Bidadari Di Balik Cadar

Bidadari Di Balik Cadar
Cantika Pergi


__ADS_3

Keesokan harinya Bi Dusi yang sedang sibuk di dapur merasa sepi karena Cantika belum turun menemaninya seperti biasa.


Sampai saat makanan selesai dia sajikan hanya Arya yang turun untuk sarapan.


"Kenapa Cantika belum turun? ini tidak seperti biasanya. Bibi tahu dia membuatmu kecewa, Bibi juga awalnya kecewa. Tapi setelah Bibi pikirkan Cantika tidak sepenuhnya salah. Keadaan yang memaksanya menutupi identitasnya.


"Bi Susi semalaman berpikir dan dia dapat memahami keadaan Cantika."


Melihat Arya diam saja Bi Susi naik ke atas untuk meminta Cantika turun sarapan.


Tidak lama kemudian Bi Susi berlari menuruni tangga dengan selembar kertas di tangannya.


"Nak Arya, Nak Cantika pergi." Kata Bi Susi cemas.


Qrya langsung berdiri dari tempat duduknya dan bertanya.

__ADS_1


"Pergi? pergi kemana dia sepagi ini, apa segitu pentingnya perusahaan percetakan itu sehingga sepagi ini dia sudah pergi bekerja?"


Arya merasa kesal sekali.


"Tidak Nak Arya, Nak Cantika pergi dari semalam dia meninggalkan surat ini."


Kata Bi Susi menyerahkan selembar kertas pada Arya.


Arya membaca isi kertas itu, di dalamnya tertulis permintaan maaf Cantika dengan tulus dan rasa terima kasih karena telah memberinya tumpangan saat dia membutuhkan. Cantika juga menulis kalau Arya tidak perlu khawatir, Cantika sudah bertemu Ayahnya dan Ayahnya sudah menebus kembali rumah lamanya. Cantika juga menitip kata maaf untuk Bi Susi.


"Kenapa kisahnya dan Cantika berakhir seperti ini?" Pikir Arya. Dia sangat mencintai Cantika, bahkan dia sudah mempersiapkan diri untuk melamar Cantika. Tapi sekarang semua persiapannya sia-sia.


"Nak Arya susul Cantika dan minta dia kembali, Bibi sudah terbiasa bersamanya. Bibi akan kesepian jika dia tidak disini."


Bi Susi menangis dan memohon pada Arya.

__ADS_1


"Maaf Bi, ini sudah menjadi pilihan Cantika sendiri. Aku tidak bisa menghalanginya." Arya naik ke atas dan meninggalkan sarapan di atas meja.


Bi Susi merasa sangat sedih saat ini. Dia mengerti dengan kekecewaan Arya, tapi dia juga paham alasan Cantika menyembunyikan identitasnya selama ini.


Cantika yang semalam pulang ke rumahnya tidak bisa tidur semalaman. Selesai sholat subuh dia menelpon Pak Rohim dan memberitahu kalau dia sudah pulang ke rumah.


Pagi-pagi sekali Pak Rohim datang ke rumah Cantika.


"Ayah yakin cepat atau lambat Arya pasti akan memahami semuanya dan dia akan memaafkanmu." Kata Pak Rohim setelah Cantika menceritakan kejadian semalam.


"Entahlah Ayah, yang aku tahu saat ini Arya begitu kecewa padaku. Mungkin selamanya kami tidak akan bisa mengembalikan persahabatan kami."


Cantika yang selalu tegar akhirnya menangis dan merasa tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Dia seperti begitu kehilangan sesuatu yang begitu berharga dalam hidupnya.


"Jangan putus asa, Allah tidak menyukai hambanya yang mudah putus asa. Yakinlah semua akan baik-baik saja dalam waktu dekat. Besok atau lusa Arya pasti akan memaafkanmu." Bujuk Pak Rohim untuk menenangkan Cantika.

__ADS_1


Setelah menenangkan dirinya dan menyerahkan segalanya pada Allah Cantika pergi ke supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan. Cantika menyiapkan sarapan untuk dia dan Ayahnya. Setelah sarapan Pak Rohim pergi ke kantor dan Cantika yang sendirian menyibukkan dirinya untuk menyelesaikan tulisannya. Lomba babak terakhir akan di adakan sebulan lagi dan Cantika berharap bisa memenangkan lomba itu agar karyanya yang kedua ini bisa tercetak dan bisa dibaca banyak orang sehingga para pembaca bisa mengetahui betapa indah islam itu.


__ADS_2