Bidadari Di Balik Cadar

Bidadari Di Balik Cadar
Karma


__ADS_3

Wanita yang menutup wajahnya tadi berlari pulang ke rumahnya sambil menangis.


"Rika, kamu kenapa sayang?" Tanya Sarah saat melihat putrinya pulang dengan menangis.


"Huhuhu Ma, apa ini karma untukku?" Tanya Rika sambil bersandar di pelukan Ibunya.


Sarah merasa sedih dengan kondisi putrinya. Beberapa bulan lalu wajah Rika tidak sengaja terkena air panas dan itu meninggalkan luka bakar yang mengerikan di wajahnya.


Sarah dan Mordan mau membawanya berobat tapi mungkin karma itu memang nyata adanya, bersamaan dengan wajah Rika yang rusak bisnis Mordan juga bangkrut. Semua aset kecuali rumah di sita oleh Bank untuk menutupi pinjamannya.


Sarah sudah melarang Rika untuk keluar rumah agar dia sendiri tidak begitu sedih tapi entah kenapa malam ini Rika keluar.


"Mama kan sudah bilang jika kamu tidak sanggup menghadapi lingkungan di luar sana kamu jangan keluar dulu. Tunggu sampai bisnis Ayahmu membaik kami akan membawamu berobat." Kata Sarah sambil memeluk putrinya itu.


"Aku mau menemui Cantika Ma, aku mau minta maaf padanya. Tapi di tengah jalan saat aku tidak sengaja bertemu dengannya aku tidak berani menunjukkan wajahku. Aku malu Ma, selama ini aku selalu menghinanya dan mungkin ini balasan untukku huhu."


Melihat putrinya begitu menderita Mordan memutuskan untuk menelpon Cantika.

__ADS_1


Cantika yang sudah bersiap untuk tidur mendengar telponnya berdering.


"Halo!"


Melihat itu panggilan dari Pamannya Cantika bertanya-tanya ada apa kenapa tumben sekali Pamannya menghubunginya itupun ditengah malam.


"Cantika, Paman minta maaf, Paman telah mengusirmu waktu itu. Maafkan Paman." Mordan yang tadinya berniat meminta pinjaman uang pada Cantika untuk mengoperasi Rika merasa malu dan mengubah topik pembicaraannya. Tapi dia meminta maaf dengan tulus, dia sangat menyesal telah menelantarkan putri adik kandungnya.


"Iya Paman tidak apa-apa aku sudah memaafkan Paman. Tapi kenapa Paman menelponku selarut ini tidak mungkin untuk minta maaf sajakan?"


Mordan merasa malu mengatakan niat awalnya tapi dia juga memikirkan Rika.


"Ada apa Paman semua baik-baik sajakan?" Cantika panik mendengar suara Pamannya.


Mordan menceritakan kejadian yang menimpa Rika beberapa bulan lalu, dia juga mengatakan kalau malam ini Rika mau menemuinya tapi kemudian Rika tidak berani menunjukkan wajahnya pada Cantika.


"Paman mohon Nak, tolong bantu Rika. Dia sangat menderita." Mordan menangis memohon pada Cantika.

__ADS_1


Mendengar kondisi Rika saat ini Cantika merasa kasihan.


"Paman jangan khawatir, besok bawa Rika ke rumah sakit Arya. Rika akan menjalani pemeriksaan dan pengobatan disana. Aku akan bicara pada Arya untuk membantu menyembuhkan luka Rika."


Mendengar perkataan Cantika yang bersedia membantunya Mordan semakin menangis.


"Rerima kasih Nak, maafkan Paman sekali lagi tolong maafkan Paman. Entah apa yang aku pikirkan sehingga bisa menelantarkanmu yang sebaik ini."


"Sudahlah Paman aku sudah melupakan segalanya. Sekarang Paman fokus saja pada Rika. Yakinkan dia kalau semua akan kembali normal."


"Ada apa?" Melihat Cantika memutuskan teleponnya Arya yang berada di samping Cantika bertanya.


Cantika menceritakan semuanya pada Arya.


"Jadi, wanita yang hampir kita tabrak tadi Rika?" Tanya Arya.


"Iya."

__ADS_1


"Kamu tenang saja serahkan semuanya padaku, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk memulihkan wajah Rika."


Seandainya Arya yang dulu mungkin dia akan berkata kalau itu adalah hukuman untuk Rika. Tapi semenjak Arya bersama Cantika dia belajar banyak tentang apa itu rendah hati, kesabaran dan memaafkan.


__ADS_2