
Arya menghampiri istrinya yang masih terlihat ngambek itu.
Danish yang mengerti dengan situsi berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan orang tuanya berdua.
"Sayang, maafkan aku. Aku tahu tidak semudah itu untuk melupakan rasa kecewamu, tapi aku tetap berharap kamu bisa memaafkanku."
Arya menundukkan kepalanya dan meminta maaf pada istrinya yang dia pikir masih sangat kecewa padanya dan mungkin akan sulit memaafkannya.
Tetapi Cantika bukanlah tipe pendendam, terlebih kepada suami yang sangat dia cintai sendiri.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, aku akui ada rasa kecewa dalam diriku, tapi aku tidak marah, aku mengerti jika berada di posisimu mungkin aku juga akan berlaku sama. Tapi aku yang minta maaf, karena aku telah membuatmu sedih dengan meninggalkanmu, aku terpaksa mengambil jalan itu demi bisa membuatmu melihat kebenaran."
Cantika meraih tangan suaminya dan menciumnya.
"Jadi kamu tidak semarah itu sehingga meninggalkanku?"
Tanya Arya, dia pikir Cantika pergi murni karena marah padanya.
"Tidak, maaf aku yang telah menyuruh Danish membimbingmu untuk melihat kebenaran Bibi."
Meski semua Cantika lakukan demi kebaikan, tapi dia tetap merasa bersalah karena telah membuat suaminya sedih dengan meninggalkannya.
Mendengar perkataan Cantika, Arya langsung memeluk istrinya itu, dia sangat bahagia sampai tidak menyadari seorang anak kecil bersembunyi di balik pintu sedang tertawa melihatnya.
__ADS_1
Malam harinya, setelah makan malam dan jama'ah isya, Arya merasa kesal dan cemburu pada putranya sendiri yang lagi bermanja dan meminta Cantika menemaninya tidur. Padahal sudah beberapa malam dia menahan kerinduannya pada istrinya, tapi sekarang saat istrinya di depan mata dia tetap harus menahannya lagi karena ulah putranya.
"Papa kenapa masih disini? pergi sana, Danish mau tidur." Danish yang memang sengaja mengerjain Arya tersenyum dalam hati sambil mengusir Arya dari sana.
"Sayang?"
Arya mencolek Cantika.
"Kenapa? sana kamu juga cepat tidur, besokkan harus kerumah sakit."
Cantika yang masih lugu pun tidak peka jika saat ini suaminya itu sedang menantinya dengan malang.
Danish tertawa dalam hati melihat ayahnya begitu kasian.
Danish semakin sengaja memanasi ayahnya.
Cantika membelakangi Arya lalu memeluk putranya yang jahil itu sambil mengusap kepalanya.
Arya yang merasa kesal berjalan keluar dari sana.
Arya menunggu Cantika di kamarnya dengan gelisah, dia tidak bisa tidur.
Sejam kemudian, Arya keluar dari kamarnya dan membuka pintu kamar Danish pelan-pelan.
__ADS_1
Betapa malangnya dia saat melihat istrinya yang begitu dia dambahkan itu juga sudah terlelap.
Arya kembali kekamarnya dan memarahi putranya yang telah merebut istrinya dalam hati.
Danish membuka matanya dan tersenyum sendiri, dia berhasil mengerjain ayahnya. Danish pun memeluk leher ibunya dengan tangan kecilnya itu lalu menutup matanya.
Esok harinya, saat adzan subuh berkumandang, Cantika terbangun lalu membangunkan putra kecilnya itu yang tidak dia sadari semalam telah membuat suaminya begitu tersiksa.
Cantika lalu ke kamarnya dan membangunkan Arya.
"Sayang, ayo bangun, waktunya sholat subuh."
Cantika menepuk pelan pipi Arya untuk membangunkannya, kelihatannya tidurnya sangat nyenyak, seperti orang yang baru terlelap.
"Udah subuh yah?"
Arya mendengar suara Cantika dan membuka matanya dengan malas.
"Iya, ayo bangun."
Cantika langsung pergi ke ruang sholat tanpa menunggu Arya.
"Danish!"
__ADS_1
Arya mendumel menyebut putranya yang telah membuatnya susah tidur semalam, dan akhirnya dia yang biasanya membangunkan Cantika malah kebalik Cantika yang membangunkannya.