
"kenapa kamu kesini?" tanya Wisnu cemas.
"lho emang nya ga boleh ya?" tanya balik Raisa
"bukannya ga boleh. Harusnya kamu ngasih kabar dulu kek. jangan asal datang aja.. untung aku ada di rumah. coba kalau ga ada di rumah kamu gigit jari!" jawab Wisnu beralasan.
"aku kan udah hubungi kamu. tapi ga kamu respon sih...coba kalau di jawab. Mungkin kamu ga terkejut dengan kedatangan ku" ucap Raisa penuh manja.
"kamu kan tau aku lagi sakit" jawab Wisnu berbohong.
Raisa dengan panik memeriksa kening dan pipi Wisnu dengan telapak tangannya. Wisnu risih dengan aksi Raisa.
"aduh apaan sih?!" bentak Wisnu menghempaskan tangan Raisa dari wajahnya.
sontak saja Raisa terkejut
"aku mencemaskan kamu tau" jawab Raisa ketus
"iya tapi ga gitu juga caranya" hardik Wisnu risih dengan kedatangan Raisa.
Raisa cemberut dan duduk di sofa. Wisnu melirik Raisa dengan mendelik.
"sini lah duduk" sahut Raisa melambaikan tangan kearah Wisnu.
"mau apa?" tanya Wisnu cemberut
"ngobrol dong. Masa kamu ga kangen Ama aku?" tanya balik Raisa.
dengan malas Wisnu menuruti keinginan Raisa. Dia duduk disamping Raisa
"gitu dong. kan kita bisa bermesraan" ucap Raisa memegang lengan Wisnu dan menyenderkan kepalanya di lengan Wisnu.
Wisnu sangat risih dengan kelakuan Raisa. Wisnu mencibirkan bibirnya tanda tak suka.
"kamu kesini cuma mau nengok aku aja kan?" tanya Wisnu ketus
"iya..sekalian main di rumah kamu. Boleh kan" jawab Raisa melirik wisnu.
__ADS_1
"terus mana hasilnya?" tanya Wisnu menanyakan aset aset itu.
Raisa cemberut menunduk diam. Dia bingung harus jawab apa.
"kok diam. pasti gagal lagi kan?" tanya Wisnu kesal
"kamu sebenarnya mencintai aku ga sih?" Raisa balik nanya.
Wisnu geli mendengar pertanyaan Raisa. Bagaimana pun Wisnu tidak pernah mencintai Raisa. jangan memanfaatkan Raisa saja. Namun, demi misinya berhasil. Wisnu mau tidak mau. Harus bersandiwara.
"kamu ragu sama aku?" tanya Wisnu heran.
"ga sih .. cuma kenapa selalu menayangkan itu terus. padahal kita bisa mendapatkan materi lagi bersama dan berjuang bersama tanpa minta harta gono-gini dari Bagas. biar kita cepat nikah. Dan hidup bersama" jawab raisa pasrah.
"bukannya begitu Raisa. Kamu wajarlah minta hak kepada Bagas setelah bercerai. kamu jangan mau dibohongi Bagas. Dia cuma tidak ingin berbagi harta dengan mu.. padahal kamu selama ini kurang apa sama Bagas. Wajarlah kalau kamu minta" rayu Wisnu mempengaruhi pikiran Raisa.
"jadi aku harus memaksa dia?" tanya Raisa polos.
"iya iyalah... kalau kamu ga minta ya kamu yang rugi. Bagas enak bisa nikah lagi setelah bercerai denganmu. Yang lebih enak istri kedua Bagas lho. bisa menikmati semua harta Bagas" wisnu menakuti Raisa dengan pengaruhnya.
Raisa merenungkan ucapan Wisnu yang sudah masuk ke pikirannya. Wisnu tersenyum licik saat Melihat Raisa menundukkan kepalanya.
"Radit... lihat lah ini..!" seru pak tua memperlihatkan kertas itu.
Radit menoleh terkejut. Dan melihat kertas yang ada disodorkan pak tua. Betapa terkejutnya Radit melihat kertas itu. Dia segera mengambil kertas itu.
"lihatlah baik baik nak.. Ini ada gambar kamu di kertas ini.. benarkan orang tua mu mencari kamu.." ucap pak tua panik
Radit termenung sejenak.
"bapak dapatkan ini dari mana?" tanya Radit penasaran.
"dari tembok jembatan..kamu lihat sana..banyak kertas ini banyak gambar kamu memenuhi tembok jembatan.." jawab pak tua.
Radit segera berlari melihat ke atas jembatan. sesampainya di atas jembatan. Radit terkejut membelalakkan mata. Melihat gambar dirinya terpasang ditembok jembatan. Radit segera mencabut Satu persatu kertas itu. lalu, membuang nya ke aliran sungai. Radit segera kembali menemui pak tua. pak tua heran melihat Radit Kembali lagi.
"nak sebaiknya kamu pulang saja. Bukan bapak mengusir kamu.. tapi orangtuamu lebih menghawatirkan kamu. Baik buruknya kelakuan orang tua. Tetap dia akan mencemaskan anaknya" ucap pak tua menasehati Radit.
__ADS_1
Radit terdiam sejenak... Dia sedang berpikir bagaimana caranya menyatukan orangtuanya lagi..di sisi lain dia juga ingin mengetahui keadaan Alya...dan dia ingin menemani Alya saat Alya melahirkan.
Seorang wanita berjalan pelan menghampiri Bagas Yang sedang duduk ditaman sambil memegang kertas pengumuman itu.
"ya Allah..kemana lagi harus aku cari Radit anak ku" ucap Bagas putus asa. ucapan Bagas didengar oleh Wina yang mendekatinya.
"kasian sekali... Radit belum ketemu juga ya pak Bagas?" tanya Wina dengan suara tegas.
Bagas melirik ke arah suara. Dia melemparkan pandangan nya ke arah lain.
"iya...entah aku harus kemana mencari Radit" jawab Bagas menghembuskan nafas berat.
"ini semua kesalahan Raisa sebagai ibu tidak memperhatikan anaknya. sekarang sudah hilang pun dia bersikap cuek. seakan akan tidak merasakan kesedihan" Wina mencoba menghasut pikiran Bagas.
"ngapain kamu ada disini?" tanya Bagas cuek.
Wina tersenyum kecil dan duduk di dekat Bagas.
"saya tidak sengaja melihat bapak sendirian disini..maka itu saya menghampiri bapak.. nampaknya bapak sedang bersedih" jawab Wina basa basi.
Bagas diam tidak berkata apa apa. Dia terus memandang gambar Radit yang berada di kertas itu. Wina melirik. Dan tersenyum licik untuk mendapatkan hati Bagas disaat Bagas terpuruk.
"harusnya Raisa yang berperan lebih menghawatirkan anaknya. Tapi, daritadi saya tidak melihat Raisa" ucap Wina celingukan melihat sekitar.
"dia ada dirumah" jawab Bagas masih cuek.
"oh...saya kira dia masih menemui Wisnu" celetuk Wina mulai menjalankan akal bulusnya.
lagi lagi Bagas bersikap cuek tidak menggubris ucapan Wina.
" pak..kenapa sih bapak biarkan perselingkuhan Raisa dengan wisnu..kenapa bapak tidak secepatnya bertindak mengambil keputusan? malah bapak memutuskan hubungan kita? Kenapa pak? Apakah bapak sebodoh ini sebagai lelaki tidak bisa menentukan kebaikan buat bapak? udah jelas Raisa itu selingkuh dengan Wisnu. Tapi, kenapa bapak biarkan saja sih pak?" pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Wina memojokkan Bagas.
"semua itu karena aku mempertahankan rumah tanggaku dengan Raisa." jawaban Bagas membuat terpukul hati Wina. Dia benar benar tidak menyangka akan jawaban Bagas. Yang begitu sangat mencintai Raisa.
"apa ke istimewa Raisa Dimata bapak. sedangkan dia selingkuh dengan lelaki lain. sama saja wanita rendahan!" gerutu Wina kesal.
"tidak ada keistimewaan apa apa dari Raisa. Tapi, kita sudah hidup bersama selama 17 tahun ini. susah senang, suka duka kita lalui bersama. dan Raisa adalah wanita yang aku cintai untuk pertama kalinya" jawab Bagas tegas.
__ADS_1
Wina semakin kesal dan gemas mendengar jawaban Bagas yang menyakiti hatinya..
bersambung...