Broken Home

Broken Home
PART 23


__ADS_3

"Mas , mas , elo mau ke mana ? Baju-baju yang dibeli tadi mau diapain ? Ponsel Lo ?" Cerocos Audrie , ia mengikuti langkah lebar Denis yang keluar dari rumah Surya .


Mobil Adam telah siap untuk mengantar Denis ke bandara , ia akan pulang ke Semarang saat ini juga .


Denis mendengus kesal , ia mendelik ke arah Audrie "baju seragam gue yang udah terlanjur dibeli , sumbangin aja . Sini in ponselnya , gue butuh " ucap Denis , ia masih terbawa emosi.


"O..oke ,  gue kira mau ditinggal sekalian " ucap Audrie seakan tak ikhlas memberikan ponsel itu ke Denis.


Remaja putra itu segera masuk ke dalam mobil kakaknya , tak ada alasan lagi baginya untuk  tetap tinggal di kota ini .


Jika waktu bisa diulang , ia tak akan pernah memutuskan pergi ke Jakarta. Namun ada satu keuntungan baginya , ia sudah tahu apa penyebab mami dan daddy-nya dulu berpisah .


"Mas , Lo kenapa gak pernah cerita kalau semuanya seperti ini ?" Tanya Denis datar , pandangannya kosong mengarah ke depan .


Adam menoleh ke arahnya , ada rasa tak enak dalam hatinya .


"Biar Lo ngerti sendiri , gue gak mau ntar dikira ngarang cerita" ucap Adam .


Denis menghela napas berat , mulai dari sekarang ia tak mau lagi bertemu atau berurusan lagi dengan Miko meskipun pria itu daddy-nya . Bagi Denis hidupnya lebih baik sebelum bertemu dengan Miko , tak ada gunanya orang itu ada dalam hidupnya.


Mobil yang dikendarai Adam telah sampai di bandara , mereka menunggu penerbangan yang masih setengah jam lagi .


"Yakin Lo pulang sendiri ?" Tanya Adam khawatir , baru kali ini Denis pergi ke luar kota sendirian.


"Iya mas , makasih udah nganterin gue nyampe sini . Lo hati-hati pulangnya" ucap Denis , ia memeluk Adam .


"Lepas gak ! Gue gak homo ! " Ketus Adam saat Denis tak kunjung melepas pelukannya.


Denis nyengir kuda "elah , gue tahu Lo kurang pelukan " cibir Denis .


"Udah lah , sana masuk . Hati-hati, titip salam buat mami " Denis mengangguk .


Akhirnya Denis masuk ke dalam pesawat , Adam terlebih dahulu duduk di kursi tunggu di bandara .


Ia membuka ponselnya , membuka sekali lagi pesan yang dikirim Clarissa siang tadi .


Ada rasa perih menghujam ke hatinya , baru saja melakukan pendekatan sudah ditinggal nikah saja.


Ingin rasanya Adam ikut Denis ke Semarang , mengobrak-abrik pesta pernikahan Clarissa yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat .


"Haaahh...sial banget nasib gue " keluh Adam , ia bangkit lalu pulang ke rumah Surya menjemput Audrie.


🌿🌿🌿🌿


Denis telah sampai di depan rumah Felicia " mam"


Felicia dan Reihan terperenjat,  hampir saja mangkuk berisi bubur ayam di tangan Reihan terjatuh.


"Denis? "


Felicia menghampiri putranya yang berdiri di ambang pintu,  dipeluknya tubuh kurus Denis.

__ADS_1


" mami kangen " ucap Felicia sendu.


" sama mam"


"yuk masuk,  kamu sendirian? Adam gak nganter ?  Daddy mu juga biarin kamu pulang ke sini seorang diri? "Pertanyaan Felicia beruntun,  Denis pusing dibuatnya.


" plis mam,  jangan tanyakan soal lelaki brengsek itu lagi "


Felicia mengernyit ,  kemarin Denis sendiri yang meminta ikut bersama Miko namun sekarang ia juga yang seakan enggan mendengar nama itu.


" masuk yuk " ajak Felicia ,  ia mengalihkan pembicaraan biar saja nanti Denis yang bercerita.


Denis menatap tajam ke arah lelaki yang sedang duduk di sofa ruang tamu " tolong jika hanya ingin menyakiti mami,  jangan pernah om mencoba memasuki hidup kami "


Berbeda dengan dulu yang sudah memberi lampu hijau untuk Reihan , sekarang Denis lebih ketat lagi untuk melindungi Felicia,  ia takut maminya akan mendapat suami brengsek seperti daddynya .


Reihan hanya mengangguk , dalam hati ia berniat untuk lebih keras lagi memperjuangkan cintanya kepada Felicia yang mulai tumbuh . Baginya ucapan Denis baru saja adalah sebuah  motivasi , ia optimistis bisa mengambil hati anak-anak wanita yang ia cintai .


Rasa benci yang ada dalam hati Denis membuat ia malas berbasa-basi dengan tamu maminya itu , lebih baik ia mengistirahatkan tubuhnya semoga emosinya bisa mereda .


"Aku pamit dulu ya ?"


Reihan meletakkan mangkuk bekas menyuapi Felicia tadi , ia segera ke rumah Felicia saat tak menemukan pujaan hatinya itu di cafe .Ternyata Felicia mengalami demam , sejak ditinggal anak-anaknya ke Jakarta kondisi kesehatan Felicia mulai terganggu. Reihan membawakan sebungkus bubur ayam , berharap cintanya cepat sembuh .


"Hati-hati di jalan mas " ucap Felicia ,ia tersenyum manis kepada Reihan lalu mengantar lelaki itu hingga masuk ke dalam mobil dan membawa Reihan menjauh dari kediamannya.


Felicia berjalan ke arah kamar Denis , ia ingin melihat keadaan Denis .


Klek..


Belaian lembut pada keningnya membuat Denis menutup matanya , rasanya sangat damai . Ia menggenggam tangan maminya saat Felicia hendak menarik tangan dari keningnya "biarkan seperti ini sebentar saja mam " pinta Denis .


Felicia menuruti ucapan anaknya , ia menggerakkan tangannya untuk kembali membelai Denis .


"Tangan mami anget , mami sakit ?" Denis bangkit dari tidurnya , ia menghadap ke arah maminya .


"Hanya demam " ucap Felicia , ia tak ingin membuat Denis khawatir.


Kedua tangan Denis terulur membingkai wajah Felicia , wajah yang lebih tirus ketimbang saat ia meninggalkan maminya ke Jakarta.


"Mami banyak pikiran?" Tebak Denis .


Felicia mengangguk , kemudian ia memeluk tubuh Denis yang beberapa Minggu jauh darinya .


"Semua beban pikiran mami hilang saat kamu sudah kembali pulang ke rumah ini Denis " ucap Felicia , setitik air mata jatuh namun ia segera mengusapnya .


"Mam , ayam goreng" rengek Denis .Selama di Jakarta , ia sama sekali tidak makan ayam goreng . Alasannya karena ia takut rindu kepada maminya , jadi sekarang ia ingin makan masakan Felicia yang baginya sangat spesial itu .


Dengan senang hati Felicia menuruti keinginan Denis , kehadiran Denis kembali ke rumahnya adalah obat paling mujarab bagi penyakit-penyakit yang hinggap di tubuhnya akhir-akhir ini.


🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


Di tempat lain , Yasmin tengah bertemu dengan pengacara . Menanyakan berapa banyak harta yang ia dapat setelah perceraian nya dengan Miko , ia yakin akan mendapatkan harta gono-gini yang melimpah dibanding Felicia istri pertama mantan suaminya .


Namun angan-angannya terhembus angin , ia tak mendapat apa-apa dari perceraian ini kesulitan ekonomi Miko menjadi alasan Yasmin tidak dapat apa yang selama ini ia idamkan .


"Sial ! Pasti ini akal-akalan Miko kan ! " Murka Yasmin .


"Maaf Bu , satu-satunya perusahaan milik pak Miko sudah berpindah tangan . Mas Adam membeli seluruh saham di perusahaan itu , sedangkan kekayaan milik pak Miko lainnya atas nama Putri dan putranya" jelas pengacara itu .


"Putra ? Maksud kamu anak Felicia?" Sang pengacara mengangguk .


"Dia kan sudah dapat cafe dan rumah di Semarang!" Yasmin mulai tersulut emosi.


"Itu semua atas nama Bu Felicia Bu , sedangkan untuk mas Denis mendapat bagian sendiri dari pak Miko "


Yasmin menghela napas kasar , siap sekali nasibnya . Sama-sama pernah menjadi istri sah Miko tak lantas membuatnya memiliki nasib sama seperti Felicia , ia tak dapat apa-apa sedangkan Felicia dan anaknya mendapat bagian dari kekayaan Miko .


"Wanita sialan ! " Geram Yasmin.


"Apakah ada yang ingin ibu Yasmin tanyakan lagi ? Jika tidak , saya permisi "


Yasmin mengibaskan tangannya "pergi saja ! Tak ada gunanya kamu ada di sini "


Setelah pengacara itu pergi , Yasmin baru sadar jika makanan yang ia dan pengacara pesan belum terbayar .Lalu ia melenggang ke arah kasir untuk membayar makan siang itu , makan siang di restoran mewah dengan harga yang tidak murah .


Yasmin mengeluarkan sebuah kartu kredit yang diberikan Miko kepadanya yang selalu ia pakai untuk menghamburkan uang pria itu .


"Maaf Bu , apakah ibu punya kartu lain ? Sepertinya kartu ini sudah diblokir" ucap kasir .


"Coba sekali lagi "


Sudah berulang kali kasir itu mencobanya , namun hasilnya masih sama .


"Ada uang cash Bu?"


Yasmin menggigit bibir bawahnya , ia sama sekali tak pernah membawa uang tunai karena sebuah kartu kredit dan kartu ATM sudah cukup pikirnya.


"Anu , saya tidak bawa . Saya ke ATM dulu ya ?" Ucap Yasmin menahan malu .


Baru saja melangkah , kasir itu mencekal tangan Yasmin .


"Tinggalkan barang ibu untuk jaminan , sudah sering terjadi dengan alasan mau ke ATM namun akhirnya mereka tidak membayar" ucap sang kasir sambil terus memegangi tangan Yasmin agar ia tak kabur .


Suasana restoran cukup ramai , membuat pandangan pengunjung restoran itu tertuju kepada Yasmin .


"Oke ! Nih saya jaminkan gelang saya !" Ucap Yasmin sembari melepas gelang emas putih yang melingkar di lengannya.


"Baik , saya tunggu. Silahkan ibu ambil uangnya , lalu kembali ke sini.  Makanya kalau tidak bisa bayar jangan makan di sini Bu , ngandelin kartu kredit yang sudah terblokir lagi " sindir si kasir .


Yasmin mengeram kesal , baru pertama dalam hidupnya ia diperlakukan seperti itu.


Ia bergegas menuju mesin ATM yang tak jauh dari restoran , ia memasukkan kartu ATm miliknya.

__ADS_1


Beberapa kali kartu itu tertolak , seperti kartu ATm itu bernasip sama dengan kartu kreditnya .


"BRENGSEK !!!"


__ADS_2