
"Mas , mas , elo mau ke mana ? Baju-baju yang dibeli tadi mau diapain ? Ponsel Lo ?" Cerocos Audrie , ia mengikuti langkah lebar Denis yang keluar dari rumah Surya .
Mobil Adam telah siap untuk mengantar Denis ke bandara , ia akan pulang ke Semarang saat ini juga .
Denis mendengus kesal , ia mendelik ke arah Audrie "baju seragam gue yang udah terlanjur dibeli , sumbangin aja . Sini in ponselnya , gue butuh " ucap Denis , ia masih terbawa emosi.
"O..oke , gue kira mau ditinggal sekalian " ucap Audrie seakan tak ikhlas memberikan ponsel itu ke Denis.
Remaja putra itu segera masuk ke dalam mobil kakaknya , tak ada alasan lagi baginya untuk tetap tinggal di kota ini .
Jika waktu bisa diulang , ia tak akan pernah memutuskan pergi ke Jakarta. Namun ada satu keuntungan baginya , ia sudah tahu apa penyebab mami dan daddy-nya dulu berpisah .
"Mas , Lo kenapa gak pernah cerita kalau semuanya seperti ini ?" Tanya Denis datar , pandangannya kosong mengarah ke depan .
Adam menoleh ke arahnya , ada rasa tak enak dalam hatinya .
"Biar Lo ngerti sendiri , gue gak mau ntar dikira ngarang cerita" ucap Adam .
Denis menghela napas berat , mulai dari sekarang ia tak mau lagi bertemu atau berurusan lagi dengan Miko meskipun pria itu daddy-nya . Bagi Denis hidupnya lebih baik sebelum bertemu dengan Miko , tak ada gunanya orang itu ada dalam hidupnya.
Mobil yang dikendarai Adam telah sampai di bandara , mereka menunggu penerbangan yang masih setengah jam lagi .
"Yakin Lo pulang sendiri ?" Tanya Adam khawatir , baru kali ini Denis pergi ke luar kota sendirian.
"Iya mas , makasih udah nganterin gue nyampe sini . Lo hati-hati pulangnya" ucap Denis , ia memeluk Adam .
"Lepas gak ! Gue gak homo ! " Ketus Adam saat Denis tak kunjung melepas pelukannya.
Denis nyengir kuda "elah , gue tahu Lo kurang pelukan " cibir Denis .
"Udah lah , sana masuk . Hati-hati, titip salam buat mami " Denis mengangguk .
Akhirnya Denis masuk ke dalam pesawat , Adam terlebih dahulu duduk di kursi tunggu di bandara .
Ia membuka ponselnya , membuka sekali lagi pesan yang dikirim Clarissa siang tadi .
Ada rasa perih menghujam ke hatinya , baru saja melakukan pendekatan sudah ditinggal nikah saja.
Ingin rasanya Adam ikut Denis ke Semarang , mengobrak-abrik pesta pernikahan Clarissa yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat .
"Haaahh...sial banget nasib gue " keluh Adam , ia bangkit lalu pulang ke rumah Surya menjemput Audrie.
🌿🌿🌿🌿
Denis telah sampai di depan rumah Felicia " mam"
Felicia dan Reihan terperenjat, hampir saja mangkuk berisi bubur ayam di tangan Reihan terjatuh.
"Denis? "
Felicia menghampiri putranya yang berdiri di ambang pintu, dipeluknya tubuh kurus Denis.
__ADS_1
" mami kangen " ucap Felicia sendu.
" sama mam"
"yuk masuk, kamu sendirian? Adam gak nganter ? Daddy mu juga biarin kamu pulang ke sini seorang diri? "Pertanyaan Felicia beruntun, Denis pusing dibuatnya.
" plis mam, jangan tanyakan soal lelaki brengsek itu lagi "
Felicia mengernyit , kemarin Denis sendiri yang meminta ikut bersama Miko namun sekarang ia juga yang seakan enggan mendengar nama itu.
" masuk yuk " ajak Felicia , ia mengalihkan pembicaraan biar saja nanti Denis yang bercerita.
Denis menatap tajam ke arah lelaki yang sedang duduk di sofa ruang tamu " tolong jika hanya ingin menyakiti mami, jangan pernah om mencoba memasuki hidup kami "
Berbeda dengan dulu yang sudah memberi lampu hijau untuk Reihan , sekarang Denis lebih ketat lagi untuk melindungi Felicia, ia takut maminya akan mendapat suami brengsek seperti daddynya .
Reihan hanya mengangguk , dalam hati ia berniat untuk lebih keras lagi memperjuangkan cintanya kepada Felicia yang mulai tumbuh . Baginya ucapan Denis baru saja adalah sebuah motivasi , ia optimistis bisa mengambil hati anak-anak wanita yang ia cintai .
Rasa benci yang ada dalam hati Denis membuat ia malas berbasa-basi dengan tamu maminya itu , lebih baik ia mengistirahatkan tubuhnya semoga emosinya bisa mereda .
"Aku pamit dulu ya ?"
Reihan meletakkan mangkuk bekas menyuapi Felicia tadi , ia segera ke rumah Felicia saat tak menemukan pujaan hatinya itu di cafe .Ternyata Felicia mengalami demam , sejak ditinggal anak-anaknya ke Jakarta kondisi kesehatan Felicia mulai terganggu. Reihan membawakan sebungkus bubur ayam , berharap cintanya cepat sembuh .
"Hati-hati di jalan mas " ucap Felicia ,ia tersenyum manis kepada Reihan lalu mengantar lelaki itu hingga masuk ke dalam mobil dan membawa Reihan menjauh dari kediamannya.
Felicia berjalan ke arah kamar Denis , ia ingin melihat keadaan Denis .
Klek..
Belaian lembut pada keningnya membuat Denis menutup matanya , rasanya sangat damai . Ia menggenggam tangan maminya saat Felicia hendak menarik tangan dari keningnya "biarkan seperti ini sebentar saja mam " pinta Denis .
Felicia menuruti ucapan anaknya , ia menggerakkan tangannya untuk kembali membelai Denis .
"Tangan mami anget , mami sakit ?" Denis bangkit dari tidurnya , ia menghadap ke arah maminya .
"Hanya demam " ucap Felicia , ia tak ingin membuat Denis khawatir.
Kedua tangan Denis terulur membingkai wajah Felicia , wajah yang lebih tirus ketimbang saat ia meninggalkan maminya ke Jakarta.
"Mami banyak pikiran?" Tebak Denis .
Felicia mengangguk , kemudian ia memeluk tubuh Denis yang beberapa Minggu jauh darinya .
"Semua beban pikiran mami hilang saat kamu sudah kembali pulang ke rumah ini Denis " ucap Felicia , setitik air mata jatuh namun ia segera mengusapnya .
"Mam , ayam goreng" rengek Denis .Selama di Jakarta , ia sama sekali tidak makan ayam goreng . Alasannya karena ia takut rindu kepada maminya , jadi sekarang ia ingin makan masakan Felicia yang baginya sangat spesial itu .
Dengan senang hati Felicia menuruti keinginan Denis , kehadiran Denis kembali ke rumahnya adalah obat paling mujarab bagi penyakit-penyakit yang hinggap di tubuhnya akhir-akhir ini.
🌿🌿🌿🌿
__ADS_1
Di tempat lain , Yasmin tengah bertemu dengan pengacara . Menanyakan berapa banyak harta yang ia dapat setelah perceraian nya dengan Miko , ia yakin akan mendapatkan harta gono-gini yang melimpah dibanding Felicia istri pertama mantan suaminya .
Namun angan-angannya terhembus angin , ia tak mendapat apa-apa dari perceraian ini kesulitan ekonomi Miko menjadi alasan Yasmin tidak dapat apa yang selama ini ia idamkan .
"Sial ! Pasti ini akal-akalan Miko kan ! " Murka Yasmin .
"Maaf Bu , satu-satunya perusahaan milik pak Miko sudah berpindah tangan . Mas Adam membeli seluruh saham di perusahaan itu , sedangkan kekayaan milik pak Miko lainnya atas nama Putri dan putranya" jelas pengacara itu .
"Putra ? Maksud kamu anak Felicia?" Sang pengacara mengangguk .
"Dia kan sudah dapat cafe dan rumah di Semarang!" Yasmin mulai tersulut emosi.
"Itu semua atas nama Bu Felicia Bu , sedangkan untuk mas Denis mendapat bagian sendiri dari pak Miko "
Yasmin menghela napas kasar , siap sekali nasibnya . Sama-sama pernah menjadi istri sah Miko tak lantas membuatnya memiliki nasib sama seperti Felicia , ia tak dapat apa-apa sedangkan Felicia dan anaknya mendapat bagian dari kekayaan Miko .
"Wanita sialan ! " Geram Yasmin.
"Apakah ada yang ingin ibu Yasmin tanyakan lagi ? Jika tidak , saya permisi "
Yasmin mengibaskan tangannya "pergi saja ! Tak ada gunanya kamu ada di sini "
Setelah pengacara itu pergi , Yasmin baru sadar jika makanan yang ia dan pengacara pesan belum terbayar .Lalu ia melenggang ke arah kasir untuk membayar makan siang itu , makan siang di restoran mewah dengan harga yang tidak murah .
Yasmin mengeluarkan sebuah kartu kredit yang diberikan Miko kepadanya yang selalu ia pakai untuk menghamburkan uang pria itu .
"Maaf Bu , apakah ibu punya kartu lain ? Sepertinya kartu ini sudah diblokir" ucap kasir .
"Coba sekali lagi "
Sudah berulang kali kasir itu mencobanya , namun hasilnya masih sama .
"Ada uang cash Bu?"
Yasmin menggigit bibir bawahnya , ia sama sekali tak pernah membawa uang tunai karena sebuah kartu kredit dan kartu ATM sudah cukup pikirnya.
"Anu , saya tidak bawa . Saya ke ATM dulu ya ?" Ucap Yasmin menahan malu .
Baru saja melangkah , kasir itu mencekal tangan Yasmin .
"Tinggalkan barang ibu untuk jaminan , sudah sering terjadi dengan alasan mau ke ATM namun akhirnya mereka tidak membayar" ucap sang kasir sambil terus memegangi tangan Yasmin agar ia tak kabur .
Suasana restoran cukup ramai , membuat pandangan pengunjung restoran itu tertuju kepada Yasmin .
"Oke ! Nih saya jaminkan gelang saya !" Ucap Yasmin sembari melepas gelang emas putih yang melingkar di lengannya.
"Baik , saya tunggu. Silahkan ibu ambil uangnya , lalu kembali ke sini. Makanya kalau tidak bisa bayar jangan makan di sini Bu , ngandelin kartu kredit yang sudah terblokir lagi " sindir si kasir .
Yasmin mengeram kesal , baru pertama dalam hidupnya ia diperlakukan seperti itu.
Ia bergegas menuju mesin ATM yang tak jauh dari restoran , ia memasukkan kartu ATm miliknya.
__ADS_1
Beberapa kali kartu itu tertolak , seperti kartu ATm itu bernasip sama dengan kartu kreditnya .
"BRENGSEK !!!"