Bidadari Di Balik Cadar

Bidadari Di Balik Cadar
Menyimpan Cincin Dewa


__ADS_3

Esok harinya sekitar jam 4 sore, Pak Rohim bersama Arya dan Cantika berangkat ke makam mendiang kakek Cantika.


"Apa kita akan di izinkan masuk?" Tanya Cantika pada Pak Rohim saat melihat puluhan penjaga berdiri di sekeliling makam mendiang kakeknya berjaga seperti pengawal istanah.


"Tentu, perlihatkan cincin itu, maka jangankan menghentikanmu mereka bahkan tidak akan berani memandangmu." Jawab Pak Rohim dengan yakin.


Mereka bertiga berjalan ke depan pintu makam yang sangat besar dan di jaga ketat seperti kerajaan itu.


"Kalian siapa? dan ada perlu apa kesini? Tanya salah satu penjaga bertubuh besar yang ada disana, dia heran dengan kedatangan tiga orang itu dan bahkan salah satunya yaitu Cantika tertutup oleh pakaian syar'i.


Cantika hanya menunjukkan cincinnya dan tidak mengatakan niatnya kesana seperti yang Pak Rohim perintahkan. Mereka harus menyimpan cincin itu diam-diam tanpa seorang pun yang tahu termasuk penjaga disana sekalipun.


"Maaf, silahkan." Kata penjaga tadi sambil membungkukkan badannya lalu di ikuti oleh semua penjaga yang ada disana.


Melihat orang-orang begitu menghormatinya hanya karena sebuah cincin kecil Cantika bukannya merasa senang dan bangga tapi beristighfar dalam hatinya.


Mereka bertiga memasuki makam yang begitu besar itu, di dalamnya sangat bersih dan rapi, terlihat jelas jika makam ini terjaga dengan baik.


"Disini sangat rapi dan bersih ayah, penjaga pasti sering masuk untuk membersihkannya, lalu dimana aku bisa menyimpan cincin ini agar tidak ada yang bisa melihatnya saat peniaga membersihkan tempat ini?" Tanya Cantika agak bingung.

__ADS_1


"Disana." Kata Pak Rohim sambil menunjuk peti mati kakek Cantika.


"Bagaimana mungkin ayah? disana ada jasad kakek yang penjaganya sendiri pasti tidak berani membukanya." Kata Cantika tidak mengerti dengan jalan pikir ayahnya.


"Justru karena itu, jika kita menyembunyikan cincin ini di dalam peti itu bersama jasad kakekmu, cincin ini akan aman termasuk dari penjaga makam ini sendiri." Jelas Pak Rohim.


Cantika mengerti dengan maksud ayahnya, dia berpikir sejenak lalu memutuskan untuk menyimpan cincin itu di dalam peti mati jasad mendiang kakeknya.


Cantika perlahan membuka peti mati itu, dia melihat jasad kakeknya yang ternyata meski sewaktu hidup dia di anggap dewa tetapi matinya pun bisa jadi tulang belulang. Itu membuktikan jika semua hamba sama di mata Allah.


Cantika meletakkan cincin itu disana lalu menutup peti itu lagi.


"Kenapa kalian mengikuti kami?" Tanya Pak Rohim kepada salah satu penjaga makam mendiang kakek Cantika saat melihat beberapa dari mereka mengikutinya.


Pak Rohim mengerti jika penjaga-penjaga itu mengikuti Cantika yang tadi mereka lihat memegang cincin dewa itu.


"Itu bukan takdir, tapi kebodohan kalian. Takdir seseorang ditentukan oleh Sang pencipta tapi kita sendiri harus berusaha membuat takdir itu, bukan seperti kalian yang mengabdikan diri hanya untuk seseorang yang nyatanya sama saja dengan kalian." Kata Cantika.


"Jangan ada yang mengikutiku!" Sambung Cantika dengan tegas lalu pergi dari sana.

__ADS_1


Para pengawal dibuat bingung oleh pemilik cincin kali ini yang tidak menginginkan pengikut setia seperti mereka yang rela melakukan apapun termasuk mempertaruhkan nyawa sekalipun.


Setelah mengantar Pak Rohim pulang, Arya mengemudikan mobil langsung ke rumahnya.


"Bukankah seharusnya kita menjemput Danish diperkemahannya sekarang?" Tanya Cantika.


"Tidak perlu, ada Pak Sofian yang akan mengantarnya pulang." Kata Arya dengan nada sedikit berbeda dari yang Cantika kenal.


Cantika tidak berpikir panjang, dia kemudian masuk ke kamarnya.


"Kamu mau apa?" Tanya Cantika agak gugup karena saat dia mau masuk ke kamar mandi, Arya mengikutinya.


"Tentu saja mau mandi." Jawab Arya enteng.


Cantika langsung keluar dari kamar mandi dan mempersilahkan Arya mandi duluan.


"Kamu mau kemana?" Tanya Arya sambil menarik tangan Cantika.


Cantika merasa tidak karuan, dia merasa asing dengan sentuhan kulit Arya.

__ADS_1


"Tidak, kamu duluan saja." Cantika merasa gugup dan melepaskan genggaman Arya.


Entah kenapa sejak kemarin malam dia merasa aneh saat didekat Arya dan selalu menghindarinya saat Arya mendekatinya.


__ADS_2