
kini Radit fokus belajar meskipun pikirannya tidak bisa lepas dari bayangan Alya. namun, dia hempaskan pikiran itu. karakter Radit sama dengan Bagas. Dia hanya mencintai satu wanita. Dan hatinya tidak akan tergoyahkan oleh apapun. Dia juga seorang lelaki tanggung jawab dan romantis terhadap pasangannya. tidak beda jauh dari sikap papahnya. cara berpikir pun dia sangat teliti. tidak mudah untuk langsung menuding orang tanpa bukti. Kini Bagas menyelidiki orang yang telah mengedit photo itu. Bagas meminta bantuan kepada tukang edit photo. Dia segera mendatangi orang tersebut. setelah bertemu orang itu meneliti gambar yang ada wajah bagas. setelah dilihat dari beberapa situs. Terbukti kalau itu nyata editan. orang tersebut memperlihatkan wajah asli dari si cowok yang ada dipoto itu. Bagas meminta print photo itu. Untuk melacak terus siapa yang sudah melakukan hal kriminal itu.
orang itu pun bersedia melacak orang yang sudah berhasil membuat Raisa marah gara gara Poto editan itu. Setelah Bagas melakukan pengecekkan. Dia tinggal nunggu hasil nya. Bagas pun segera pulang.
sementara Dimas dan teman temannya sedang asyik bermain gitar. di halaman rumah Dimas. Seorang gadis menjumpai mereka. Dia adalah tiada lain Anis. Mereka terkejut melihat kedatangan Anis.
"hai.." sapa Anis Tersenyum kepada mereka.
"hai juga" sapa jaki cengengesan. Dimas cuek saja sambil memainkan gitar.
"kalian berdua saja?" tanya Anis melirik kedua sahabat itu.
"kelihatan nya?" tanya balik jaki
"Radit ga kesini?" tanya Anis penasaran.
"ga tuh! Radit lagi fokus belajar " jawab jaki melirik Dimas Yang sejak tadi terdiam cuek.
" oh... Oke... thanks" ucap Anis semabari ngeloyor pergi Tanpa basa basi lagi.
Dimas curiga dengan Anis dia menghentikan memainkan gitar.
"ada apa dia kesini ..cuma mau nanyain Radit saja?" tanya Dimas kepada jaki.
"sepertinya begitu" jawab jaki ragu ragu.
Anis segera mendatangi rumah Radit. sesampainya dirumah Radit. Anis segera mengetuk pintu. Bi inah segera membuka pintu untuk Anis.
"cari siapa ya non?" tanya Bi Inah setelah membuka pintu.
"ada Radit?" tanya Anis melirik bi Inah.
"ada non.. Non temannya mas Radit?" tanya Bi Inah.
"iya bi. Saya mau ketemu Radit" jawab Anis bersemangat.
"silahkan masuk..saya panggilkan mas Radit dulu" ucap bi Inah.
"oke bi. Terimakasih " jawab Anis Santai sembari duduk disofa ruang tamu.
bi Inah segera memberi tahukan kepada Radit. Pintu kamar terbuka sedikit.
"mas Radit ada temannya datang" ucap Bi Inah.
"baik Bi nanti saya kesana" jawab Radit masih fokus pada buku pelajaran.
"tapi mas, dia perempuan" ucap Bi Inah lagi.
"perempuan? Siapa bi?" sahut Radit menoleh bi Inah dengan penasaran.
"bibi juga lupa ga menanyakan namanya. Tapi, dia cantik mas..cantik banget.." jawab bi Inah memuji kecantikan Anis.
"oh...ya udah nanti saya temui" jawab Radit
__ADS_1
"iya mas" bi Inah pun meninggalkan kamar Radit.
Radit masih bertanya tanya siapa perempuan yang datang kerumahnya. Dia melihat buku pelajaran pun tidak tenang. Dia segera melihat membuktikan kepanasarannya. Radit terkejut setelah melihat anis yang sudah berada disitu dengan melihat figura yang terpajang photo Radit masa kecil dan orangtuanya. Sampai photo Radit yang sekarang juga terpanjang di ruang keluarga itu.
"Anis" ucap Radit kaget.
Anis menoleh ke arah suara. Dia tersenyum lebar melihat Radit di hadapannya.
"hai...aku ganggu ga nih?" tanya Anis menyapa Radit.
"ada apa?" tanya Radit bersikap dingin.
"pingin ketemu kamu aja sih. Sekalian ngomongin soal kuliah..kamu mau ke universitas mana?" tanya Anis basa basi.
Radit terdiam. Dia tidak memikirkan kuliahnya. Dia hanya berpikir untuk Alya.
"kok diam sih?" tegur Anis mengejutkan Radit.
"ga apa apa..." jawab Radit cuek.
tak lama kemudian bi Inah datang membawa jus jeruk.
"silahkan non di minum" ucap bi Inah tersenyum ramah.
"makasih bi" jawab Anis tersenyum sambil duduk.
Radit risih dengan kedatangan Anis.
"teman mas Radit cantik banget ya... duh...cocok Ama mas Radit yang cakep Ama non..siapa namanya?" tanya Bi Inah kepo dengan urusan Radit.
Radit mendelik tidak suka dengan dukungan bi Inah.
bi Inah kikuk dengan sikap Radit yang cuek kedatangan Anis.
"ya sudah silakan lanjutkan...bibi mau kebelakang dulu" bi Inah pun pamitan sambil melirik Radit yang cemberut.
"sini dong Radit" pinta Anis.
"mau apa sih?" tanya Radit cuek.
Tak lama kemudian Raisa datang. Dia melihat Anis dan Bagas .
"lho ada tamu ya?" tanya Raisa tersenyum kepada Anis.
Anis segera berdiri dan berjalan menyambut kedatangan Raisa. lalu, menyalami tangan Raisa. dengan senyuman.
"iya Tante. perkenalkan nama saya Anis" jawab Anis tersenyum ramah.
"oh... Namanya Anis ya secantik orangnya. Eum...Radit ga pernah cerita kalau punya teman cewek secantik Anis" ucap Raisa memuji kecantikan Anis. memang Anis cantik berambut panjang ombak, hidung mancung Bangir bak arabian. Juga memiliki kulit putih Langsat dan berbadan Pasek bongsor.
namun, kecantikan Anis tidak membuat tertarik hari Radit. meskipun banyak yang bilang Radit mirip dengan Anis. namun, tidak Radit pedulikan.
"Radit...ada temannya kok di cuekin aja sih" tegur Raisa melirik Radit yang cuek.
__ADS_1
"aku lagi belajar mah.. temani aja Ama mamah" jawab Radit segera masuk kekamar.
sontak saja Anis dan Raisa kaget dengan sikap Radit yang super jutek dan cuek.
Raisa menoleh ke Anis sambil tersenyum
"Hem...maaf ya Anis ..Radit emang anaknya cuek begitu" ucap Raisa cengengesan.
"iya Tante ga apa apa. Udah biasa kok Radit emang begitu " jawab Anis mencoba tenang.
dalam pikiran Anis dia bisa mendapatkan hati Radit melalui ibunya.
"iya syukurlah kalau udah tau..jadi ga tersinggung ya" jawab Raisa tenang.
"iya Tante tenang aja kok. Oh iya Tante baru pulang kerja ya?" tanya Anis melirik pakaian Raisa
"oh iya benar. Tante ganti pakaian dulu ya" jawab raisa sembari bangkit dari tempat duduknya.
"silahkan Tante"
Raisa pun segera berjalan menuju kamarnya. untuk ganti baju. Anis tersenyum licik.
"dengan pendekatan Ama ibunya . Aku bisa mendapatkan hati Radit. pasti ibunya sangat mendukung. dengan itu aku bisa memiliki Radit" gumam Anis licik.
Bagas berjalan menuju mobil. Dia tidak sengaja bertemu bertemu Alex yang baru turun dari mobil. Dekat mobil Bagas.
"Bagas" sapa Alex.
Bagas menoleh kebelakang.
"hai...aku kira siapa yang manggil" tanya Bagas.
"apa kabar?" tanya balik Alex menjabat tangan Bagas.
"baik...kamu sendiri bagaimana?" tanya Bagas
"baik ...abis ngapain ada disini?" tanya Alex heran
"oh ada perlu sedikit " jawab Bagas .
Alex melirik amplop coklat yang di pegang tangan Bagas.
"oh oke..." jawab Alex ragu ragu.
"kamu sendiri mau apa kesini?" tanya Bagas
"oh...ini mau mencetak spanduk buat dikantor." jawab Alex.
"oh iya.." Bagas menundukkan matanya bersedih.
"ada masalah?" tanya Alex menatap Bagas merasa aneh.
Bagas melirik Alex.
__ADS_1
Bersambung...