
Setelah beribadah di gereja Bi Susi langsung pulang.
Bi Susi memasuki rumah dan langsung ke dapur.
"Biar aku yang masak, kamu boleh keluar."
Bi Susi langsung mengambil alih dapur padahal Cantika baru selesai membuat sup sehat khusus untuk Pak Rohim saja, dia belum membuat makanan untuk Arya dan Danish padahal dia tadi berjanji akan membuatkan makanan spesial buat mereka.
Cantika mau bicara tapi Bi Susi sudah mengambil alih dapur sepenuhnya.
Cantika kemudian keluar dari dapur dan pergi ke kamar Pak Rohim untuk memberikan sup yang telah dia buat.
Setelah Pak Rohim menghabiskan supnya Cantika turun ke dapur dan melihat Bi Susi sudah mau selesai memasak.
"Bi kalau Bibi sudah selesai aku boleh masukkan aku mau membuat sesuatu untuk Arya dan Danish?" Cantika berdiri di depan pintu dan bertanya.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku sudah membuatkan makanan kesukaan Arya dan Danish." Bi Susi sama sekali tidak melihat ke arah Cantika, dia menyelesaikan masakannya kemudian menghidangkannya.
Cantika merasa sangat sedih, dia kembali teringat dengan yang dia lihat tadi pagi. Dia berpikir apa sebaiknya dia memberi tahu Arya atau tidak.
"Ayo Nak Arya, Danish sayang! Sini lihat nenek membuatkan makanan kesukaan kalian." Bi Susi yang melihat Arya dan Danish menuruni tangga memanggilnya ke meja makan.
"Bukankah Mama bilang mau membuatkan makanan spesial buat Papa dan Danish kok malah nenek yang buat?" Tanya Danish.
Cantika diam, dia bingung harus berkata apa.
"Tidak, sini Danish akan menghabiskannya." Danish yang polos langsung memakan makanan yang telah Bi Susi sajikan. Tapi Arya dapat melihat ada kesedihan di mata Cantika.
Setelah sarapan Cantika membereskan meja makan kemudian membersihkan dapur.
"Sayang ada apa? aku merasa ada sesuatu yang terjadi di belakangku antara kamu dan Bibi?" Arya memasuki dapur dan memeluk Cantika dari belakang.
__ADS_1
Cantika seperti mau menangis tapi dia menahannya. Dia tidak bisa merusak hubungan Arya dan Bi Susi yang sudah terjalin sejak Arya masih bayi.
"Tidak kok sayang, kami baik-baik saja." Cantika mencoba menyembunyikan kesedihannya dan tersenyum.
"Kamu yakin?" Tanya Arya.
"Iya, sekarang kamu keluar ini dapur bagaimana kalau ada yang lihat." Cantika merasa malu dia melepaskan diri dari pelukan Arya kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Arya hanya tersenyum melihat Cantika yang masih begitu pemalu padanya.
"Baiklah tapi bagaimana ini aku sangat merindukanmu, sudah lama aku tidak bersamamu karena sibuk di rumah sakit menjaga ayah tidak adakah rasa terima kasih untukku dari istriku?" Arya menggoda Cantika dia berkata sambil menyemberutkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang meminta permen pada ibunya.
"Sudahlah sana siap-siap ke rumah sakit." Cantika tersenyum geli melihat tingkah menggemaskan Arya.
"Huh malang sekali nasibku." Arya berbalik dan keluar dari dapur.
__ADS_1
Cantika hanya menggelengkan kepalanya melihat Arya. Tapi kemudian dia berpikir memang benar sudah lama mereka tidak bersama. Dia tahu Arya hanya menggodanya tadi tapi dia benar kalau selama Pak Rohim sakit dia begitu sibuk bahkan harus bermalam di rumah sakit. Dan ditambah dengan sikap Bi Susi yang sering kali tidak membiarkannya memasak buat Arya. Cantika merasa dia sudah mengabaikan tugas dan kewajibannya sebagai istri.