Bidadari Di Balik Cadar

Bidadari Di Balik Cadar
Mengangkat Tangan


__ADS_3

Cantika memeluk ayahnya yang masih terbaring lemah, dia begitu takut saat membayangkan ayahnya akan secepat itu meninggalkannya.


"Sekarang ayah sudah jauh lebih baik, pulanglah Danish pasti membutuhkanmu juga."


Arya baru saja meminta Cantika pulang untuk menemani Danish tapi Danish sudah berlari ke arah mereka.


"Sayang ini sudah malam, kenapa kesini? Mama baru akan pulang menemui Danish."


Cantika langsung menggendong putra kecilnya.


Danish menengok ke arah belakang, Bi Susi berdiri disana dengan sedikit gemetar. Meski ragu datang ke rumah sakit tapi dia terpaksa datang karena paksaan Danish. Lagian mungkin saat ini Pak Rohim juga sudah tidak bernyawa lagi. Tapi betapa terkejutnya Bi Susi saat melihat kondisi Pak Rohim saat ini.


"Danish memaksa kemari jadi Bibi mengantarnya." Kata Bi Susi, dia berusaha bersikap normal.


Cantika menatap tajam ke arah Bi Susi seperti sebuah anak panah yang lepas dari busurnya.


"Sayang, Danish keluar dulu yah bersama tante suster."


Cantika meminta suster membawa Danish keluar.

__ADS_1


"Baik Mah."


Meski tidak mengerti dengan situasi sekarang tapi Danish anak yang sangat penurut. Dia keluar dari sana bersama seorang suster.


"Apa yang kamu lakukan pada ayahku?"


Pertanyaan mendadak dan menekan itu membuat Bi Susi terkejut, bahkan bukan hanya Bi Susi tapi Arya juga terkejut.


"Apa yang kamu katakan? Bibi tidak mengerti." Bi Susi sebisa mungkin menyembunyikan rasa gugupnya.


"Iya ada apa sayang?" Arya juga bertanya-tanya apa maksud istrinya itu. Wajah yang selalu tersenyum ramah kini sangat berbeda. Seperti ada amarah besar di dalam diri istrinya saat ini.


"Jangan mengelak Bi, katakan apa yang telah Bibi perbuat pada ayahku?"


"Cukup Can, hentikan!" Arya meneriaki Cantika karena merasa Cantika telah lancang berbicara seperti itu pada Bi Susi yang telah dia anggap seperti ibu kandungnya.


"Ini yang aku takuti, kamu akan menyalahkanku dan membelah Bibi yang kamu anggap ibu selama ini." Kata Cantika sambil melihat Arya kemudian lanjut berkata "Tapi tahukah kamu yang beberapa hari ini Bibi lakukan di belakangmu?" Cantika menatap tajam ke arah Bi Susi lagi.


"Apa yang kamu bicarakan? aku tidak mengerti." Arya memelankan suaranya karena sadar tadi dia telah membentak istrinya itu.

__ADS_1


Bi Susi semakin gugup disana, dalam hati bertanya-tanya apa Cantika mengetahui sesuatu?


"Tanyakan padanya apa yang telah dia lakukan. Sejak Bibi pulang dari kampung mendiang suaminya sangat banyak perubahan yang terjadi padanya tapi kamu tidak menyadari itu karena dia sangat pandai bersandiwara di hadapanmu."


"Cantika!"


Arya hampir saja mendaratkan tangannya di pipi Cantika yang selama ini dia manjakan.


Cantika menangis sambil tersenyum.


"Benar dugaanku, jika saja aku mengatakan ini dari dulu apalagi tanpa bukti kamu pasti akan menyalahkanku dan lihat baru sedikit yang aku katakan tentangnya tapi kamu sudah mengangkat tanganmu padaku."


Arya melihat tangannya yang masih gemetar bergantung di udara dengan rasa bersalah.


"Maafkan aku, tapi tolong jaga sikapmu pada Bibi. Selama ini dia tidak pernah kurang dalam menyayangi kita semua, dia juga sudah menganggap kita sebagai anaknya sendiri." Arya mendekati Cantika mamun Cantika menjauhinya.


"Jangan dekati aku dulu karena mungkin saja setelah aku mengatakan semua yang telah aku pendam sendiri beberapa hari ini maka kamu tidak akan lagi menahan tanganmu di udara tapi akan langsung mendaratkannya di wajahku."


Perkataan Cantika sontak membuat Arya dan Bi Susi terkejut.

__ADS_1


Arya menatap Bi Susi yang kini berpura-pura sedih itu dengan rasa tidak enak hati.


__ADS_2