kuliah di sini kan ra, jika kita tidak kuliah di sini maka kita ngga akan bertemu dengan kak frans, kak Gavin, farah dan kak Satya terus kita juga ngga akan ketemu kak rena dan teman-temannya, mereka juga ngga akan ngebuli kita gara-gara kita dekat dengan kak frans dan kak gavin, mungkin kejadian tadi malam juga ngga akan mungkin terjadi dan juga kita akan ada bersama mama dan papaku terus kamu juga bersama umi dan abi mu di saat-saat terakhir mereka" ujar diyan mengeluarkan semua unek-unek dalam dirinya menyalahkan dirinya mengapa dulu ia datang berkuliah di ibukota ini
seketika wajah frans dan gavin berubah saat mendengar pelunturan diyan barusan, wajah mereka langsung berubah merah akibat menahan kemarahan
"berani-beraninya kalian membulli shira dan diyan, bahkan kalian sampai berani berbuat keji seperti semalam, tunggu pembalasan kita" ucap frans dan gavin dalam hati
"yan, kamu ngga boleh bilang kaya gitu, semua orang itu udah di tuliskan jalan hidup mereka, kamu ngga boleh menyalahkan diri kamu, kita bisa menangis tapi kita ngga boleh meratapi apalagi menyalahkan diri sendiri, semua orang itu sudah ada jalan takdirnya masing-masing, istighfar yan, istighfar" ucap shira menepuk-nepuk bahu diyan
"sebentar kita pulang ke kota, kak sinta, kak amanda, kak andra, dan juga kak ashar udah menunggu kita di sana, in Syaa allah besok pagi jam sembilan jasad orang tua kita di kebumikan, aku juga udah memesan tiket untuk keberangkatan kita" sambungnya lagi
"kalian mau kemana?" tanya farah yang juga sedang menangis akibat mendengar ucapan shira dan diyan
"kalian kenapa ngga ngasih tau aku atau kak frans kalau kalian di buli, kami pasti akan membantu kalian bahkan kalau perlu aku akan mengeluarkan mereka dari kampus" sambung farah merasa bersalah lalu duduk di samping diyan dan juga memeluk diyan
"ngga usah ra, kami akan pulang ke kota asal kami, tentang kita pulang dengan tidaknya ke sini itu semua tergantung takdir" ujar shira
"maksudnya bisa jadi kalian ngga akan balik ke sini lagi?" tanya farah sedih di jawab dengan anggukan oleh shira
"kalian kok tega ninggalin aku, aku di sini sama siapa dong terus kalau aku akan meminta nasehat tentang agama kepada siapa? bertanya tentang hal-hal agama yang belum aku pelajari kepada siapa? terus siapa teman aku kalau aku ingin curhat?" ucap farah dengan berbagai pertanyaan sambil menangis
"kamu masih mempunyai banyak teman kok, kamu mempunyai kakak kmu, orang tua kamu, kak gavin dan kak satya, kamu bertanya aja sama mereka" jawab shira dengan sendu
shira tak tau harus berbuat apa, karna shira tak tau apakah ke depannya dia bisa kembali ke sini atau tidak, itu semua tergantung takdir, kita hanya mengikuti alurnya saja
__ADS_1