Broken Home

Broken Home
bab 44


__ADS_3

setelah pemeriksaan Winda dan Alex keluar dari ruangan. mereka melihat wajah Winda nampak sedih. Alya kaget melihat mimik wajah ibunya bersedih. Begitu pun dengan alex tidak seperti tadi bersikap dingin dan cuek. Itu semua menyebabkan penasaran pada Alya dan Radit.. Dimas dan jaki pun merasa heran. Winda menatap Alya penuh harapan. Alya menatap mata ibunya yang penuh kesedihan dan penyesalan.


"Alya kita pulang ya" ucap Winda dengan nada sedih.


lagi lagi Alya melirik Radit. kali ini Alex memperhatikan Alya dan Radit.


"pulang lah Alya. orang tuamu lebih sayang padamu. meraka juga menjamin kesehatan kamu dan menjaga kandungan mu. lebih dari aku. Aku hanya sebatas kemampuan ku saja.


kamu juga tau sendiri kan?" ucap Radit lemah lembut.


"tapi, ..apakah kamu akan melupakan aku?" tanya Alya ragu ragu.


"aku tidak akan pernah melupakan mu Alya. Aku akan datang kerumah mu..untuk menengok kamu..bersama kedua temanku" jawab Radit tersenyum menyakinkan Alya.


Alya melirik Dimas dan jaki.


"Dimas jaki.. terimakasih selama ini kalian telah membantu aku disaat aku kesulitan. Kalian jangan lupa main kerumah aku dengan Radit" ucap Alya tersenyum ketir kepada mereka.


"itu pasti Alya. Kamu jangan banyak pikiran jaga diri baik baik. biar kami ga mengkhawatirkan kamu" jawab Dimas tersenyum.


"benar Alya. Kami akan selalu ada untukmu" celetuk jaki angkat bicara.


Alya tersenyum kecil mendengar ucapan mereka. Alya kembali melirik Radit


"kamu juga terimakasih selama ini telah menemani aku. Banyak berkorban untukku. entah dengan cara apa aku harus membalas kebaikan dan pengorbanan mu Radit" ucap Alya sedih


"semua yang aku lakukan untuk mu itu ikhlas Alya. Aku tidak mengharapkan apa apa darimu. Kalau pun soal jodoh akan aku pertahankan dirimu. Kalau aku sudah dapat pekerjaan yang layak. Aku akan segera melamar kamu" jawab Radit tersenyum menyakinkan Alya.


Alya membalas senyuman Radit. Suasana pun menjadi keheningan bercampur sedih diantara mereka. Alya terpaksa harus berpisah dengan Radit karena keadaan Alya yang butuh perhatian orang tuanya. Radit pun merasa kehilangan Alya. Sosok wanita yang baru pertama kali nya dia cintai. meskipun radit sadar Alya bukan perawan lagi. Alya pulang dengan orang tua nya. Radit dan kawan kawannya melihat Alya masuk kedalam mobi bersama orangtuanya. Dengan berat hati mereka berpisah demi kebaikan. Alya melirik Radit dibalik kaca mobil. Dia menyeka air mata yang jatuh ke pipi. Alex dan Winda melirik Alya Melalui kaca gantung mobil. Radit menahan air mata. ingin rasanya dia mengejar Alya. Namun, dia tidak hak untuk melakukannya. Apalagi statusnya masih dibawah umur untuk melanjutkan hubungan lebih serius. Dimas dan jaki ikut prihatin bersedih menyaksikan itu semua. Dima menepuk bahu Radit secara pelan pelan. Dia merangkul membawa Radit ke dalam mobilnya. Sepanjang jalan Radit terdiam membisu dan tidak bersemangat. Kedua temannya saling melirik dan memperhatikan sikap Radit yang tiba tiba murung sebab berpisah dengan Alya. Sama hal dengan Alya pun terdiam bersedih dengan menyandarkan kepalanya ke kaca mobil. Bayangan wajah Radit masih menari nari didalam pikirnya. perhatiannya, kasih sayangnya, pengorbanannya hingga canda tawanya bersama. Sesampainya di rumah Alya turun dari mobil. Dia dibawa Winda masuk kedalam kamarnya yang sudah lama dia tinggalkan. dia juga kangen dengan suasana kamarnya. Namun, rasa kangen itu membawa kesepian dari sosok Radit yang selalu menemaninya.

__ADS_1


Winda menemui Alex yang sedang duduk dengan termenung.


"kamu jaga Alya baik baik. Karena dia harapan kita untuk mendapatkan keturunan" ucap Alex bersedih.


"iya mas, aku benar benar tidak menyangka kalau aku akan mengalami.."


"sudah ga usah di sebutkan lagi.. meskipun aku ragu ragu Alya anak aku atau bukan.tapi aku butuh untuk meneruskan usaha ku kelak" bantah Alex berharap memiliki keturunan.


"tapi, kata dokter jenis kelamin pada bayi Alya adalah perempuan" jawab Winda ragu ragu.


"aku tidak peduli mau perempuan atau laki laki juga. asal dia bisa meneruskan usahaku kelak aku pensiun" Alex menyadari sikap kejamnya terhadap Alya. Karena dia membutuhkan keturunan untuk meneruskan usaha nya yang susah payah dia bangun selama ini. Dan untuk meneruskan perusahaannya dia butuh keturunan..karena Winda


sudah divonis oleh dokter tidak bisa mempunyai anak lagi. karena memiliki penyakit kelainan pada rahimnya.


sesampainya dirumah Radit termenung didalam kamar. Dia belum bisa melepaskan bayangan wajah Alya. Radit merasa benar-benar kehilangan sosok yang selalu mengisi waktunya. Radit pun teringat dengan Poto Poto yang dia temui bersama bi Inah. Dia mencoba mengambil poto yang didalam amplop coklat besar. Dia merogoh ke laci tumpukan buku. namun, Radit terkejut karena amplop itu sudah tidak ada ditempat. Radit panik kehilangan benda itu. Dia segera mencari benda itu disetiap tumpukkan buku.


"kemana amplop itu. Aku ga lupa nyimpan nya disini tapi sekarang ga ada amplop itu. Aduh..gawat kalau sampai mamah atau papah yang nemuin" gumam Radit cemas. Dia terus mencari ke setiap laci. namun, hasilnya nihil. Dia sama sekali tidak menemui amplop itu. Dia teringat dengan bi inah.


Dia mencari BI Inah.


"bi..bibi" teriak Radit memanggil bi Inah.


"ya mas Radit" jawab bi Inah tergopoh gopoh langsung menghampiri Radit.


Radit langsung menarik tangan bi Inah. Membawa nya ke belakang rumah. bi Inah terkejut melihat gelagat Radit.


"bi..dimana benda itu?" tanya Radit panik


Bi Inah mengerutkan dahinya. dia tidak paham dengan pertanyaan Radit.

__ADS_1


"benda apa mas?" tanya Bi Inah tidak tau benda yang dimaksud Radit.


"benda...aduh maksudnya amplop yang berisi Poto papah bi" jawab Radit cemas


Bi Inah terkejut bengong..


"maksudnya amplop Poto Poto pak Bagas mas?" bi Inah balik nanya.


"iya bi" Radit mengangguk.


"bukankah waktu itu mas Radit yang nyimpan?"


"iya bi..tapi aku simpan ditumpukan buku. udah ga ada pas aku cek tadi" jawab Radit dengan paniknya.


Raisa tidak sengaja mendengar percakapan mereka.


"apa yang sedang kalian omongin!" tegur Raisa ketus dan menatap tajam wajah bi Inah dan Radit.


sontak saja keduanya kaget melihat ke arah Raisa.


"mamah?" Radit terkejut mebelalakan mata melihat Raisa memegang amplop yang dicari Radit.


bi Inah melototkan mata terkejut melihat amplop itu sudah berada ditangan Raisa.


Radit segera mendekati Raisa dengan tatapan cemas dan takut melihat ke arah amplop. Raisa Mendelik ketus melihat tatapan Radit yang mengarah ke amplop.


"mamah..jadi mamah yang mengambil amplop itu?" tanya radit cemas.


"kalau iya kenapa!?" jawab Raisa ketus.

__ADS_1


sontak saja keduanya terkejut.


Bersambung...


__ADS_2