Bidadari Di Balik Cadar

Bidadari Di Balik Cadar
Rasa Sakit


__ADS_3

"Huhu maafkan Bibi Nak."


Bi Susi kini bukan hanya sekedar bersandiwara, tapi dia memang ketakutan jika sampai Cantika melaporkannya pada polisi dengan membawa bukti rekaman itu.


Tiba-tiba Bi Susi mendorong Cantika dan merebut handphonenya.


"Apa yang Bibi lakukan?" Cantika ingin berdiri dan mengambil Handphonenya lagi tapi di tahan oleh Arya.


"Arya?" Cantika menatap heran dan tak percaya dengan yang suaminya lakukan saat ini.


"Maafkan aku sayang, percayalah aku bukannya lebih membela Bibi, tapi Bibi tidak bisa masuk penjara karena Remonlah biang dari semua ini."


Arya menggenggam erat tangan Cantika yang berusaha mengambil handphonenya dari Bi Susi.


"Maafkan Bibi." Bi Susi tertawa puas dalam hati, dia berhasil menghapus remakan itu bahkan die merasa menang dua langkah dari Cantika karena sekarang Arya membelanya.


Arya melepaskan tangan Cantika dan mengusap-usap tangan istrinya itu yang memerah karena genggaman kuatnya tadi.


"Hentikan, luka dan rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dari pada luka di hatiku."


Cantika berlari keluar dari ruangan itu dan mencari putra kecilnya. Dia begitu kecewa kepada Arya.

__ADS_1


"Sayang tunggu." Arya mengejar Cantika, dia sangat bimbang saat ini, dia tahu dia telah sangat melukai istrinya, tapi dia juga tidak ada cara lain untuk menghentikan Cantika melaporkan Bi Susi.


Sedang Bi Susi kini tersenyum puas di ruangan itu. Tidak disangka dia berhasil membuat jarak di antara Arya dan Cantika tanpa sengaja.


Cantika terus berlari sampai menemukan Danish yang sedang bermain dengan suster.


"Mama kenapa menangis?" Danish menghapus air mata di pipi Cantika.


"Tidak apa-apa sayang, Ayo kita pulang, ini sudah larut malam."


Cantika menggendong putra kecilnya yang kebingungan itu tanpa menoleh ke arah Arya yang masih mengejarnya.


"Mah, Papa memanggil kita." Danish yang polos melihat Arya mengejar mereka.


Cantika sampai di tempat parkir dan meminta supirnya mengemudikan mobil.


"Ayo pak, jalan."


Arya berlutut di tanah saat melihat mobil Cantika menjauh. Dia tidak bisa mengejarnya lagi karena tadi dia dan Cantika mengendarai mobil yang sama.


"Mah, kenapa kita meninggalkan Papa? Papa tadi mengejar kita." Tanya Danish yang membuat Cantika bingung harus bagaimana menjelaskannya pada putranya yang masih kecil itu.

__ADS_1


"Danish tidur yah, ini sudah larut malam."


Cantika memeluk putranya erat dan terus meneteskan air matanya.


"Terus pak."


"Loh kemana Bu?" Supir merasa bingung, karena seharus sekarang mereka belok kiri ke kompleks Arya tapi Cantika malah memintanya lurus.


"Jalan saja." Kata Cantika yang membuat supirnya terus mengemudikan mobilnya melewati kompleks Arya.


Sedang Arya yang kembali ke ruangan Pak Rohim terlihat begitu lusuh.


"Maafkan Bibi Nak, semua gara-gara Bibi. Seandainya Bibi memiliki daya melawan Remon, tapi apalah daya Bibi yang hanya seorang wanita tua ini saat seseorang mengancam akan membahayakan cucu satu-satunya yang Bibi miliki huhu."


Bi Susi mulai berekting.


"Tidak Bi, ini hanya salah paham. Besok semua akan kembali tenang. Ayah juga akan segera sadar, ayah akan bisa memahami situasi Bibi, terlebih Bibi melakukannya demi cucunya juga. Ayah yang akan menjelaskan semuanya pada Cantika dan kita semua akan kembali bersatu untuk melawan Remon." Ucap Arya sambil menjatuhkan tubuhnya pada kursih.


Bi Susi kembali gugup, iya dia melupakan Pak Rohim yang akan segera sadar dan sembuh. Itu sangat mengancamnya, karena Pak Rohim tahu jika dirinya dan Remon memang bekerja sama. Bi Susi yang cerobah dan menyepelekan Pak Rohim yang sedang sakit, pernah menerima telpon dari Remon di hadapan Pak Rohim. Jika Pak Rohim sadar dan kembali normal maka tuhannya pun tidak bisa menyelamatkannya.


A

__ADS_1


__ADS_2