Broken Home

Broken Home
PART 1


__ADS_3

"Ramlan."


Panggil Rita kepada putra bungsunya yang baru saja keluar dari kamar pengantin , sekitar dua jam lalu pesta sederhana lelaki berusia 27 tahun itu usai.


"Iya Bu,"


Ramlan mendekati ibunya yang tengah duduk di sofa ruang tamu rumahnya, lalu duduk di sampingnnya.


"Ada yang ingin ibu bicarakan, tolong panggil istrimu." Pinta Rita.


Tak butuh waktu lama, Dita dan Ramlan sudah duduk di hadapan Rita.


"Dita, Ramlan. Setelah ini , ibu harap kalian tetap tinggal di sini."


Ucapan Rita baru saja membuat Ramlan menghela napasnya, sebenarnya dia sudah berencana mengontrak rumah untuk tinggal bersama Dita,namun sepertinya niat itu harus dia tunda untuk sementara waktu.


"Tapi Bu, kami harus membicarakannya berdua. Aku rasa lebih baik kita..."


"Ibu rasa Dita tak keberatan jika tinggal di sini, bukan begitu Dit?"


Rita memandang gadis berusia 22 tahun yang baru saja menjadi menantunya.


Dita menunduk dalam, antara ingin menolak tapi ia tidak enak kepada sang mertua.


"Kalau aku, ikut mas Alan saja bu," ucap Dita akhirnya. Alan, panggilan khusus dari Dita untuk Ramlan. Dia merasa nyaman dengan panggilan itu.


"Kalau begitu , bagaimana Ramlan?"


"Bu , sepertinya kami harus bicara berdua. Kami permisi."


Ramlan mengajak Dita masuk ke dalam kamar , menurut Ramlan dimana mereka tinggal adalah kesepakatan berdua . Ia takut kelak sang istri merasa terbebani jika harus tinggal bersama ibunya .


"Bagaimana Dit? Kamu mau tinggal di sini?"


"Aku ikut mas Alan, karena kini aku telah jadi istrimu mas."


Ramlan berpikir sejenak, tak enak juga jika harus menolak permintaan ibunya. Karena Rita adalah satu-satunya orang tua yang Ramlan miliki setelah kepergian sang ayah.


"Baiklah kalau begitu, kita tinggal di sini untuk sementara waktu ya ? Nanti kita sambil nabung untuk mengontrak atau membeli rumah." Ucap Ramlan , dia mengusap kedua pundak istrinya yang tengah duduk di pinggir ranjang.


"Iya mas,"


"Kamu istirahat saja, biar aku yang bicara dengan ibu."


Ramlan keluar kamar, kembali menemui Rita yang menunggu jawabannya.


"Bagaimana Lan?"


"Dita setuju bu, kami akan tinggal di sini."


"Syukurlah, ibu ingin istirahat. Kamu juga Lan."


"Iya bu."


Ramlan menutup dan mengunci pintu depan rumahnya, tak lupa juga menutup semua gorden,lalu dia menuju ke kamarnya.


Sampai di kamar, Dita sudah terlelap. Ramlan memaklumi,mungkin saja istrinya lelah setelah seharian menjamu tamu.


Ramlan berbaring di samping istrinya, mencoba untuk memejamkan matanya.


🌿🌿🌿🌿


Keesokan paginya..

__ADS_1


Dita bangun sebelum adzan subuh berkumandang seperti kebiasaannya saat tinggal di kost dulu, wajahnya merona saat membuka mata dan merasakan sebuah tangan kokoh melingkari pinggangnya.


Dengan perlahan Dita menyingkirkan tangan Ramlan yang bertengger dipinggangnya, lalu dia turun dari ranjang tanpa berniat membangunkan  suaminya.


Setelah mencuci muka, Dita berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga barunya.


Hari ini pagi pertamanya menyandang status sebagai seorang istri, mengingat itu wajah Dita kembali merona.


Dia kini bukan seorang remaja lagi, ada beberapa kewajiban baru yang harus dia jalankan. Menjadi seorang istri sekaligus menantu. Dita harap, dia bisa menjalankannya dengan ikhlas dan mengharapkan ridho Allah.


Setelah selesai memasak , bertepatan dengan adzan subuh. Dita mengambil air wudhu, lalu membangunkan suaminya.


"Mas, sudah subuh."


Dita menepuk pelan pundak Ramlan yang tidur membelakanginya, tepukan itu membuat Ramlan perlahan membuka mata.


"Sudah subuh mas," ulang Dita.


"Iya, aku ambil wudhu dulu. Kita sholat berjamaah."


"Iya mas,"


Ramlan masuk kembali ke dalam kamar, mengganti bajunya dengan baju Koko.


"Yuk," ajak Ramlan untuk shalat berjamaah.


Dua sajadah telah mereka gelar , mereka melaksanakan shalat berjamaah untuk pertama kalinya.


Dita mencium tangan Ramlan ketika mereka selesai shalat, dikecup kening Dita dengan lembut membuat hati wanita itu menghangat. Keduanya saling tatap.


Sebuah ketukan mengalihkan pandangannya, Ramlan terlebih dulu bangkit.


"Oh, kamu sudah bangun?" Kata Rita diambang pintu saat Ramlan membuka pintu kamarnya.


"Ibu kira kalian belum bangun,"


"Sudah bu,"


"Ya sudah, kalian sarapan. Sepertinya Dita sudah memasak."


"Baik bu,"


Ramlan menutup kembali pintu kamarnya, dia mendekati Dita yang tengah melipat mukena dan sajadah.


Ramlan memeluk pinggang istrinya,saat Dita meletakkan mukena di pinggiran ranjang.


Dita yang tidak siap, hampir saja berteriak.


"Mass.." Lirih Dita saat Ramlan mengendus lehernya.


"Ayo kita sarapan, atau enaknya aku sarapan kamu terlebih dahulu ya?" Goda Ramlan membuat Dita tersipu .


Ini terlalu intim bagi Dita , membuatnya wajahnya tak berhenti berwarna merah.


"Kita harus kerja kan mas?" Ucap Dita menginginkan bahwa hari ini mereka harus kembali berangkat kerja.


Cuti tiga hari dari pabrik kabel tempat mereka bekerja sudah habis.


"Haaah. Salahku sih mengambil cutinya terlalu mepet,"


"Tak apa mas, masih ada hari lain kan?"


"Iya sih, tapi kan aku mau berduaan denganmu." Bisik Ramlan di telinga Dita .

__ADS_1


"Mas.."


Tok..tok..tok..


"Ramlan, Dita . Kalian hari ini kerja kan?" Suara Rita dari luar kamar.


"Iya bu," seru Ramlan.


"Yaaah ,ibu sudah manggil."


"Iya mas. Lebih baik mas mandi dulu , biar aku yang siapin sarapan."


"Siap nyonyaku," dikecupnya pipi mulus milik Dita , lalu Ramlan keluar kamar terlebih dahulu dengan handuk yang melingkar dibahunya.


"Biar Dita bantu bu," ucap Dita saat melihat Rita tengah menata makanan di atas meja.


"Biar ibu saja, kamu siap-siap berkerja." Ucap Rita tanpa menoleh kearah Dita.


"Baik bu," ucap Dita akhirnya.


🌿🌿🌿🌿🌿


Ramlan dan Dita berangkat bekerja dengan berboncengan mengendarai motor, karena memang mereka kerja di pabrik yang sama.


"Manten baru nih, sudah tidak ngekost lagi dong?" Goda Sri, teman satu bagian dengan Dita yang kebetulan baru melihat mereka berdua.


"Ih , apa sih Sri!" Ucap Dita merona malu, dia turun dari motor . Ramlan yang memarkir motornya.


"Bagaimana? Enak ?" Bisik Sri.


"Apanya?"


"Jangan pura-pura tidak tahu!"


"Apa sih Sri?"


"Itu nya, kamu tuh sok polos."


"Itu nya apa Sri?" Ucap Ramlan yang sudah berada di belakang mereka.


Sri meringis malu ketahuan kepo.


"Ah..Anu.. Ee.. Sudah mau masuk nih , ayok lah buruan," ucap Sri mengalihkan pembicaraan.


Ketiganya berjalan beriringan, Sri adalah teman dekat Dita , tak lain juga teman dari Ramlan.


"Sampai ketemu jam makan siang," ucap Ramlan , mereka berpisah di lorong pemisah bagian produksi dan bagian werehouse.


Dita hanya operator , sedangkan Ramlan dibagian gudang.


"Ciyeee, jadi nanti aku makan siang sendiri dong?" Ucap Sri cemberut.


Ditengah kebahagiaan temannya, terselip rasa sedih. Karena Sri harus berbagi Dita dengan Ramlan.


Dita dan Sri berteman begitu dekat, mereka berdua teman satu perjuangan saat masuk di pabrik kabel ini.


"Kamu bisa kok makan bareng sama kita, iya kan mas?" Dita mencoba meminta persetujuan suaminya.


"Iya , kayak sama siapa saja kamu. Sri , nitip Dita ya. Bilang sama aku kalau ada yang godain dia."


"Siapp , yang penting jangan lupa pajaknya." Ucap Sri bercanda ,mereka bertiga tertawa bersama.


Bel tanda masuk telah berbunyi, semua karyawan memasuki tempat kerja sesuai bagian mereka masing-masing. Termasuk Sri dan Dita.

__ADS_1


Dita hari ini dibuat tersipu berkali-kali oleh teman-temannya, mereka semua menggoda pengantin baru itu.


__ADS_2