Bidadari Di Balik Cadar

Bidadari Di Balik Cadar
Pemenang


__ADS_3

Seminggu sudah Cantika tinggal sendiri. Pak Rohim yang melihat Cantika kesepian mengajaknya ikut ke rumahnya, tapi Cantika menolak. Dia merasa lebih bahagia tinggal di rumah yang penuh kenangan dengan Ibunya itu.


Pak Rohim juga tidak memaksanya, hampir setiap hari Pak Rohim menengok Cantika.


"Bagaimana kalau hari ini Ayah mengajakmu melihat rumah Ayah?" Ajak Pak Rohim.


"Boleh."


Pak Rohim membawa Cantika ke rumahnya.


"Ayah tempat ini..."


"Rumah Ayah, Ayah lahir dan besar disini. Ini rumah peninggalan Kakek dan Nenekmu."


Melihat pohon pinus dan sungai yang mengelilingi rumah itu Cantika teringat dengan foto yang dia temukan dari buku catatan Pak Rohim.


"Aku pernah melihat foto rumah ini di dalam buku catatan Ayah." Kata Cantika.


"Iya, Ayah sengaja mengambil gambar rumah ini. Tadinya Ayah mau memperlihatkannya pada Ibumu dan ingin mengajaknya pindah ke rumah ini. Tapi sebelum itu kami sudah berpisah."

__ADS_1


Pak Rohim kembali mengenang kejadian masa lalu.


"Sudahlah Ayah yang berlalu biarlah berlalu, Ibu sudah tenang disana. Semoga Allah mempertemukan kita lagi di surganya kelak."


"aamiin."


Seharian Cantika bermain di rumah Pak Rohim, saat sore hari Pak Rohim mengantarnya pulang.


"Ayah langsung pulang kamu tidak apa-apakan?"


"Iya Ayah, Ayah hati-hati di jalan."


"Mungkin hanya perasaanku." Pikir Cantika lalu masuk ke dalam rumah.


Melihat Cantika baik-baik saja dan sudah ada Ayahnya yang menjaganya Arya yang bersembunyi di belakang pohon langsung pergi dari sana.


Meski dia belum bisa menerima segala yang terjadi tapi Arya tetap memikirkan keadaan Cantika. Hari ini dia tidak kebetulan lewat tapi dia sengaja datang untuk memastikan keadaan Cantika baik-baik saja.


Tak terasa sebulan berlalu dengan cepat, kini tiba waktunya pengumuman juara utama lomba menulis novel.

__ADS_1


Cantika, Rika dan Devan sebagai peserta yang berhasil lolos ke babak akhir masing-masing telah menyelesaikan tulisannya.


Lomba kembali digelar di gedung yang sama sebulan lalu.


Kali ini suasana semakin ramai karena banyak reporter yang datang untuk meliput acara malam ini.


"Hadirin semuanya, atas berkat Tuhan kita semua kembali bertemu di tempat ini untuk mengetahui siapa pemenang utama lomba menulis novel tahun ini. Dan sebentar lagi saya akan mengumumkan siapa pemenang kita. Aebelum itu saya menyampaikan kepada dua peserta lain yang belum mendapatkan kesempatan menang malam ini untuk tidak berkecil hati, karena meski bukan sebagai juara utama tapi karya kalian akan tetap kami hargai."


Pembawa acara membuka acara malam ini.


Cantika, Rika dan Devan duduk berdampingan di barisan paling depan.


Devan seorang penulis yang sudah lama dikenal orang. Sudah ada empat novel yang dia terbitkan. Dia bukan orang yang berambisi besar, dia mengikuti lomba ini hanya karena dia memang sangat suka menulis. Menang dan kalah bukan masalah baginya. Tapi berbeda dengan Rika, dia wanita yang penuh ambisi. Terlebih mengetahui Cantika adalah saingannya dia semakin ingin memenangkan lomba ini untuk mengalahkan Cantika. Tapi niat Cantika mengikuti lomba ini hanya demi dakwahnya. Dia ingin orang-orang yang membaca tulisannya tergerak hatinya untuk lebih memahami islam.


"Baiklah kini tiba saatnya kita menyambut juara utama kita yaitu..... Aisyah Cantika kita beri tepuk tangan yang meriah."


Semua tamu yang hadir bertepuk tangan dengan meriah. Devan langsung berdiri dan memberi ucapan selamat pada Cantika. Tapi Rika malah membuang mukanya, dia sangat kesal saat ini.


Cantika naik ke panggung dan mengucapkan terima kasihnya pada semua orang. Dia tidak mengetahui bahwa di tengah kerumunan orang-orang yang hadir ada seorang pria yang memperhatikannya.

__ADS_1


__ADS_2