
Melihat punggung Cantika Remon merasa kesal, dia juga menggenggam erat surat kuasa yang dia dapatkan paksa dari Pak Rohim.
Remon tidak mengetahui jika sebagian dari percetakan itu adalah atas nama Cantika.
Remon berencana menguasai percetakan itu, kemudian secara perlahan menutupnya karena percetakan itu adalah sumber utama para penyiar islam menyampaikan dakwahnya termasuk Cantika.
Remon mau menciptakan situasi dimana para penulis muslim disana terpaksa berhenti menulis sehingga perkembangan islam di kota yang tadinya mayoritas non-muslim itu kembali seperti sedia kala.
Tapi sepertinya rencananya tidak akan semudah yang dia bayangkan, karena Cantika adalah dinding tebal yang harus dia runtuhkan dulu.
Cantika pulang dan mendapati Bi Susi sedang duduk sambil membaca koran di samping Pak Rohim.
"Terima kasih Bi."
Bi Susi seperti tidak mendengarkan ucapan terima kasih Cantika, dia langsung berdiri dan berjalan melewati Cantika begitu saja.
Cantika beristighfar dalam hati lalu duduk di samping ayahnya.
"Ayah, ayo bangun. Waktunya makan obat." Cantika mau membantu Pak Rohim memakan obatnya tapi betaka terkejutnya Cantika saat melihat kondisi Pak Rohim.
Badan Pak Rohim kaku dan mulutnya yang tadinya normal sekarang menjadi miring. Bahkan tangan yang tadinya sudah bisa dia gerakkan menjadi kaku kembali.
"Sayang cepat kembali, kondisi ayah tiba-tiba memburuk."
Cantika menghubungi Arya dan memintanya segera pulang.
Arya yang mendengar kondisi mertuanya segera pulang dan menyerahkan tugasnya pada dokter lain.
"Apa yang terjadi?" Tanya Arya kaget saat melihat kondisi Pak Rohim.
"Aku tidak tahu, aku baru kembali dari percetakan dan mau membantu ayah makan obat tapi ayah..." Cantika menangis dan merasa bersalah karena telah meninggalkan ayahnya tadi.
Bi Susi segera memasuki kamar Pak Rohim dan bertanya "Ada apa dengan Pak Rohim?"
__ADS_1
Cantika melihat Bi Susi, dia ingin mengatakan sesuatu tapi dia tahan karena takut akan terjadi salah paham.
"Kita harus membawa ayah ke rumah sakit." Arya membawa Pak Rohim ke rumah sakit bersama Cantika.
Di rumah sakit Arya sibuk memeriksa kondisi Pak Rohim, bahkan dia juga memanggil dokter seniornya karena dia tidak bisa percaya dengan hasil pemeriksaannya sendiri.
Dokter senior keluar dan langsung menghampiri Arya. Dia membisikkan sesuatu pada Arya yang membuat ekspresi Arya memburuk.
"Apa yang terjadi pada ayah?" Melihat ekspresi suaminya memburuk Cantika tidak tahan dan bertanya.
"Fungsi jantung ayah melemah secara tiba-tiba dan itu sangat membahayakan nyawa ayah." Dengan berat hati Arya menyampaikan kondisi mertuanya pada Cantika.
Cantika begitu terkejut.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? aku mohon lakukan apa pun untuk menyelamatkan ayah, aku tidak mau kehilangan ayah lagi." Cantika menangis di pelukan Arya.
Arya juga seperti kehilangan kekuatan, dia sudah memeriksa kondisi jantung Pak Rohim yang tiba-tiba melemah tapi tidak menemukan apa penyebabnya. Bahkan dokter seniornya juga tidak mengetahui penyebabnya.
Melihat istrinya yang begitu dia cintai menangis dan memohon padanya Arya merasa sedih.
Tubuh Cantika lemas, dia berjongkok di lantai sambil menangis.
"Sayang, kita serahkan semuanya pada Allah yah. Kamu harus kuat, berdoalah semoga aku dan dokter senior bisa mengetahu penyebab turunnya fungsi jantung ayah agar kami dapat segera menanganinya." Arya membantu Cantika duduk di kursi kemudian masuk kembali ke ruangan Pak Rohim bersama dokter seniornya.
Segala cara dan metode Arya lakukan untuk mencari tahu penyebab turunnya fungsi jantung Pak Rohim yang tiba-tiba itu dan akhirnya dia menemukan petunjuk.
Ada semacam virus langkah yang masuk ke dalam jantung Pak Rohim. Entah itu virus jenis apa tapi Arya pasti akan mengetahuinya.
Arya melakukan uji lab pada sampel virus tersebut .
"Dari mana asal virus mengerikan ini?" Dokter senior bertanya pada Arya saat mengetahui jenis virus tersebut.
"Kita akan mengetahuinya nanti tapi sekarang kita harus meracik obat penawar untuk virus itu."
__ADS_1
Dari siang sampai malam Arya dan dokter seniornya membuat penawar dari virus yang telah dia pelajari dengan singkat itu.
"Dok kondisi pasien semakin menurun, detak jantungnya sudah tidak terdeteksi lagi." Suster yang membantu disana melapor pada Arya.
Arya yang baru menyelesaikan racikan penawarnya merasa sangat panik. Dia tidak tahu harus berkata apa pada istrinya yang di luar sana jika saja dia gagal menyelamatkan ayah istrinya itu.
"Anda mau apa dok? jantung pasien sudah berhenti berdetak." Suster disana bertanya dengan bingung pada Arya yang berusaha menyuntikkan penawar pada Pak Rohim. Menurut medis Pak Rohim itu sudah meninggal.
"Minggir, akan aku lakukan hal yang tak mungkin hari ini." Arya memantapkan hatinya untuk mencoba memberi penawar itu pada mertuanya. Dia sangat yakin dengan hasil racikannya hanya saja ini masalah waktu, jantung Pak Rohim berhenti semenit sebelum penawar itu siap. Tapi Arya tidak putus asa, dia tetap mencobanya demi wanita yang sedang bergantung padanya di luar sana.
Sedang Cantika sedang bersujud di musollah rumah sakit. Dia menangis dan berdoa untuk keselamatan ayahnya.
"Ya Robb ini ujian atau hukuman untuk hamba? hamba tahu ujianmu tidak akan pernah melampaui kemampuan hamba. Tapi apakah ini hukuman? rasanya hamba tidak akan sanggup menghadapinya jika saja engkau merenggut ayah secepat ini."
Cantika tak hentinya berdoa untuk keselamatan ayahnya.
Sedang Arya yang hampir putus asa terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini.
Pak Rohim kejang-kejang menandakan jantungnya berfungsi kembali.
Arya dan dokter seniornya segera mengambil tindakan dan memeriksa kondisi Pak Rohim.
"Ini keajaiban Tuhan, setelah sekian lama aku menjadi dokter baru kali ini aku melihat kasus seperti ini. Selamat dokter Arya, usahamu dengan penuh keyakinan membawakan hasil." Kata dokter Viki yang merupakan senior Arya. Dia seorang non-muslim, namun tidak menilai orang dari sudut pandang keyakinannya.
Arya bersujud dan mengucapkan hamdalah dengan meneteskan air mata lalu berlari keluar mencari istrinya.
Arya tidak melihat Cantika di luar ruangan tapi dia bisa menebak dimana istrinya berada. Arya berlari ke arah musollah dan langsung memeluk istrinya.
"Sayang selamat, alhamdulillah ayah sekarang baik-baik saja." Kata Arya menangis sambil tertawa.
"Alhamdulillah." Cantika bersujud kemudian mencium tangan Arya berkali-kali.
"Terima kasih, tanganmu ini telah membawa keajaiban dengan menyelamatkan ayahku. Terima kasih terima kasih." Cantika terus menciumi tangan Arya.
__ADS_1
Arya mengusap kepala istrinya itu.
"Ayo, kita lihat ayah." Arya menggandeng Cantika menemui Pak Rohim.