
"Sayang, Mama antar kamu ke Papa yah? Mama mau ke rumah sakit jagain kakek."
"Iya Mah."
Cantika mengantar putranya ke rumah Arya.
"Assalamualaikum."
Melihat Cantika pulang, Bi Susi merasa kesal.
"Kenapa secepat ini mereka baikan?" Pikir Bi Susi.
Arya turun dan melihat istri dan putranya pulang tanpa dia duga merasa sangat senang.
"Sayang kamu sudah pulang?" Sapa Arya dengan bahagia pada Cantika.
"Aku mengantar Danish, aku mau menjaga ayahku di rumah sakit dan tidak tega meninggalkan Danish sendiri."
Perkataan Cantika memudarkan senyum yang tadinya mengambang di wajah Arya.
"Danish di rumah bersama nenek, Papa akan ke rumah sakit bersama Mama." Kata Arya, dia berniat menemani Cantika menjaga Pak Rohim.
"Tidak, aku menitipkan putraku padamu, kalau mau aku pergi sendiri, tapi kalau tidak kami akan pergi bersama." Cantika mana mungkin membiarkan Danish tinggal berdua dengan Bi Susi.
__ADS_1
Arya yang sedikit paham dengan maksud Cantika mengangguk setuju.
"Mama pergi dulu yah sayang, ingat semua pesan Mama oke?"
"Oke Mah."
Cantika pergi tanpa memperhatikan Arya yang sangat merindukan senyuman manis istrinya itu.
Sebenarnya sangat sulit bagi Cantika berikap acuh pada Arya, tapi ini tidak akan lama lagi, pikir Cantika.
Esok harinya, setelah Sholat subuh berjama'ah, Arya menyimak hafalan surah-surah pendek Danish.
"Pah kenapa sebulan terakhir ini nenek tidak pernah berjama'ah dengan kita lagi? padahal dulunya kita selalu berjama'ah bareng."
Tanya Danish yang membuat Arya baru berpikir kalau belakangan ini Bi Susi memang tidak pernah ikut berjama'ah sekali pun.
"Bagaimana kalau nenek tidak lagi sholat?" Danish mengingat perintah Cantika dan apa-apa yang harus dia katakan pada Arya.
"Tidak mungkin sayang, nenek seperti Papa dan Mama, memeluk islam karena kesadaran sendiri, tidak ada paksaan, jadi pasti akan siap menjalankan semua kewajiban dalam islam." Kata Arya.
"Tapi bagaimana kalau nenek menyesal telah memeluk islam dan kembali ke keyakinan yang dulu?" Tanya Danish lagi.
"Kenapa Danish bertanya seperti itu?"
__ADS_1
Arya heran dengan pertanyan-pertanyaan putranya dari tadi. Seakan putranya ingin mengatakan sesuatu.
"Nenek pernah menyuruh Danish mempelajari kitab aneh itu, Nenek juga pernah mengatakan kalau rumah Tuhan itu gereja, bukan Masjid."
Perkataan Danish membuat Arya kaget.
"Kalau Papa tidak percaya lihat saja ini."
Danish mengeluarkan laptop dari tasnya dan membuka laptop yang diberikan ibunya itu tadi.
"Lihat."
Danish memutar rekaman kamera saat Bi Susi membawa kitabnya untuk kedua kalinya ke kamar Danish.
Terlihat Bi Susi berusaha menanamkan keyakinannya pada Danish yang polos.
Arya tidak bisa percaya, kenapa Bi Susi melakukan itu?
Pagi-pagi sekali Arya dan Danish pamit keluar.
"Kami akan menengok Pak Rohim, mungkin tidak sempat pulang makan siang jadi Bibi tidak usah repot menyiapkan makan siang kami."
Hari ini adalah hari minggu, jadi Arya mengatakan mau ke rumah sakit bersama Danish untuk menjenguk Pak Rohim padahal dia dan putra kecilnya itu sudah mengatur rencana untuk menangkap basah Bi Susi.
__ADS_1
Bi Susi yang tidak menaruh curiga merasa senang, karena dia tidak perlu repot mencari alasan untuk keluar saat harus beribadah rutin nanti.
{ sebagai penulis saya tidak menyelah atau menyalahkan Bi Susi karena seorang non-muslim dalam tulisan ini, tapi saya menyampaikan pandangan pribadi saya karena cara Bi Susi keluar dari islam yang tidak benar dan sifat Bi Susi yang menusuk dari belakang dengan kemunafikannya}