
"Cantika, minggu depan aku akan menghadiri sebuah acara apa kamu mau ikut denganku?" Tanya Arya saat Cantika baru mau masuk ke kamarnya.
Cantika hampir menerimanya kemudian dia teringat lomba yang akan dia ikuti juga akan dilaksanakan minggu depan.
"Maaf Arya, kebetulan perusahaan tempatku bekerja mengirimku untuk melakukan tugas penting minggu depan."
Arya merasa kecewa saat ini padahal dia sudah mempersiapkan diri mengungkapkan cintanya pada Cantika di acara itu. Tapi dia tidak begitu buru-buru, dia masih punya banyak waktu untuk itu.
"Baiklah aku akan pergi sendiri, semoga berhasil." Kata Arya sambil tersenyum lalu pergi ke kamarnya.
Cantika memasuki kamarnya, berwudhu lalu sholat. Setelah itu Cantika mulai menulis.
Keesokan harinya Pak Rohim menghubungi Cantika.
"Assalamu'alaikum Ayah."
"Wa'alaikumussalam Nak, Ayah di depan kompleks Ayah ingin mengajakmu ke suatu tempat."
__ADS_1
"Kemana?"
"Nanti juga kamu tahu."
"Baik aku pamit pada Bi Susi dulu."
Bi Susi tidak lagi banyak tanya saat Cantika keluar karena dia pikir Cantika pergi bekerja.
Saat melihat Pak rRhim menyetir ke arah rumah lamanya Cantika merasa bingung dan saat mobil berhenti di depan rumah lamanya Cantika bertanya. "Kenapa kita kesini Ayah?"
"Kita pulang, mulai sekarang ini rumah kamu lagi."
"Belum ada yang membelinya jadi Ayah menebusnya kembali."
Cantika sangat bahagia, dia begitu merindukan rumah yang penuh kenangan itu. Dia berlari masuk ke dalam.
Melihat rumahnya penuh debu Cantika membersihkannya dan di bantu oleh Pak Rohim.
__ADS_1
Saat membersihkan kamar Ibunya Cantika mendapatkan buku kecil. Di dalamnya penuh dengan tulisan tangan Ibunya.
"Apa itu?" Tanya Pak Rohim.
"Buku harian Ibu." Kata Cantika lalu memberikan buku itu pada Pak Rohim.
Pak Rohim membaca setiap lembaran buku itu, di sana tertulis bagaimana perasaan Ibu Cantika selama pisah dengan Pak Rohim. Dia menyesal telah egois dan tidak memberi kesempatan pada Pak Rohim untuk memperkenalkannya pada islam. Hingga suatu saat dia membaca tentang islam, dia mulai tertarik dengan islam namun dalam hatinya juga terikat dengan kepercayaan yang slama ini dia miliki. Meski tertarik pada islam tapi dia tetap teguh pada keyakinannya. Suatu saat dia jatuh sakit, dia bermimpi sedang berada di dua persimpangan. Di satu sisi ada sebuah gereja tua dan di sisi lain ada masjid yang begitu berkilau. Dia bingung harus ke arah mana tapi entah kenapa dia berjalan memasuki masjid itu. Di sana dia mendengar suara yang begitu indah, suara adzan yang menggetarkan hatinya.
Saat dia terbangun dia meneteskan air mata dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Dia berjanji akan mendalami islam dan akan mencari Pak Rohim untuk memberitahunya tentang keberadaan Cantika.
Tapi itu menjadi tulisan terakhir Ibu Cantika karena keesokan harinya dia jatuh pingsan dan di bawa ke rumah sakit. Dan sayang dia menghembuskan nafas terakhirnya saat itu dengan membawa penyesalan karena belum sempat memberi tahu Cantika siapa Ayahnya.
"Ibumu tiada dalam keadaan islam."
Kalimat itu mengagetkan Cantika.
Lalu Cantika membaca lembaran terakhir buku itu dan mengerti sehari sebelum Ibunya tiada Ibunya mengucapkan dua kalimat syahadat.
__ADS_1
Pak Rohim menangis sambil memeluk Cantika. Dia kembali teringat dengan Ibu Cantika, wanita cantik dan lembut, wanita penuh kasih, wanita yang telah membuatnya berjanji tidak akan mencintai wanita lain lagi meski mereka telah berpisah.
Pak Rohim membawa Cantika ke makam Ibunya dan mengganti tanda salib di atas kubur Ibunya dengan batu nisan. Soal tata cara pemakaman Ibu Cantika dulu biar Allah yang maha tahu yang menilainya. Mereka yakin Allah mengetahui segalanya.