Bidadari Di Balik Cadar

Bidadari Di Balik Cadar
Tahajjud


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Cantika menceritakan kejadian tadi siang pada Arya saat makan malam.


"Tidak apa-apa sayang, itu hanya ledekan anak kecil yang tidak mengerti betapa mulianya jika seorang non-muslim memeluk islam." Kata Arya menenangkan Cantika.


"Tapi putraku juga masih kecil, dia begitu terluka dan marah karena kata-kata temannya itu. Bahkan sekarang dia duduk murung di kamarnya dan tidak mau turun." Cantika begitu mencemaskan putranya.


"Bukankah ada kita yang akan menjelaskan semuanya pada putra kita? kita akan menjelaskan padanya kalau yang di katakan temannya memang benar. Kita dulunya bukan seorang muslim tapi kemudian kita memeluk islam dan menjadi muslim. Dan itu merupakan perbuatan mulia bukan sesuatu yang salah atau memalukan. Putra kita anak yang baik dan pintar, dia pasti akan memahami ini." Arya meyakinkan Cantika.


"Iya kamu benar sayang, putra kita adalah anak yang baik dan pintar. Dia pasti bisa memahami semuanya." Cantika menjadi tenang kembali.


Cantika mengambil makanan untuk Danish dan membawakan ke kamarnya.

__ADS_1


"Danish sayang, kenapa Danish cemberut? Mama kasih tahu yah, jangan mengambil hati kata-kata teman Danish tadi. Semua yang dia katakan memang benar. Papa dan Mama memang bukan seorang muslim dulunya tapi kemudian Papa Mama mengetahui jika menjadi seorang muslim itu sangat mulia jadi Papa dan Mama memeluk agama islam dan menjadi seorang muslim. Teman Danish tidak mengetahui jika menjadi muslim itu adalah pebuatan yang sangat baik dan mulia, makanya dia mengejek Danish. Tapi Danish anak pintarkan. Danish harus tahu jika kita tidak perlu malu jika dikatakan dulunya bukan seorang muslim. Tapi justru kita harus bangga karena yang tadinya bukan muslim kini kita semua menjadi muslim. Allah sangat menyayangi orang yang mau belajar islam dan memahami lalu mengamalkannya. Seperti kita semua yang saat ini terus belajar dan berjuang demi islam." Cantika mencoba menjelaskan pada Danish dan Danish mendengarkan Cantika dengan baik.


"Sekarang Danish makan yah ayo Mama suap." Cantika menyuapi Danish.


Danish merasa tenang saat ini, dia mendengarkan penjelasan ibunya dengan baik dan tentu saja Danish bisa memahaminya.


Arya yang melihat Cantika berhasil menjelaskan pada Danish tersenyum melihat istri dan putranya kini ceria kembali.


Waktu menunjukkan pukul 2 malam. Sudah menjadi ibadah sunnah rutin bagi Arya dan Cantika melakukan sholat tahajjud selama mereka bersama. Tapi malam ini begitu indah bagi suami istri ini karena untuk yang pertama kalinya putranya yang baru berusia lebih dari 5 tahun ikut sholat tahajjud bersama.


Dzikir yang begitu indah mereka lantunkan bersama.

__ADS_1


Dan doa yang begitu mulia mereka aamiinkan bersama.


Keesokan harinya setelah jama'ah subuh Cantika turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Bi Susi tidak di rumah beberapa hari ini, dia pergi ke kampung halamannya untuk menziarahi makam suaminya. Jadi hanya Cantika yang sibuk di dapur.


"Kenapa kamu turun sepagi ini dimana Danish?" Tanya Cantika saat Arya memasuki dapur.


"Danish sedang mengaji dan aku kesini tentu saja karena ingin membantu istriku yang maa syaa allah cantik ini memasak." Arya langsung mengambil pisau dan mulai memotong sayuran.


Melihat suaminya begitu serius Cantika merasa tersanjung.

__ADS_1


"Kenapa kamu menatapku begitu? hah aku tahu kamu pasti sudah sangat merindukan masamanku kan. Yah sudah hari ini biar aku yang masak kamu duduk cantik saja." Arya mengambil alih dapur dari Cantika.


Cantika tidak keberatan dengan itu, dia memang merindukan masakan Arya. Arya selalu sibuk di rumah sakit jadi jarang sekali mereka ada waktu bersama seperti saat ini.


__ADS_2