
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, hari-hari yang indah bersama seluruh anggota keluarga terasa begitu singkat.
Dan hari ini adalah hari pertama Danish memasuki taman kanak-kanak.
Arya dan Cantika mengantar danish sampai halaman sekolah.
"Sayang, kamu harus ingat pesan mama yah. Belajar yang giat, patuhi perkataan guru dan bertemanlah dengan baik." Kata Cantika sambil mencium dahi putranya.
"Iya Ma, Danish akan ingat pesan Mama."
Ucap Danish lalu bersalaman kepada Arya dan Cantika.
Melihat putra kecilnya kini telah memasuki sekolah Cantika merasa bahagia. Tapi entah kenapa dia juga merasa cemas.
"Ayo sayang, aku akan mengantarmu ke kantor." Arya memeluk pinggang Cantika lalu membantunya masuk ke mobil.
"Ada apa kenapa kamu kelihatan gelisah?" Tanya Arya saat melihat istrinya begitu gelisah.
"Aku mengkhawatirkan Danish, ini pertama kalinya dia lepas dari pandangan ku aku merasa takut." Cantika merasa begitu khawatir pada putranya.
"Sayang, semua anak memang harus pergi menuntut ilmu. Sebagai orang tua kita harus mendoakannya. Jangan khawatir disana ada guru yang menjaganya." Kata Arya sambil mengelus kepala istrinya itu.
Meski masih begitu cemas tapi Cantika mencoba menenangkan dirinya.
"Hati-hati di jalan yah sayang." Kata Cantika saat sampai di depan kantor lalu mencium punggung tangan suaminya.
"Iya kamu juga yang semangat kerjanya yah bidadariku, assalamu'alaikum." Arya mencium kening Cantika. Selalu terasa baru menikah, Arya tak pernah rela jauh dari istri kecilnya itu.
"Wa'alaikumussalam." Cantika turun dari mobil sambil melambaikan tangannya pada Arya.
__ADS_1
Arya menarik nafas panjang lalu mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.
"Eh kamu sudah datang Nak, ayo Ayah perkenalkan kamu dengan tim baru kita." Kata Pak Rohim saat melihat Cantika.
"Ini Remon, mulai hari ini dia yang akan menjadi wakil Ayah. Ayah sudah terlalu tua untuk mengurus percetakan ini dan kamu juga tidak bisa mengurus percetakan sepenuhnya karena kamu sendiri masih ada suami dan anak di rumah. Jadi Ayah memilih Remon untuk mewakili Ayah saat Ayah tidak ada dan Ayah harap kalian berdua bisa bekerja sama dengan baik." Kata Pak Rohim memperkenalkan Remon pada Cantika.
Cantika kaget melihat Remon, dia adalah mantan kekasih Rika sekaligus teman lama Arya. Tapi sudah lama sekali Remon menghilang sejak dia dan Rika putus Remon tidak pernah terlihat.
"Senang bisa bergabung dengan percetakan ini, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Kata Remon.
Cantika yang masih bingung kenapa Ayahnya bisa membiarkan seorang non-islam bergabung dengan percetakannya mencoba mengendalikan kebingungannya.
"Iya selamat bergabung, aku juga berharap kita bisa bekerja sama dengan baik. Aku ada urusan dengan Ayahku maaf kami tinggal sebentar. Nur tolong perkenalkan Remon pada saudara-saudara kita yang lain." Kata Cantika lalu menarik Pak Rohim keluar.
"Ayah Remon itu seorang..."
"Dia seorang muallaf, dia sudah menceritakan tentang dirinya pada Ayah. Dan Ayah semakin yakin kalau dia mampu menjalankan percetakan kita terlebih dia sama sepertimu dia juga seorang muallaf yang ingin memperjuangkan islam." Kata Pak Rohim.
Sedang di taman kanak-kanak Danish dan seorang anak lainnya yang babak belur sedang di hadapkan kepada kepala sekolah.
"Hubungi orang tua anak-anak ini dan minta mereka kesini secepatnya." Kata kepala sekolah pada guru disana.
Mendengar handphonenya berdering Cantika langsung mengangkatnya.
"Iya saya segera kesana." Cantika langsung pergi saat mendengar kabar Danish dari gurunya.
"Sayang apa yang terjadi? apa kamu terluka? dimana yang sakit?" Cantika langsung berlari ke arah Danish dan memeriksa keadaannya.
"Apa kamu buta? disini putraku yang babak belur karena putramu yang nakal itu dan kamu malah bertanya kepada putramu apa dia terluka?" Ibu dari anak yang babak belur itu marah pada Cantika.
__ADS_1
Cantika melihat ke arah wanita yang mengoceh itu. "Maaf aku hanya mengkhawatirkan putraku." Kata Cantika.
"Sudah, aku memanggil kalian bukan untuk mendengar kalian ribut. Ibu Cantika, Danish telah memukuli temannya hingga babak belur dan kami sangat kecewa dengan perlakuan anak sekecil dia yang sudah bisa begitu kasar pada temannya di hari pertama dia masuk sekolah." Kata kepala sekolah.
Mendengar ucapan kepala sekolah Cantika kaget, Cantika melihat anak yang sudah babak belur itu menangis di gendongan ibunya. Dia tidak percaya putra kecilnya bisa memukuli orang sampai babak belur begitu.
"Danish apa itu benar? kamu memukul temanmu?" Tanya Cantika pada Danish yang dari tadi diam saja sambil menundukkan kepalanya.
Danish mengangkat kepalanya dan menatap ibunya lalu melihat anak itu.
"Tidak Ibu, dia mengejekku dan aku diam saja. Tapi dia terus mengejekku lalu mengatai Ayah dan Ibu sambil mendorongku jadi aku memukulnya." Jelas Danish.
Cantika memperhatikan anak yang babak belur itu ketakutan dan memeluk ibunya.
"Katakan sayang apa yang terjadi?" Ucap Cantika lemah lembut pada Danish.
"Dia mengejekku islam bohongan tapi aku tidak perduli, lalu dia terus mengatai aku dan mengatai Ayah dan Ibu bukan islam beneran. Katanya Ayah dan Ibu sebenarnya non-muslim dan dia juga berkata sambil mendorongku. Lihat bajuku kotor karena terjatuh." Kata Danish.
Mendengar penjelasan Danish kepala sekolah melihat anak yang babak belur tadi dan bertanya "Apa itu benar? kamu yang memulainya?"
Anak itu ketakutan dan bersembunyi di pelukan ibunya.
Ibunya menurunkan anak itu dari gendongannya dan bertanya pada anaknya itu "Katakan apa itu benar?" Ibu anak itu sangat malu karena dia sangat mengenal anaknya. Dia percaya perkataan Danish karena anaknya memang suka mengejek orang.
"Katakan atau Ibu akan memukulmu." Bentak ibu anak tersebut.
"Huhu maaf Ibu aku memang mengejek dan mendorongnya." aanak itu menangis karena takut.
Ibu anak tersebut sangat malu. "Maafkan anak saya Bu, saya akan mengajarinya dengan baik."
__ADS_1
Cantika diam saja, dia tidak tahu harus berkata apa. Dia sangat sedih dengan kejadian itu. Putranya di ejek orang karena dirinya dulunya seorang non-muslim. Apa yang salah jika dia ditakdirkan terlahir dari rahim seorang non-muslim. Intinya sekarang dia seorang muslim dan bersungguh-sungguh dalam mencintai islam. Tapi kini malah putranya yang di ejek orang.