
Di malam yang sama, Arya mendekati Cantika dan memeluknya dari belakang.
"Ini sudah sangat malam, tidurlah." Cantika tau, suaminya itu pasti menginginkan sesuatu.
"Tidak, kembaranku sedang bersama istrinya saat ini, aku tidak mau kalah darinya." Ucap Arya sambil menjalankan tangannya kemana-mana.
"Mah, Danish tidak mau tidur sendiri."
Suara Danish menghentikan gerakan Arya dan membuatnya kesal.
"Anak itu, selalu saja." Gumam Arya dongkol.
Cantika tersenyum melihat tampang suaminya yang saat ini persis dengan tampang anak kecil yang gagal mendapatkan permen.
"Iya sayang, ayo mama temani Danish tidur."
Danish menggandeng tangan Cantika lalu menengok ke Arya dan menjulurkan lidahnya.
"Awas saja, aku akan membalasmu."
Arya yang sudah tau jika putra kecilnya yang nakal itu pasti sengaja mengganggunya lagi.
Arya menghempaskan dirinya ke kasur lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Sayang?"
Di tengah tidurnya yang sudah nyenyak, Arya seperti mendengar suara istrinya dalam mimpi.
__ADS_1
"Sayang?"
Arya lagi-lagi mendengarnya, dia menarik bantal lalu menutupi kepalanya.
Dia berpikir jika itu hanya mimpi, karena tidak mungkin putranya yang nakal itu akan membiarkan istrinya pergi.
"Ya sudah aku kembali ke Danish saja."
Arya sontak terbangun mendengar suara Cantika dan apa yang dia katakan dengan jelas.
"Eh jangan." Arya buru-buru bangun dan menarik tangan Cantika.
"Aku pikir kamu tidak bisa tidur tanpaku, ternyata salah, meski sudah aku bangunin berulang kali kamu tetap tidur."
Cantika pura-pura kesal pada Arya.
"Maaf, aku baru terlelap dan aku pikir aku hanya mimpi mendengar suara kamu. Lagian aku tidak mengira putra nakalmu itu akan membiarkanmu menemuiku."
"Apa kamu bilang? putra nakalku? apa dia bukan putramu?
"Iya, dia putraku, tapi nakalnya sama sepertimu."
"Apa aku nakal?"
"Yah kadang-kadang."
"Arya?"
__ADS_1
"Hehe tidak, istriku ini sangat baik dan manis." Arya mencium lalu memeluk Cantika dan...malam pun berlanjut.
Beberapa bulan berlalu, Di perusahaan Mordan sedang di adakan acara pergantian pimpinan baru.
"Selamat kak Surya." Arya memeluk saudara kembarnya itu.
Hari ini Surya resmi menjadi pemilik perusahaan Mordan, bukan karena melihatnya sebagai menantu, tapi Mordan percaya dengan kegigihan dan kerja keras Surya yang selama beberapa bulan ini dia perlihatkan serta kemampuan Surya yang telah membuat banyak investor besar bergabung dengannya, maka Mordan yakin jika ini saatnya dia untuk pensiun dengan tenang.
"Terima kasih, ini juga berkat doa dan dukungan kalian."
Tentunya, salah satu investornya adalah Arya sendiri.
"Berhenti."
Saat perjalan pulang, Cantika tiba-tiba meminta Arya berhenti di tengah jalan.
"Ada apa sayang?" Arya sedikit cemes, mengira Cantika kenapa-kenapa.
Cantika tidak menjawab namun langsung keluar dari mobil dan menghampiri seorang wanita yang sedang duduk di pinggir jalan dengan pakaian compang camping dan tubuh yang sangat kotor.
Arya mengukuti Cantika keluar dari mobil.
"Bibi?" Cantika berjongkok di depan wanita itu dan mengenalinya, Bi Susi.
"Bibi?" Arya juga mengenali wanita yang selama ini sudah merawatnya dari kecil.
Bukan karena keras hati ataupun dendam, Arya tidak pernah menjenguk Bi Susi karena tidak tega melihat wanita yang dia anggap ibu itu berada di balik jeruji.
__ADS_1
Arya dan Cantika pernah mencabut laporannya dan berharap Bi Susi di bebaskan. Tapi Molla datang dan memberikan bukti pada polisi jika Bi Susi adalah pembunuh suaminya, Ayah Remon yang bahkan suami Bi Susi sendiri saat itu. Itulah sebabnya Molla sangat membenci wanita itu, bukan hanya merusak rumah tangganya, Bi Susi juga membunuh suaminya saat suaminya ingin menceraikan Bi Susi dan rujuk dengannya lagi.
Karena sikap baiknya, Bi Susi mendapat potongan masa tahanan dan kini Bi Susi telah keluar dari penjara. Tapi karena tidak punya tempat tinggal selain rumah Arya sebelumnya, Bi Susi harus hidup di jalanan selama dua bulanan ini. Dia malu untuk pulang ke rumah Arya, orang yang dia akui sebagai putra sendiri tapi telah dia hianati dengan mencoba merusak kebahagiaan terbesarnya.