Bidadari Di Balik Cadar

Bidadari Di Balik Cadar
Pembelaan


__ADS_3

"Hentikan sayang, apa yang kamu ingin katakan? lihat ayah masih begitu lemah."


Arya mendekati Cantika dan menggenggam tangannya. Dia berpikir mungkin istrinya itu sedang setres karena pasca kondisi Pak Rohim tadi.


Cantika melihat ayahnya yang masih terbaring disana.


"Justru karena ayahku masih begitu lemahlah sehingga aku yang bersuara sekarang. Karena jika ayahku nanti sadarkan diri dia sendiri yang akan membuatmu sadar tentang siap Bibi."


Cantika kembali membuat Arya dan Bi Susi terkejut.


"Huhu maafkan jika Bibi mungkin pernah menyakitimu Nak, tapi tolong jangan menempatkan Bibi yang sudah tua ini dalam situasi terpojokkan huhu."


Bi Susi meningkatkan sandiwaranya. Sebenarnya dia sangat takut jika saja Arya dan Cantika mendapatkan petunjuk jika ada virus yang sengaja dimasukkan dalam tubuh Pak Rohim sehingga kondisi jantungnya mendadak berhenti.


Dia juga tak hentinya berdoa semoga tadi Arya tidak menemukan sesuatu yang akan membuat Arya mengetahui jika dia yang telah dengan sengaja menyuntikkan virus langkah itu pada Pak Rohim.


Remon yang memberinya virus itu mengatakan jika virus itu belum bisa di ketahui penyebab dan penawarnya kecuali oleh orang-orang tertentu yang pernah belajar tentang virus itu di desa kecil asal virus itu. Makanya Bi Susi berani melakukan hal yang Remon perintahkan.


Tapi jika sekarang Pak Rohim baik-baik saja dan hanya menunggunya sadar maka mungkin Arya yang telah menyelamatkannya dan mengetahui tentang virus itu juga.


"Maaf Bi, tapi tolong hentikan sandiwara Bibi."


Cantika berkata lalu melangkah ke arah Pak Rohim.

__ADS_1


"Lihatlah." Cantika membuka Baju ayahnya dan menunjukkan titik merah kecil pada Arya yang tadi dia lihat saat memeluk ayahnya dan tanpa sengaja kancing baju ayahnya terlepas.


Bi Susi semakin gugup, itu bekas dimana dia menusukkan jarum suntik untuk memasukkan virus itu pada Pak Rohim.


Arya melangkah mendekati Pak Rohim dan memperhatikan titik kecil itu. Sebagai dokter dia sangat tahu jika itu bekas jarum suntik.


"Karena merasa penasaran dengan Remon yang mengatakan kalau ayah tak sengaja menghubunginya dimalam itu dan dia membawa ayah ke rumah sakit kota maka aku memutuskan menemuinya. Aku menitipkan ayah pada Bibi dirumah dan hanya Bibi yang ada disana. Ayah baik-baik saja dan kamu sendiri mengetahui perkembangan kondisi ayah, tapi saat aku pulang ayah sudah..."


"Apa kamu menuduh Bibi?"


Belum selesai Cantika bicara Bi Susi sudah memotong pembicaraannya dan semakin membuat-buat tangisannya.


Arya merasa sangat bingung saat ini, selain tidak percaya jika Bi Susi yang melakukannya tapi dia juga tahu jika Cantika benar dua sangat tahu kndisi perkembangan Pak Rohim dan memang hanya Bi Susi satu-satunya orang yang di rumah.


"Sekali lagi maaf Bi, tapi tuduhanku ini bukannya tanpa alasan dan bukti."


Cantika mengeluarkan handphonenya lalu mencari sesuatu di dalamnya.


"Lihat sendiri." Cantika memutar rekaman CCTV yang dia sambung kehandphonenya ke pada Arya dan Bi Susi.


Dari awal rumah itu tidak dipasangkan CCTV oleh Arya, tapi sejak saat Cantika melihat perubahan dalam diri Bi Susi, Cantika diam-diam memasang kamera pengawas di kamar Danish dan Pak Rohim.


Sebenarnya Cantika hanya berniat mengawasi pergerakan Bi Susi pada putranya karena Cantika pernah mendapati Bi Susi sedang membawa Kitabnya di kamar Danish. Tapi kemudian Pak Rohim yang sedang sakit datang, jadi Cantika sekalian memasang kamera di kamar Pak Rohim hanya untuk mengawasi Pak Rohim dari jauh tanpa menaruh prasangka buruk pada Bi Susi.

__ADS_1


Didalam rekaman terlihat jelas saat Bi Susi sedang memaksa untuk menusukkan jarum pada tubuh Pak Rohim. Awalnya Bi Susi kewalahan karena Pak Rohim yang sudah agak bisa menggerakkan tangannya berusaha melawan, tapi biar bagaimana pun kesehatan Pak Rohim belum pulih, Bi Susi tersenyum puas saat berhasil menyuntik Pak Rohim.


Cantika menangis dan bertanya pada Bi Susi "Apa kesalahan ayah Bi? bukankah selama ini kalian sangat akrab dan baik-baik saja? lalu kenapa Bibi melakukan ini?" Cantika menghapus air matanya lalu menatap tajam Bi Susi yang sedang gemetar hebat. "Tapi apa pun itu, perbuatan Bibi tidak bisa di biarkan. Aku akan melaporkan Bibi pada polisi dan menunjukkan bukti rekaman ini."


Cantika mau menghubungi polisi tapi Arya menghentikannya.


"Aku mohon jangan lakukan itu, Bibi mungkin memang bersalah tapi kita belum tahu kenapa Bibi melakukan itu. Bisa saja Bibi terpaksa dan tidak punya pilihan lain." Bagaimanapun Arya tidak bisa membiarkan orang yang dari bayi merawatnya dengan cinta masuk ke dalam penjara.


"Terpaksa? tidak punya pilihan?" Cantika mengulagi pembelaan Arya kepada Bi Susi sambil tersenyum geli.


"Apapun itu apa bisa membuatnya mencoba menghilangkan nyawa ayahku?"Lanjut Cantika.


"Huhu tolong maafkan Bibi, Bibi memang di paksa seseorang untuk menyuntik Pak Rohim, tapi Bibi sama sekali tidak tahu jika itu akan membahayakan nyawa Pak Rohim. Remon memaksa Bibi, katanya kalau Bibi tidak mau maka dia akan melakukan yang lebih pada Danish dari pada penculikan waktu itu."


Bi Susi menemukan kambing hitam beserta alasannya.


Mendengar nama Remon lagi Arya dan Cantika sangat terkejut. Cantika merinding, sungguh Remon orang yang mengerikan.


"Meskipun begitu aku tetap akan membawa kasus ini ke pengadilan, katakan semuanya di pengadilan saja."


Cantika tetap pada pendiriannya, bukan tanpa alasan, bukan juga karena sekedar amarah, tapi ini jalan untuk menemukan bukti jika Remon di balik semua itu maka Cantika harus tahu kenapa Remon melakukannya kepada Pak Rohim yang telah begitu baik padanya bahkan telah memberinya semua hak Pak Rohim atas percetakannya.


Bahkan Cantika curiga jika ada hubungan di antara Bi Susi dan Remon.

__ADS_1


Biarkan polisi membantunya menyelidiki yang ingin dia ketahui.


__ADS_2