
Setelah makan siang Arya mendapat telpon dari rumah sakit yang memintanya segera datang karena ada kondisi darurat.
"Sayang, ada kondisi darurat di rumah sakit aku harus segera kesana."
"Iya, hati-hati di jalan dan semangat yah."
Cantika mencium punggung tangan Arya seperti biasa, tapi Bi Susi yang melihatnya merasa pemandangan itu sangat buruk.
"Iya, assalamu'alaikum." Arya segera berangkat ke rumah sakit.
"Wa'alaikumussalam."
Cantika yang mau membereskan meja makan merasa ragu, dia takut Bi Susi juga tidak memperbolehkannya. Tapi setelah Arya pergi Bi Susi malah masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan Cantika.
Cantika hanya diam sambil membereskan meja makan lalu mencuci semua peralatan makan yang kotor.
Setelah semua selesai Cantika ingin mengajak Danish mengaji. Tapi saat memasuki kamar Danish dia melihat Bi Susi sedang membacakan Danish kitab non-muslim seperti kitab yang dulunya Cantika baca saat belum memeluk islam.
Bi Susi yang melihat Cantika berdiri di depan pintu kaget, dia buru-buru menutupi kitab tersebut dengan kain.
Cantika juga tidak membicarakannya, dia pura-pura tidak melihatnya.
"Danish sayang sekarang waktunya Danish mengaji, ayo ambil wudhu dulu."
__ADS_1
Cantika menghampiri Danish lalu mengajaknya dengan lembut.
"Iya Mah." Danish langsung berdiri dan pergi mengambil wudhu.
Bi Susi merasa kesal saat ini, dia baru saja ingin menanamkan keyakinannya pada Danish tapi Cantika menghalanginya. Bi Susi keluar dari kamar Danish tanpa melihat ke arah Cantika.
Cantika juga mulai terbiasa dengan sikap Bi Susi, Cantika menyusul Danish dan melihatnya berwudhu.
Setelah wudhu Cantika mengajak Danish membaca Al-qur'an.
Danish anak yang sangat pintar dan giat belajar. Di usianya yang begitu kecil dia sudah bisa membaca Al-qur'an dengan lancar. Cantika hanya mendengarkan dan menyimak Danish mengaji dengan indah.
Setelah mengaji Cantika mengajak Danish ngobrol.
"Iya, Danish tahu." Jawab Danish.
"Apa itu?" Tanya Cantika.
"Kitab suci Al-qur'an." Jawab Danish.
"Maa syaa allah pintar anak Mamah, nah kalau begitu kita sebagai umat islam berarti hanya boleh membaca satu kitab saja yaitu Al-qur'an. Jika Danish melihat kitab lain Danish tidak boleh membaca atau mempelajarinya, janji?"
"Janji." Danish mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Cantika.
__ADS_1
Cantika merasa tenang sekarang, dia sangat cemas jika saja Bi Dusi membuat Danish mempelajari kitab non-muslim tersebut. Lagi pula kenapa Bi Susi melakukan itu dan kenapa Bi Susi bisa membawa kitab itu lagi ke rumah ini setelah 7 tahun dirinya memeluk islam.
Kepala Cantika di penuhi pertanyaan yang tidak dapat dia jawab saat ini, tapi dia pasti akan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan Bi Susi.
Saat Arya kembali dari rumah sakit hari sudah malam.
"Assalamu'alaikum."
Arya memasuki rumah dan tidak melihat siapa pun di ruang tamu. Arya kemudian naik ke atas dan melihat Cantika dan Danish sedang siap-siap sholat isya di ruang sholat keluarga.
"Apa kalian membutuhkan imam?" Tanya Arya melangkah ke arah keluarga kecilnya itu.
"Tentu." Jawab Cantika dengan senyum indah, terlihat wajahnya yang putih dan berkilau seperti sedang di terpa cahaya bulan.
Arya kemudian mengambil wudhu.
"Dimana Bibi kenapa tidak berjama'ah dengan kita?" Tanya Arya.
Cantika tidak tahu harus menjawab apa karena dia sendiri juga bertanya-tanya kenapa Bi Dusi tidak datang ke ruang sholat dari dzuhur, ashar, maghrib dan sekarang sudah isya.
"Mungkin Bibi terlalu lelah dari perjalanan jauh jadi sholat di kamarnya." Akhirnya Cantika juga meyakinkan dirinya dengan kemungkinan tersebut.
Arya juga berpikir demikian jadi tidak pergi memanggil Bi Susi. Arya kemudian mengimami istri dan putranya dengan khusyu'.
__ADS_1