
Farah sangat gembira saat mengetahui ternyata shira telah kembali ke ibukota J lagi, apalagi saat mendengar bahwa shira akan masuk kuliah besok, ia sangat senang dan ingin memberitahukan kepada frans dan juga gavin, saking senangnya ia sampai lupa bahwa ia telah meninggalkan Satya di belakang.
dengan perasaan gembira farah mendorong pintu kamar omanya, ia akan memberitahu kepada semuanya bahwa shira telah kembali agar omanya tak lagi menjodohkan frans dengan wanita itu.
saat farah sampai ia melihat raut wajah omanya sangat senang sedangkan frans dan gavin seperti tertekan dan seperti sedang menyembunyikan sesuatu karna terlihat sangat jelas bahwa keduanya seperti memaksakan senyuman mereka
"ini ada apa?" tanya farah mendekat kepada gavin dan kakaknya karna orangtuanya telah pulang untuk mengambil keperluan omanya yang akan menginap
"owh itu sayang, ans sudah setuju menikah dengan wanita yang menolong oma tempo hari" ucap omanya dengan sangat gembira
namun berbeda dengan farah dan Satya, mereka sangat kaget mendengar feren berkata seperti itu,. farah baru saja akan menyampaikan berita baik dan sangat bahagia, tapi ia malah di tampar dengan kabar buruk dari omanya, ada apa dengan semua ini?
"maksud oma apa? maksudnya kak frans mau menikah dengan wanita yang Oma jodohkan dengannya?" tanya farah tak percaya
"iya kakak sudah setuju dengan perjodohan ini, kakak tidak di paksa, kakak menerima ini dengan ikhlas" jawab Frans
farah tak habis pikir dengan pikiran kakaknya ini, ia sudah bela-belain membantu frans agar dia tak di jodohkan dan sekarang kakaknya ini berkata menerima perjodohan ini? apakah frans telah gila?
"kakak benaran telah menerima perjodohan ini? apakah kakak tidak akan menyesal? bagaiman jika shira sebenarnya telah kembali ke sini?" ucap farah dengan banyak pertanyaan
"padahal aku tadi buru-buru ke sini aku ingin memberitahu kepada kalian bahwa aku dan kak satya baru saja bertemu shira dan diyan saat kami keluar" sambung shira dengan nada kecewa
"maksud kamu apa rah? apakah kamu benaran melihat diyan dan Shira? berarti yang aku lihat tadi benaran diyan, dan aku ngga ngehalu seperti yang di bilang frans" tanya gavin memastikan
"terus mereka sekarang ada dimana? ayo kita ketemu mereka" sambungnya lagi dengan sangat gembira
"iya aku tadi bertemu saat aku dan kak satya akan kembali ke sini dan mereka tadi udah pulang di jemput oleh pamannya" jawab satya yang berada di belakang farah
Frans tak berkata-kata ia hanya menunduk memikirkan betapa bodohnya dia menerima perjodohan ini, namun apa yang bisa ia lakukan ia tidak mungkin langsung berbicara kepada omanya bahwa ia ingin membatalkan perjodohan ini padahal ia baru saja menerimanya.
"paman? bukankah mereka tidak mempunyai siapa-siapa di ibukota j ini?" tanya gavin bingung
"aku juga ngga tahu sih, tapi shira dan diyan tadi bilang bahwa pamannya telah menjemputnya dan sepertinya mereka akan segera pulang" jawab satya
__ADS_1
"apakah mereka sakit? kenapa mereka ada di rumah sakit ini?" frans yang tadi diam langsung bersuara, ia khawatir kepada Shira
"aku ngga tahu siapa diantara mereka yang sakit namun tadi aku sekilas melihat tangan kiri shira di bungkus perban mungkin dia yang terluka, dan sepertinya ia keluar dari ruangan kak Dilla karna yang keduanya lewati khusus ruangan kak Dilla" ucap satya menebak-nebak
"mereka ngapain ke ruangan kak Dilla?" tanya Frans
saat mereka sedang berbincang-bincang ada yang mendorong pintu, semuanya langsung berbalik dan melihat siapa yang masuk ternyata yang masuk adalah Dilla kakak Satya
"kak Dilla kebetulan sekali kami punya banyak pertanyaan untuk kakak" ucap satya
Dilla hanya memasang raut wajah bingung, Dilla sebenarnya tadi ingin langsung pulang namun di urungkannya karna ia mengingat tadi satya menelponnya bahwa feren di rawat di rumah sakit ini, ia pun langsung ke ruangan feren untuk menjenguk feren setelah mengganti perban shira tadi, namun saat ia baru datang para anak-anak ini bilang punya banyak pertanyaan untuk, ia sudah sangat lelah karna seharian berada di ruangan operasi.
"maksud kalian apa?" tanya Dilla tanpa ekspresi
"apakah kak Dilla kenal Shira dan diyan?" tanya farah menatap Dilla penuh harap
Dilla langsung memasang wajah kaget, ia tidak tahu apakah yang di maksud farah shira yang ia kenal juga?
"shira yang mana?" tanya Dilla ia ingin memastikan bahwa shira yang farah tanyakan adalah shira yang ia kenal juga
"owh kalian ternyata kenal sama shira" ucap dilla santai sembari berjalan menuju ke sofa dan duduk di sana
"jadi benar keduanya keluar dari ruangan kakak? di antara mereka berdua siapa yang sakit diyan atau Shira?" tanya frans khawatir
"owh yang bernama shira yang sakit, bukan sakit tapi terluka" ucap Dilla lagi
"siapa yang terluka coba jelaskan dengan rinci, kakak bicaranya terlalu santai" desak satya langsung duduk di samping Dilla
"waktu beberapa hari yang lalu, mereka datang ke sini membawa Shira yang terluka bahkan di perutnya juga ada tusukan yang lumayan dalam, kakak sampai kaget saat pertama melihat keadaannya" jelas Dilla
"kalian kenal shira dari mana? apakah kalian tahu alamat nya?" sambungnya bertanya
"apa!!!!" ucap mereka semua bahkan hampir berteriak
__ADS_1
"kecilkan suara kalian, di sini masih ada oma" ucap omanya tiba-tiba, feren sejak tadi hanya diam saja melihat perdebatan dan perbincangan mereka namun sekarang sepertinya dia mulai terganggu dan kembali merasa bersalah saat mendengar farah berkata kepada frans tadi
"maaf oma" ucap Dilla
"ayo kita keluar, kita bahas ini di luar saja, jangan mengganggu orang yang sedang sakit" sambung Dila lalu keluar dari ruangan itu, semuanya pun ikut keluar dari kamar feren
"jadi Shira itu terluka karna kenapa?" tanya farah
"kakak juga kurang pasti, saat mereka datang ke sini saja sambil menangis, kakak mana ada bisa bertanya apalagi saat itu shira sudah sangat kekurangan darah karna darahnya terus keluar" jawab Dila
"menurut kak Dila shira terluka karna apa?" tanya Frans
"menurut aku sih sepertinya shira terluka karna di tusuk dengan pisau, dan shira juga memakai tangan kirinya untuk menahan pisau itu, jika ia tidak menahan pisau itu memakai tangannya mungkin tusukan pisau itu akan menembus sampai ke ususnya" jawab Dila dengan wajah yang serius
seketika semuanya langsung terkaget-kaget, "apakah separah itu" tanya Farah
"hmmm tapi Alhamdulillah sekarang shira udah baik-baik aja" ucap Dila
"kalian belum menjawab pertanyaan ku tadi, darimana kalian kenal shira dan diyan dan apakah kalian tahu alamat mereka?" sambungnya mengulang pertanyaannya tadi karna belum mendapat jawab dari para adik-adiknya ini
"kami kuliah di kampus yang sama, dan kalau alamat mereka yang sekarang kami ngga tahu karna kami juga baru bertemu mereka setelah tiga bulan lebih" jawab farah
"owh iya... mereka juga tadi bilang bahwa mereka tinggal di kota c saat aku bertanya apakah shira blasteran atau tidak karna kakak sangat suka dengan mata biru shira apalagi wajahnya mirip kebule-bulean gitu" tutur Dila lagi
"jadi mereka berasal dari kota c" ucap mereka serentak karna baru mengetahui kota asal shira dan diyan yang sebenarnya
"masih ada pertanyaan lagi?" tanya Dila kepada ke empatnya, sekarang ia ingin segera pulang, tetap di sini juga ngapain kan udah ada mereka
"ada kak, siapa yang membawa shira ke sini? kakak tadi berkata semuanya menangis, memang seberapa banyak orang yang datang membawa shira ke sini?" tanya Satya
"owh itu, sepertinya tidak semua keluarganya datang ke sini, mereka hanya berjumlah 4 orang 1 pamannya 1 perempuan dan dua laki-laki" jawab Dila
"ha?? memang mereka ada keluarga di sini? atau diyan dan shira datang ke sini dengan keluarganya?" ucap gavin menebak-nebak
__ADS_1
"mungkin saja" balas satya