
"Katakan pada Tuanmu, aku tidak akan kembali ke rumah yang di dalamnya tidak di dirikan keadilan. Sampaikan padanya jangan mendekati aku dan putraku sebelum dia mampu membedakan yang benar dan yang salah. Satu lagi, katakan padanya aku akan tetap membawa kasus ini ke pengadilan meski tanpa bukti yang telah dia hancurkan."
Pesan Cantika pada supirnya, lalu membawa Danish memasuki rumahnya, rumah dimana dia lahir dan tumbuh.
Arya yang mendengar pesan Cantika dari mulut supirnya seperti disambar petir. Dia tidak menyangka jika istrinya akan semarah itu sampai pergi meninggalkannya.
Lain halnya dengan Bi Susi, dia malah semakin girang. Terserah jika Cantika melaporkannya karena tanpa bukti dan pembelaan Arya maka itu akan sia-sia. Hanya satu yang dapat mengancamnya, yaitu kesaksian Pak Rohim.
Bi Susi mulai berpikir keras. "Bagaimana caranya membuat si tua Pak Rohim itu tiada?" Pikir Bi Susi.
Melihat Arya duduk lemas seperti tidak bernyawa disana, Bi Susi mengambil kesempatan diam-diam keluar dan menghubungi Remon.
"Semua ini karena kecerobohan Tante." Bentak Remon di seberang telpon.
"Iya, tapi ini juga kamu yang suruh." Bi Susi juga kesal dengan anak tirinya yang selalu menekannya itu.
"Hm baiklah, untuk sementara tante jangan bertindak dulu. Serahkan semuanya padaku." Kata Remon.
"Hati-hati, Arya mulai mengawasimu. Jangan libatkan aku kalau kamu ketahuan." Kata Bi Susi.
__ADS_1
Remon menghempaskan handphonenya di atas kasur.
"Dasar wanita tua ini, melakukan hal kecil saja ngak becus. Tapi mendinglah, setidaknya saat ini Arya dan Cantika sedang bertengkar, jadi ini adalah kesempatan baik untuk aku mendekati Cantika. Tapi pertama-tama aku harus membereskan Pak tua itu dulu."
Remon mulai menyusun rencana busuknya.
Pagi harinya, saat bangun tidur Danish kebingungan melihat dia berada ditempat asing.
"Assalamuaalaikum sayangnya mama."
Cantika datang dengan semangkok bubur hangat di tangannya.
"Rumah kita, ini dulunya rumah Mama dan Almarhumah nenek. Sekarang kita akan tinggal disini." Jawab Cantika sambil berpikir bagaimana dia akan menjelaskan pada putranya itu jika saat ini dia memutuskan pisah rumah dulu dengan Arya sampai kebenaran terungkap.
"Papah?"
Dan benar saja, Danish menanyakan Arya karena mengingat semalam mereka meninggalkan Arya di rumah sakit.
Cantika kebingungan menjawab Danish, dia tidak mungkin membebani putranya dengan permasalahannya yang rumit, tapi tidak mungkin juga dia memberi jawaban bohong pada putranya iti, sedang dia yang selalu mengajari putranya untuk selalu berkata jujur.
__ADS_1
"Emmm Papa..."
"Assalamu'alaikum jagoan Papa."
Belum selesai Cantika menjawab Danish, Arya datang dan memasuki kamar Danish.
Sebenarnya Cantika sangat merindukan Arya, namun mengingat kejadian semalam Cantika bingung harus bagaimana bersikap pada suaminya itu.
"Waalaikumsalam." Jawab Cantika dan Danish.
"Papa, Danish merindukan Papa." Danish memeluk Arya yang telah berjongkok dan merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan putranya itu.
"Papa juga sangat merindukan Danish." Kata Arya lalu menatap Cantika yang hanya diam disana.
"Danish sarapan dulu yah di bawah, Papa mau ngobrol sama Mama." Arya melihat bubur di tangan Cantika dan memberikannya pada Danish.
"Papa juga merindukan Mama yah?" Tanya Danish dengan lugunya namunembuat kedua orang tuanya tersipu malu.
Arya memang sangat merindukan Cantika, semalaman dia memikirkan istrinya yang sedang marah itu sampai dia tidak bisa tidur. Dan pagi-pagi sekali dia kemari meski Cantika sudah melarangnya datang.
__ADS_1
"Iya, sekarang sana makan sarapan Danish." Pengakuan Arya pada putranya bahwa dia merindukan Cantika membuat Cantika semakin tersipu malu. Namun itu juga tidak bisa membuatnya melupakan kejadian semalam. Dia sangat terluka dan kecewa karena Arya membiarkan Bi Susi menghapus bukti rekamannya, bahkan mati-matian membela Bi Susi.