
Surya memasuki kamar dan mengambil ponselnya, dia membuka kontak Rika lalu berpikir apakah menelponnya atau tidak.
"Selamat malam, aku Surya apa kamu sudah tidur?"
Surya memutuskan mengirim pesan saja.
Rika yang baru bersiap tidur melihat ada pesan masuk di handphonenya.
"Surya? Arya? Surya? Arya?"
Setiap mendengar nama Surya, Rika selalu mengingat Arya juga. Harus dia akui jika memang sangat sulit melupakan seseorang yang pernah kita cintai.
"Belum, ada yang bisa aku bantu?" Balas Rika.
Melihat Rika membalas pesannya, Surya sangat senang, setidaknya Rika tidak segitunya menghindari dia.
"Iya, aku hanya mau bertanya apa besok kamu bisa ke perusahaan? ada hal penting yang harus aku tangani tapi aku belum terlalu mengerti, aku butuh bantuanmu." Kata Surya, sebenarnya itu hanya alasan untuk bisa bertemu Rika dan lebih dekat dengannya. Dia sadar, jika dia telah jatuh hati pada Rika saat melihat Rika tersenyum menggendong Danish di hari pertama mereka bertemu. Walau awalnya dia berpikir Rika itu gadis cuek dan angkuh, tapi saat dia melihatnya tersenyum dan tertawa saat menggendong Danish, terlebih setelah mengetahui kisahnya dari Arya, Surya berpikir jika Rika itu gadis yang baik dan penyayang, hanya saja itu soal hati sehingga dulu dia menjadi hilang akal dan berusaha memisahkan Arya dengan Cantika. Apalagi saat mendengar Arya mengatakan jika wajah Rika sekarang adalah hasil operasi plastik, Surya merasa sangat prihatin.
__ADS_1
Membaca pesan Surya, Rika berpikir sejenak. Dia memang tidak ada kelas besok, tapi sanggupkah dia berhadapan dengan wajah itu?
Surya yang dari tadi menunggu balasan Rika mengira Rika sudah tidur jadi tidak membalasnya, atau mungkin Rika memang sama sekali tidak mau bertemu dengannya.
"Akan aku usahakan." Setelah berpikir lama, akhirnya Rika memutuskan jika dia ingin move on dari Arya maka tidak berarti dia menghindari Surya, meski wajah mereka sama persis tapi nyatanya mereka berbeda. Arya adalah Arya dan Surya tetap Surya.
Membaca balasan singkat Rika, Surya merasa sangat senang. Dia yakin meski perkataannya tidak pasti tapi Rika pasti akan datang.
Esok harinya pagi-pagi sekali Surya sudah sangat rapi.
"Tentu, aku harus mengejar karirku dengan semangat bukan." Surya mengambil makanan dan buru-buru memakannya.
"Karir apa karir?" Sindir Arya merayu kakaknya itu.
"Yah karir, ya sudah aku pergi dulu assalamualaikum." Surya segitu cepatnya menghabiskan sarapannya lalu pergi ke perusahaan.
"Lihat tingkah iparmu itu, apa aku salah jika merasa dia sungguh jatuh cinta saat ini?" Colek Arya pada Cantika.
__ADS_1
Cantika tersenyum dan berkata "Iya, tingkahnya sama persis dengan tingkahmu dulu."
Arya dan Cantika tertawa mengingat masa-masa indah mereka dulu.
"Sarapan Danish mana?"
Suara Danish menyadarkan mereka jika saat ini masih ada anak kecil di sana.
Cantika tersipu malu, lalu segera menyajikan sarapan Danish.
Sedang Surya yang kini sangat riang mengemudikan mobilnya menuju perusahaan. Dia sudah putuskan jika hari ini dia ingin langsung mengatakan perasaannya kepada Rika tanpa menunggu lama. Dia tau keyakinan mereka berbeda dan ini juga terlalu cepat, tetapi jika Rika mau menerimanya mungkin mereka berdua bisa bersama-sama menemukan jalan agar mereka bisa bersatu.
"Aaaah!"
"Bruuaakkk!"
Tiba-tiba Surya dikagetkan dengan sebuah truk yang sepertinya kehilangan kendali dan langsung menghantam mobilnya.
__ADS_1