Broken Home

Broken Home
PART 8


__ADS_3

Pagi ini sarapan Felicia terasa lengkap dengan kehadiran dua orang kesayangannya , kurang Denis sebenarnya , tapi kemana anak itu ? Biasanya ia yang akan membuat kerusuhan di manapun ia berada .


Berbeda dengan hari ini , sepertinya anak itu masih molor karena semalam Adam mengiriminya banyak gambar-gambar setan yang seram .


Benar saja , sungguh panjang umur anak itu . Baru diomongin ia sudah berdiri di ambang pintu , dengan lesu ia masuk ke dalam rumah .


"Denis , kenapa matamu ?" Tanya Felicia , nampaknya bocah itu tak tidur semalaman .


"Ngantuk mam , gara-gara anak Mama satu itu . Ngirimin kayak gini ! " Denis menunjukkan ponselnya , dengan layar pecah separuh .


Felicia merinding ketika melihat gambar pocong , kuntilanak , dan sebangsanya , lebih merinding lagi melihat ponsel terbaru Denis yang ia belikan minggu lalu .


"Ponselmu ?" Tunjuk Felicia pada ponsel Denis .


"Denis banting lah , takut keleus Mam. " Jawab Denis santai , ditambah cengiran kudanya yang tak pernah ketinggalan .


Denis mencari tempat yang nyaman untuk berbaring , ia tidur di sofa milik Felicia yang empuk .


Baru saja Denis ingin memejamkan matanya , Adam datang dan ia menggulingkan tubuh Denis hingga terjatuh ke lantai .


"Gue mau nonton TV !" Ucap Adam tanpa merasa bersalah , padahal Denis di bawahnya tengah meringis kesakitan.


Felicia mendesah pelan "Adam , jangan kayak gitu dong . Kasihan adekmu. "


Ia mengelus dadanya , selalu saja mereka bertengkar jika bertemu .


Mending LDR an saja , mereka akan lebih romantis, saling rindu satu sama lain .


"Dosa apa gue punya kakak kaya begini modelnya , ya Allah. Ampuni dosa ku. " rintih Denis , ia berdiri dan langsung masuk ke dalam kamar Felicia untuk memejamkan matanya.


Setidaknya di sini ramai orang , jadi ia tak perlu was-was jika mendadak ada penampakan .


🌿🌿🌿🌿


Saat jam makan siang , Denis terbangun dari tidurnya ia segera bangun dan menuju dapur karena merasa haus .


Felicia dan Audrie sedang memasak di sana , Audrie nampaknya sedang belajar beberapa menu kepada Felicia .


Bukan Denis namanya jika tidak membuat keributan , ia mengambil apron yang tergantung.


Dipakainya apron itu , ia mengambil dua buah tomat yang akan diiris oleh Audrie lalu memakannya satu persatu.


"Mas Denis !" Pekik Audrie .


"Apa ?" Tanya Denis , ia mendelik ke arah Audrie membuat nyali gadis itu menciut .


"Mami , tomatnya dimakan mas Denis !" Adu Audrie kepada Felicia.


"Mam , Denis makan dua doang ." Denis mencoba membela diri.


"Dua doang , emang jumlahnya dua . Abis tuh , mau bikin sambel tomat pakai apa kalau gini !" Gerutu Audrie.


Felicia yang baru saja mencuci beras, menghampiri mereka berdua yang tengah ribut .


Denis dan Audrie dicampur disatu rumah ? Maka sebentar lagi rumah itu akan roboh, karena mereka sama-sama tidak ada yang mau mengalah .


"Denis , mending kamu ke depan saja ya ? Temenin mas Adam." Titah Felicia.


Dengan patuh Denis menuruti perintah maminya , ia melepas apron yang dipakainya lalu berjalan ke ruang nonton TV.


"Mas ."


"Apa?" Kata Adam cuek .

__ADS_1


"Mau dengar cerita enggak ?" Ucap Denis dengan suara lirih , sengaja agar Adam penasaran.


Adam menoleh ke samping di mana Denis tengah duduk "Cerita apa ?"


"Mami kayaknya punya pacar deh , soalnya kemarin video call an segala . Kaya ABG , terus ya mami senyum terus sampai giginya kering." Jelas Denis .


Seketika rahang Adam mengeras , ia tak suka jika mendengar maminya kembali menjalin hubungan dengan pria.


"Buat apa sih pacar-pacaran , bilangin mami . Semua itu tidak perlu , membuang waktu saja !" Ucap Adam dengan nada ketus .


"Biarin , mami kan masih cantik . Masih keliatan muda , pacaran boleh lah . Biar mami punya pendamping hidup."


"TIDAK BOLEH !" Nada bicara Adam mulai meninggi , sepertinya ia mulai tersulut emosi.


"Kenapa ? Biar mami bahagia mas !"


Denis mulai kesal kepada Adam , apa-apaan kakaknya ini melarang maminya punya pacar .


Ketegangan menyelimuti keduanya .


"Tau apa tentang kebahagiaan mami ? Lo tuh masih bocah !"


Denis beranjak dari duduknya , ia mencengkeram kerah baju Adam.


"Gue tahu, mami banyak senyum semenjak kenal pria itu ! Lo nggak pernah tau mami hampir setiap malem nangis ! Mami kesepian ! Dia butuh temen !"


Adam berusaha melepaskan cengkeraman tangan Denis , namun sepertinya anak itu sedang kesetanan membuat cengkeramannya sangat kuat .


"Ya Lo lah yang nemenin , buat apa Lo di sini ? Gue di Jakarta bukannya gue main-main, gue kerja ! Mami gak mau diboyong ke Jakarta !"


Akhirnya Adam bisa melepaskan cengkraman Denis .


"Mas , pliisss . Sepertinya dia lelaki yang baik, " ucap Denis sedikit melunak .


Tanpa sengaja , Adam telah mengatakan bahwa Denis menyusahkan hidup maminya .


"Jadi selama ini Lo pikir kehadiran gue nyusahin mami ?" Satu tetes air mata Denis lolos .


"Iya ! Sangat menyusahkan ! Apalagi wajah , tingkah Lo , semuanya persis sama daddy Lo ! Sebenarnya kehadiran Lo yang bikin mami selalu sedih !" Bentak Adam , entah setan apa yang merasukinya sehingga ia berkata begitu .


Adam biasa berbicara ceplas-ceplos kepada Denis , entah kenapa ucapan Adam baru saja sangat menyesakkan dadanya.


"Ada apa ini Denis ! Adam! " Felicia baru saja menyelesaikan masakannya , ia mendengar dua putranya beradu mulut .


Namun ia datang terlambat , semuanya sudah selesai.


Denis keluar dari rumah Felicia , lalu masuk ke dalam mobilnya.


Ditumpahkan semua air matanya .


Kenapa ? Kenapa baru sekarang Adam baru bilang padanya?


Kenapa juga ia tak sadar jika selama ini ia hanya menyusahkan maminya ?


Denis sering bikin onar saat SMP dulu karena ingin menutupi jatidiri nya , ia terlihat ceria namun sebenarnya rapuh .


Audrie ke luar rumah , ia akan menyusul Denis dan membujuknya untuk masuk ke dalam rumah .


Namun sayang , mobil Denis sudah melaju menjauh .


Dengan perasaan kalut , Denis menyetir mobilnya .


Pikirannya masih fokus kepada ucapan-ucapan Adam tadi .

__ADS_1


"Iya ! Sangat menyusahkan ! Apalagi wajah , tingkah Lo , semuanya persis sama daddy Lo ! Sebenarnya kehadiran Lo yang bikin mami selalu sedih !"


Kata itulah yang terngiang di telinga Denis , begitu menancap di hati Denis .


Ia tak pernah berpikir untuk menyusahkan ataupun membuat maminya sedih .


Di persimpangan jalan dekat rumah Felicia, sebuah mobil melaju kencang dari arah kiri .


Pikiran Denis yang tidak fokus , membuatnya tidak sempat menghindar.


Brak !!!!


Mobil tadi menabrak mobil Denis , bagian depan mobil itu ringsek .


Begitu juga bagian kiri mobil Denis , sama-sama ringsek .


"Mas Denis!!!" Pekik Audrie saat melihat tabrakan itu , tabrakan yang tak jauh dari rumah Felicia.


Banyak orang yang sudah mengerubungi Denis sekarang , termasuk Felicia yang langsung lari tunggang langgang mendekati kerumunan itu .


Sedangkan Adam , ia masih terpaku di tempatnya.


Ia masih merutuki dirinya , bisa-bisanya ia berbicara seperti itu kepada adiknya .


"Mas , mas Adam ! Tolongin mami , tolongin mas Denis !" Ucap Audrie panik , ia sempat shock karena mendengar benturan keras mobil Denis .


Adam tersentak , baru tersadar dari lamunannya .


"Kenapa drie ?" Tanya Adam seperti orang linglung.


"Mas Denis mas ! Dia .... tabrakan !" Ucap Audrie terbata .


Adam segera berlari ke tempat kejadian , orang-orang berusaha mengeluarkan Denis dari mobil yang ringsek .


Felicia terus menangis melihat anaknya .


Audrie menghampiri Felicia , dipeluk tubuh maminya "Mam, tenang ya." Audrie mencoba menenangkan Felicia.


Dengan meminjam mobil tetangga , Adam membawa Denis segera ke rumah sakit .


Felicia duduk di jok belakang , menjadikan pahanya sebagai bantalan bagi Denis ,ia tak peduli celana dan bajunya berlumuran darah.


Mata Denis terpejam , darah segar mengalir deras dari keningnya .


Bibir Denis bergerak , matanya perlahan terbuka .


"Mam...Mami." Lirih Denis.


"Iya sayang , mami di sini." Digenggamnya erat tangan Denis .


"Mami..jangan nangis...Denis nggak kenapa-kenapa kok." Ucapnya dengan sebuah cengiran , entah itu cengiran yang biasa ia tunjukan atau cengiran menahan sakit .


Gila saja Denis berkata seperti itu , padahal kondisi cukup parah .


Keningnya robek terkena pecahan kaca jendela mobil , kaki kanannya terjepit pintu mobil yang menghantam gapura kompleks . Masih saja ia berkata bahwa ia tidak apa-apa.


Felicia tersenyum pedih , hatinya tersayat melihat kondisi Denis .


Mobil yang dikendarai Adam tiba di rumah sakit , Adam berlari mencari perawat agar segera menangani adiknya .


Tak lama dua orang perawat mendorong brankar mendekati mobil , dengan dibantu Adam perawat menurunkan Denis dan membaringkannya ke atas brankar.


Dengan cepat , dua perawat tadi membawa Denis ke ruang IGD .

__ADS_1


__ADS_2