
Saat sore hari Cantika keluar dari percetakan. Dia menunggu taksi di depan gerbang.
"Assalamu'alaikum bidadariku." Arya menghentikan mobilnya di depan Cantika.
"Wa'alaikumussalam suamiku, tumben pulang sore dan menjemputku?" Cantika masuk ke mobil. Iya, sangat jarang Arya pulang sore apalagi menjemput Cantika. Bukannya Arya tidak mau tapi Arya memang sangat sibuk mengurus rumah sakit yang begitu besar.
"Ingat tidak sekarang tanggal berapa?" Tanya Arya sambil tersenyum.
"Ya Allah ini hari jadi pernikahan kita yang ke 7 tahun." Cantika mengingat tanggal lalu memeluk Arya.
"Iya dan hari ini aku ada sesuatu untuk istriku yang tercinta."
"Benarkah?"
"Hmm, bersiap saja melihat kejutan suamimu ini." Kata Arya lalu mengemudikan mobilnya.
Dari kejauhan Remon mengepalkan tangannya melihat keharmonisan Arya dan Cantika.
"Kita bertemu di tempat biasa sekarang." Remon menutup telponnya lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Di sebuah cafe seorang wanita dengan rok pendek sedang membaca menu makanan.
"Aku sangat kesal hari ini." Kata Remon saat menghampiri wanita itu.
"Aku juga sangat kesal hari ini, rencanaku mendekati Arya gagal total." Rika mengeluhkan kegagalannya pada Remon.
"Sepertinya kita harus membuat rencana yang baik untuk memisahkan Arya dan Cantika." Kata Remon.
"Tapi apa? aku sudah lama mengejar Arya saat dia masih sendiri tapi aku tidak bisa mendapatkannya dan sekarang dia sudah menikah dan mempunyai anak akan semakin sulit lagi bagiku mendapatkannya." Keluh Rika.
"Jika cara halus tidak dapat membuat mereka tertarik pada kita, maka cara kasar pun bisa kita lakukan." Kata Remon dengan senyum liciknya.
"Ikut saja." Arya membawa Cantika ke sebuah taman.
"Aku hitung sampai tiga kamu buka mata yah, satu, dua, tiga."
Cantika membuka penutup matanya dan merasa silau dengan cahaya di sekitarnya.
"Sayang!, ini... maa syaa allah indah sekali."
__ADS_1
Cantika sangat takjub dengan pemandangan di sekelilingnya, sebuah taman yang sudah di hias dengan indah oleh Arya siang tadi. Dengan lampu yang kerlap kerlip dan kelopak bunga mawar putih yang bertaburan di sepanjang jalan.
"Terima kasih." Cantika memeluk Arya.
"Tunggu dulu, bukan ini kejutannya tapi..." Arya mengeluarkan sebuah cincin yang sangat indah dengan permata berbentuk bunga mawar.
"Maa syaa allah indah sekali." Cantika terpesona dengan cincin itu, itu dia rancang khusus untuk Cantika.
"Permata dengan bentuk mawar, aku tahu kamu sangat menyukai mawar dan Almarhumah Ibumu juga. Maka cincin itu akan menjadi simbol Ibumu yang akan selalu bersama kita." Kata Arya sambil memakaikan cincin itu di jari Cantika.
"Terima kasih Ar, kamu bukan hanya menyayangiku tapi juga sangat menyayangi Almarhumah Ibu dan mengingatnya meski Ibu telah lama tiada." Cantika begitu tersentuh dengan Arya yang masih memikirkan almarhumah ibunya.
"Orang yang sudah tiada bukan untuk di lupakan, justru kita harus selalu mengingatnya agar bisa mendoakan keselamatannya di alam sana." Kata Arya yang membuat Cantika sangat tersentuh dan merasa bersyukur telah mendapatkan seorang suami yang sebaik Arya.
"Baiklah malam ini kita akan lalui berdua, dan besok kita sekeluarga akan ke makam Ibu." Kata Arya lalu membawa Cantika duduk di depan meja makan malam yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Cantika sangat kagum dengan Arya, meski dia sibuk di rumah sakit tapi dia masih meluangkan waktu untuk itu semua demi dirinya.
Arya dan Cantika menikmati malam bersama. Dan dari kejauhan Remon dan Rika memandangi mereka dengan tatapan penuh rencana jahat.
__ADS_1