Bidadari Di Balik Cadar

Bidadari Di Balik Cadar
Pura-pura Sakit


__ADS_3

"Papa kenapa? mukanya kusut, kurang tidur yah?"


Tanya Danish sambil menahan senyumnya saat melihat Arya turun ke ruang makan.


Mendengar pertanyaan putranya, Arya baru sadar kalau putranya itu sengaja mengerjainya.


"Sayang kamu sudah bangun, kurang sehat yah? tumben selesai sholat subuh tidur lagi."


Arya mau menjewer telinga Danish, tapi Cantika datang.


"Emm iya sepertinya aku kurang sehat, lemes banget."


Arya berpura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian Cantika di depan putranya.


"Ya sudah hari ini kamu di rumah saja, serahkan tugas rumah sakit pada dokter lain dulu." Kata Cantika hawatir.


Arya berpikir jika hari ini memang tidak ada masalah besar di rumah sakit, dia bisa menyerahkan rumah sakit pada yang lain, lagian Pak Rohim juga tinggal menunggu sadar dan ada dokter viki disana.


Arya mengangguk pura-pura lemas.


"Sayang hari ini kamu di antar supir yah, Mama harus menemani Papa."


Kata Cantika sambil menyuapin Arya yang sekarang seperti seorang anak kecil.


Danish melihat ayahnya, tapi Arya malah tersenyum sambil menjulurkan lidahnya saat Cantika tidak melihatnya.

__ADS_1


Danish yang sadar jika saat ini ayahnya itu sedang balas dendam padanya merasa kesal.


Danish berangkat ke sekolah sambil mengutuki ayahnya, dia pasti akan membalas ayahnya lagi nanti.


Haduh, kalau begini perang ayah dan anak tidak akan berakhir.


"Eh kamu mau apa?"


Cantika terkejut saat Arya yang dia kira sakit tiba-tiba menggendongnya.


"Aku begitu merindukanmu, tentu saja menginginkanmu. Aku sudah menunggumu beberapa malam ini, dan saat kamu pulang, semalam putramu yang nakal itu malah merebutmu dariku."


Kata Arya sambil menggendong Cantika menaiki tangga menuju kamarnya.


"Maafkan aku, kamu pasti begitu tersiksa yah?" Kata Cantika.


"Hmm, sangat tersiksa. Semalaman aku susah tidur dan baru tertidur subuh tadi."


Kata Arya sambil menendang pintu kamar.


"Pantes saja kamu telat bangun dan tidur kembali setelah sholat." Ucap Cantika.


"Iya, suamimu ini begitu malang." Arya menurunkan Cantika di tempat tidur sambil memasang wajah sedihnya yang membuat siapapun pasti kasian saat melihatnya termasuk Cantika tentunya.


"Mau aku bantu?" Tanya Cantika agak malu yang membuat Arya teriak girang dalam hatinya.

__ADS_1


"Bantu apa?" Arya berpura-pura tidak tahu dan membuat wajah Cantika memerah.


"Ya sudah aku mau beres-beres di dapur saja." Cantika berdiri, dia semakin malu dan akhirnya ngambek.


Arya menarik tangan Cantika dan membaringkannya di kasur.


"Aku sangat merindukanmu."


Satu kalimat itu mengawali cumbuan Arya kepada istrinya yang memang sudah sangat dia rindukan.


Tak terasa waktu mereka lalui sampai hampir siang.


"Sayang, aku mau ke rumah sakit. Ada kemungkinan ayah akan sadar hari ini."


Arya sudah rapi sedang Cantika masih terbaring lemas di tempat tidur.


"Tunggu, aku ikut."


Kata Cantika, mencoba bangun tapi masih begitu lemas karena kelelahan melayani suaminya yang agak buas tadi.


"Apa kamu kuat?" Tanya Arya yang membuat Cantika kembali malu dan memaksakan diri bangun dan berlari kecil ke kamar mandi.


Arya geleng-geleng kepala melihat tingkah gemesin istrinya yang masih pemalu itu.


Setelah Cantika mandi dan bersiap-siap, Arya menggandeng tangan istrinya itu keluar rumah lalu menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Pak Rohim yang mungkin akan segera sadar.

__ADS_1


__ADS_2