
Malam hari saat makan malam, Danish menceritakan kejadian Rika dan Surya yang tidak sengaja tabrakan dan tertawa keras karena Rika salah mengira Surya adalah Arya.
"Hei bocah apanya yang lucu?" Surya kesal melihat Danish masih juga menertawakannya.
"Bibi yang lucu, dia tidak mau meraih tangan paman yang malang karena mengira paman itu papa." Kata Danish yang membuat Surya bingung.
"Iya, bibi itu dulu seperti penyihir jahat, bibi pernah menyukai papa dan ingin memisahkan mama dan papa." Tambah Danish.
"Danish! tidak boleh mengungkap aib orang lain, apalagi itu hanya masa lalu." Tegur Cantika pada Danish yang tidak sengaja mengungkap masa lalu Rika yang mengejar Arya.
Surya terdiam lalu mencerna perkataan Danish. Dia mengerti kenapa tadi Rika bersikap cuek padanya sebelum Rika tahu dia bukanlah Arya.
"Allaahuakbar."
Saat waktu isya Surya lewat di ruang sholat dan melihat Arya bersama keluarga kecilnya sedang jama'ah.
__ADS_1
Surya tersenyum melihat mereka lalu berjalan ke kamarnya.
Saat waktu sholat subuh, Arya dan Cantika terkejut mendapati Surya duduk di ruang sholat dengan penampilan yang sangat berbeda, dia menggunakan baju koko cream yang membuatnya terlihat bersinar.
"Ar, maukah kamu menuntunku mengucapkan dua kalimat syahadat?" Tanya Surya.
Arya dan Cantika sangat terkejut dengan apa yang dia dengar.
"Sungguh? apa kakak bersungguh-sungguh ingin menjadi muslim?" Tanya Arya.
Arya sendiri yang menuntun Surya mengucapkan dua kakimat indah Allah lalu mereka sholat jama'ah bersama. Surya yang masih belajar mengikuti gerakan Arya sebagai imam dengan khusyu'. Kini perasaan tentram dan damai memenuhi rumah itu.
"Ar sepertinya aku harus mencari pekerjaan." Kata Surya saat sarapan pagi.
Arya menatap Surya lalu melirik Cantika.
__ADS_1
"Apa kamu merasa kekurangan kak?" Tanya Arya.
"Tentu tidak, tapi aku ini pria, sudah pasti harus bekerja dan menata masa depan untuk bekal jika berumur panjangkan?" Kata Surya.
Cantika hanya diam dan menjadi pendengar disana, begitulah dia jika tidak ditanya maka dia pasti hanya diam.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Arya pada Cantika.
"Kak Surya benar, ini bukan soal merasa kekurangan atau tidak, tapi seorang pria adalah calon pemimpin setidaknya di dalam keluarganya kelak, maka sudah kewajibannya memenuhi semua kebutuhan di dalam rumah dan keluarganya, jadi untuk itu pria harus bekerjakan." Jawab Cantika.
Arya berpikir jika itu memang benar.
Saat itu juga Cantika menghubungi pamannya Mordan dan menanyakan apakah di perusahaannya membutuhkan seseorang dalam urusan manajemen? karena Surya hanya memiliki bekal dari lulusan manajemen itu sendiri dan belum ada pengalaman sama sekali.
"Terima kasih paman, hari ini juga kami akan kesana." Cantika menutup telponnya dan berkata sambil tersenyum "Selamat kakak ipar, kebetulan sekali di perusahaan paman sedang membutuhkan kinerja kakak, soal pengalaman itu tidak jadi masalah, akan ada anak pamanku yang akan mengajari kakak ipar."
__ADS_1
"Terima kasih, kalian sudah sangat membantuku, aku berjanji akan belajar dengan giat dan bekerja keras agar tidak mengecewakan kalian." Surya sangat senang, akhirnya dia bisa mendapatkan pekerjaan.