
"Pah, itu... emmm kakak ipar Cantika, Surya. Kenapa papa tidak pernah menyuruhku ke perusahaan? bukannya aku yang papa tugaskan untuk membimbingnya? dia juga tidak pernah menghubungiku." Rika mendekati ayahnya di ruang kerjanya, beberapa hari ini dia selalu kepikiran Surya. Dia merasa bersalah karena hari itu saat dia bilang akan ke perusahaan pada Surya, dia tidak jadi datang. Rika masih belum sanggup melihat wajah Arya pada diri Surya. Tapi beberapa hari ini dia memikirkan Surya, dan dia sadar jika dia memang tidak perlu lari dari Surya. Dia juga merasakan hal yang aneh pada dirinya, dia tak hentinya memikirkan Surya, sungguh Surya bukan Arya.
"Dia telah mengundurkan diri." Kata Mordan menarik nafasnya memikirkan keadaan Surya.
"Apa? mengundurkan diri?" Rika terkejut mendengar perkataan ayahnya.
Mordan menatap putrinya itu lalu berkata "Iya, di hari kedua dia seharusnya datang ke perusahaan, dia mengalami kecelakaan dan sekarang kondisinya tidaklah baik." Mordan menceritakan kondisi Surya saat ini dan juga tentang kaki kirinya yang lumpuh.
Rika bagai di sambar petir mendengar perkataan ayahnya.
"Di hari kedua?" Gumam Rika, dia ingat jika di hari itulah Surya memintanya datang ke perusahaan, tapi Rika yang masih bimbang, memutuskan tidak datang hari itu. Dan kini dia mendengar hal yang mengejutkannya.
__ADS_1
Rika berlari ke kamarnya dan mengambil ponselnya, mencari kontak Surya lalu menghubunginya.
Mendengar ponselnya berdering Surya dengan susah payah mendorong kursi rodanya kearah ponselnya berada.
"Rika?" Surya melihat itu panggilan dari Rika dan menyimpan kembali ponselnya.
Rika terus menghubungi Surya, namun tidak juga di jawab.
Tanpa sadar air mata Rika jatuh dan itu tidak lepas dari pandangan Mordan dan Sarah.
Mendengar nama Rika, hati Surya seperti tertusuk pisau.
__ADS_1
"Dan apakah pantas bagi seorang lelaki cacat sepertiku mengejar wanita sempurna seperti Rika?" Surya merasa tidak lagi pantas untuk Rika, jika sebelumnya masa lalu dan keyakinan menjadi rintangannya, dia masih sanggup menghadapinya. Tapi saat ini dengan keadaannya yang menurutnya tidak lagi berguna, dia memutuskan untuk menghapus perasaannya saja.
"Apa yang kakak pikirkan? Rika bukan wanita seperti itu yang akan menilai fisik seseorang. Lagi pula kakak masih bisa berjalan, kakak hanya perlu latihan dengan rutin dan secepatnya kakak pasti akan pulih." Kata Cantika yang juga ada disana.
"Tapi aku memikirkannya, dan soal sembuh atau tidak, aku tidak begitu mengharapkannya." Kata Surya lagi, dia sangat kesal pada dirinya sendiri saat kemarin dia melakukan terapi dan latihan untuk menggerakkan kaki kirinya dia malah terjatuh seperti pria tak berguna.
"Kakak tidak boleh berpikiran seperti itu, asal kakak tau, orang tua Rika tadi menelpon dan mengatakan jika Rika menangis karena telponnya tidak kakak jawab, itu membuktikan jika kini dia juga punya hati terhadap kak Surya, jadi sekarang kakak harus semangat untuk bisa pulih lagi." Kata Arya, dia mencoba membuat Surya paham jika mereka memang saling mencintai, maka fisik bukanlah halangan dan juga memberi semangat agar Surya yang tidak mau melakukan terapi mau mengikutinya.
"Maaf, aku mau istirahat." Tapi Surya sepertinya tetap teguh pada keputusannya, dia dengan susah payah berdiri dari kursi rodanya menggunakan kekuatan kaki kanannya dan berbaring di tempat tidur.
Melihat Surya yang seperti itu Arya dan Cantika dengan sedih keluar dari sana.
__ADS_1
"Aku tidak tau, bagaimana agar kakak keluar dari rasa putus asanya. Jika dia putus ada begini, itu akan membuat penyembuhan kakinya akan semakin melambat." Kata Arya sambil bersandar di pundak Cantika
Kondisi kaki Surya memang sangat parah, tapi bukan berarti tidak bisa sembuh. Menurut para dokter yang sudah memeriksa kaki Surya, Surya masih bisa sembuh dengan terapi rutin tapi itu perlu rasa semangat dari Surya sendiri, dan jika Surya seperti putus asa begini maka itu akan memperlambat penyembuhannya.