
"Nenek, kenapa nenek kesini?" Tanya Danish pada Bi Susi yang berdiri di depan gerbang sekolah Danish.
"Nenek tentu kesini untuk menjemput cucu nenek yang paling tampan dong." Kata Bi Susi.
"Kenapa nenek kenapa bukan mama?"
Danish bertanya bukan karena tidak suka pada Bi Susi tapi selama ini Cantika yang selalu menjemputnya.
"Mama lagi ada urusan penting jadi hari ini nenek yang jemput Danish, kenapa Danish tidak suka kalau nenek yang jemput?"
Tanya Bi Susi sambil berjongkok di hadapan Danish.
"Tidak, mama atau nenek bagi Danish sama saja. Danish hanya bertanya." Jawab Danish sambil tersenyum lalu menarik Bi Susi berjalan ke arah mobil.
"Danish lihat bangunan itu, sangat indah bukan?" Tanya Bi Susi sambil menunjuk sebuah gereja yang sangat besar.
"Iya, itu rumah siapa Nek?" Tanya Danish penasaran.
"Itu rumah Tuhan." Jawab Bi Susi.
__ADS_1
Danish berpikir dalam hati kalau bangunan itu sangat berbeda dengan masjid kemudian berkata. "Tapi masjid tidak seperti itu."
Bi Susi merasa bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Danish. Sepertinya Cantika sudah menanamkan tentang islam begitu dalam pada Danish, pikir Bi Susi.
"Rumah Tuhan itu bukan hanya masjid, sudahlah nanti Danish juga mengerti."
Bi Susi tidak punya cara untuk menjelaskan tentang keyakinannya yang bertentangan dengan keyakinan yang telah Cantika tanamkan pada Danish saat ini.
Sesampainya di rumah Cantika di sambut oleh pelukan hangat Danish.
"Mama, kenapa mama tidak menjemput Danish?" Tanya Danish sambil melingkarkan tangan kecilnya di leher Cantika.
"Sudah Mah, mama katakan urusan apa yang membuat mama tidak bisa menjemput Danish?" Danish yang polos begitu penasaran kenapa ibunya sampai tidak bisa menjemputnya.
"Kakek lagi sakit, jadi mama sama papa membawanya ke rumah sakit." Jawab Cantika dengan mata mulai berkaca-kaca lagi mengingat kondisi Pak Rohim.
"Kakek sakit apa? Danish mau melihat kakek."
"Iya tapi mama sholat dulu yah, nanti sore kita akan menjenguk kakek."
__ADS_1
Cantika naik ke lantai atas dan memasuki kamarnya.
Detelah sholat Cantika turun ke dapur ingin menyiapkan makanan untuk Wrya dan Pak Rohim.
Tapi Bi Susi juga sedang di dapur saat ini.
"Bi, boleh Cantika pinjam dapurnya sebentar? Cantika mau menyiapkan makanan untuk ayah." Tanya Cantika dengan ragu.
Bi Dusi mau menyuruh Cantika keluar dan menunggu setelah dia selesai tapi Bi Susi melihat Danish ada di dekat pintu dapur dan sedang melihat mereka, jadi Bi Susi membiarkan Cantika memasak dan dia keluar.
Setelah selesai memasak Cantika membereskan dapur kemudian membantu Danish mengerjakan tugas sekolahnya. Tak terasa waktu ashar telah tiba. Cantika dan Danish sholat ashar kemudian bersiap ke rumah sakit.
"Bi, aku dan Danish akan ke rumah sakit apa Bibi mau ikut?" Meski ragu Cantika tetap bertanya pada Bi Susi karena selama 7 tahun belakangan ini Bi Susi termasuk lumayan akrab dengan Pak Rohim.
"Sepertinya lain kali saja soalnya Bibi masih ada pekerjaan." Jawab Bi Susi karena disana ada Danish padahal dalam hatinya berkata "Buat apa dia capek-capek kesana dia tidak ada hubungan dengan Pak Rohim atau pun Cantika."
"Kalau begitu aku dan Danish pergi dulu, assalamu'alaikum." Cantika dan Danish pergi ke rumah sakit. Tetapi sepanjang perjalanan selain memikirkan keadaan Pak Rohim Cantika juga memikirkan perubahan besar Bi Susi. Terutama sikapnya yang aneh bagi Cantika. Tadi saja dia memberi salam tapi Bi Susi tidak menjawabnya. Cantika juga teringat waktu Arya mengucapkan salam pada Bi Susi dan Bi Susi hanya tersenyum tanpa membalas ucapan salam dari Arya.
Cantika terus memikirkan apa sebenarnya yang terjadi pada Bi Susi di kampung halamannya. Pasti terjadi sesuatu karena perubahan Bi Susi terjadi sejak pulang dari sana. Dan Cantika juga teringat dengan kitab non-muslim yang Bi Susi pegang waktu itu.
__ADS_1