Bidadari Di Balik Cadar

Bidadari Di Balik Cadar
Pemilik Berikutnya


__ADS_3

Esok harinya, pagi-pagi sekali Arya mengantar Cantika ke Rumah sakit.


"Assalamualaikum ayah. Bagaimana keadaan ayah? maaf Cantika baru menemui ayah." Cantika menyapa Pak Rohim lalu duduk disampingnya.


"Waalaikumsalam. Alhamdulillah ayah sekarang jauh lebih baik. Keadaan kamu sendiri bagaimana? apa kamu dilukai oleh si brengsek Remon itu?" Pak Rohim susah payah bangun di bantu oleh Cantika bersandar di ranjangnya. Dia sangat marah pada Remon setelah Arya memberitahunya kejadian semalam melalui telpon.


"Tidak ayah, alhamdulillah Allah melindungiku dan mengirim suamiku untuk menyelamatkanku pada waktu yang tepat." Kata Cantika sambil melirik Arya yang di sampingnya.


Pak Rohim terdiam beberapa saat seperti memikirkan sesuatu.


"Nak, sebenarnya ayah mau mengatakan sesuatu, tapi ayah tidak tahu kamu akan setuju atau tidak." Kata Pak Rohim pada Cantika.


"Ada apa ayah? jangan sungkan kepada Cantika, katakan saja yang ayah mau katakan, selama tidak bertentangan dengan agama maka Cantika pasti mendengarkannya." Kata Cantika yakin.

__ADS_1


"Ayah juga mengetahui tentang cincin itu sebelumnya, dan itu adalah alasan utama ayah meninggalkan ibumu dulu." Kata Pak Rohim, mengingat kembali kejadian beberapa tahun lalu, saat dia meminta ibu Cantika membuang cincin itu dan memilih antara cincin itu atau dirinya, tapi ibu Cantika tetap memilih mempertahankan cincin dari mendiang ayahnya tersebut dari pada Pak Rohim.


"Tapi buat apa ibu mempertahankan cincin itu sedangkan ibu juga sama sekali tidak pernah memakainya demi kegunaan dari cincin itu." Pikir Cantika. Semua orang tahu kegunaan cincin itu adalah menjadikan pemiliknya penguasa yang diagungkan seperti dewa, tapi ibu Cantika tidak memakainya dan hanya hidup sederhana seperti orang lain.


"Dan kenapa kakek harus mewariskan cincin itu kepada ibu? kan ada paman seorang anak laki-laki yang biasanya lebih berhak mewarisi sesuatu dari orang tuanya dari pada anak perempuan?" Tanya Cantika lagi.


"Ibumu hanya menjalankan tradisi keluarganya, siapapun keturunan dari pemilik cincin itu, maka dia yang bertanggung jawab untuk cincin itu. Ibumu tidak memiliki ambisi besar sehingga mau menjadi penguasa yang di puja-puja, tapi dia tetap harus menjaga cincin itu sampai cincin itu menemukan pemilik berikutnya. Dan seharusnya kamulah pemilik cincin itu saat ini." Kata Pak Rohim dengan rasa takut dihatinya, dia takut jika saja putrinya ini tergoda dengan kekuasaan yang dimiliki cincin itu.


"Dan soal paman kamu Mordan, dia tidak berhak mewarisi cincin itu, karena dia hanya anak angkat kakekmu. Kakekmu sengaja mengirim Mordan untuk sekolah di luar negeri agar Mordan tidak tahu tentang cincin itu, dan Mordan baru kembali saat mendengar kakekmu meninggal, jadi dia tidak mengetahui apa pun tentang cincin tersebut."


"Jadi, aku harus apa sekarang?" Tanya Cantika, dia sangat bingung saat ini, dia sama seperti ibunya, tidak menginginkan cincin itu, tapi apa yang harus dia lakukan, jika terus menyimpan cincin itu maka pasti akan ada kejadian seperti semalam lagi.


"Ayah juga tidak tahu, setahu ayah cincin itu tidak bisa di hancurkan." Kata Pak Rohim.

__ADS_1


"Tapi kamu bisa menyimpan cincin itu ditempat yang tidak mungkin ditemukan orang?" Sambung Pak Rohim.


"Dimana?" Tanya Cantika.


"Dimakam kakekmu. Tidak akan ada yang menduga jika cincin itu berada disana, dan kalaupun ada, dia tidak akan bisa mengambilnya karena makam kakekmu dijaga ketat oleh pengikut setianya sampai sekarang."


"Iya ayah, aku sudah mencobanya tapi tidak bisa." Cantika benar-benar bingung sekarang, kenapa harus ada cincin seperti itu di dunia ini?


Arya hanya menjadi pendengar saat ini, dia juga tidak tahu menahu tentang cincin itu lagi.


Sore hari, karena kondisi Pak Rohim pulih dengan cepat, maka dia sudah boleh pulang.


"Ayah kenapa tidak tinggal bersama kami saja? aku sangat menghawatirkan ayah jika sendirian disini."

__ADS_1


Cantika sudah mengajak Pak Rohim pulang ke rumahnya, tetapi Pak Rohim terus menolak. Pak Rohim memilih tinggal dirumahnya sendiri.


"Ayah sudah sehat, kamu tidak perlu menghawatirkan ayah." Kata Pak Rohim.


__ADS_2