
Adam mengendarai mobil nya seperti orang kesetanan , membuat Denis memejamkan matanya erat .
Kilatan kenangan tentang kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu kembali melintas , ia tidak mau kejadian itu terulang lagi .
Sudah kaki kanannya yang menjadi korban , jika ia mengalami hal na'as maka kaki kirinya yang akan mengalami nasib sama .
Keselamatan masih melingkupi mereka , kini mobil Adam telah terparkir manis di depan rumah Adit .
Adam bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Denis yang masih berusaha turun dari mobil , ia menuju lantai atas di mana Audrie biasanya menghabiskan waktu saat kesal dengan seseorang.
"Audrie di kamar ma?"
Milka mengangguk saat berpapasan dengan Adam di ujung tangga paling bawah , Adam mempercepat langkahnya sebelum kemarahan Audrie bertambah.
Adam sampai di depan kamar Audrie yang terbuka , badan gadis itu tengah menelungkup masih lengkap dengan pakaian ala-ala workout yang dipakainya saat akan carefreeday yang gagal tadi .
Audrie menangis sesenggukan , ia kecewa terhadap kakaknya yang telah mengingkari janji untuk mengantarnya .
Tanpa permisi , Adam duduk di samping Audrie . Ia mengelus rambut panjang milik Audrie , dibelai nya rambut adik kesayangannya itu.
"Maafin mas , tadi ada Denis jadi lupa mau nganterin kamu " ucap Adam .
Mendengar suara Adam , kekesalan Audrie justru makin bertambah. tangisannya semakin kencang , membuat Adam mengusap kasar wajahnya .
Ini yang ia tak sukai dari cewek cengeng , suka merajuk , yang menurut Adam sangat menyusahkan bagi kaumnya .
"Lo berhenti nangis gue beliin ice cream !"
Bujukan Adam belum mempan , Audrie masih menangis .
"Gue beliin jajan "
"Gue beliin kuota setahun "
"Gue beliin somay sama gerobaknya , kalau perlu penjualnya sekalian !"
"Gue beliin ponsel keluaran terbaru kembaran sama Denis ntar "
Bujukan Adam belum ada yang mempan , membuat Adam mengerang frustasi.
"Oke oke , ini penawaran gue yang terakhir. Lo boleh shoping sepuas Lo !" Ucap Adam .
Baru saja ia menutup mulutnya, Audrie dengan semangat mengambil tawaran itu .
"Baik , gue siap-siap sekarang" ucap Audrie semangat , ia bangkit dari tidurnya dan segera mencuci mukanya yang basah karena air mata.
Adam mendengus kesal , kaum wanita kalau diajak shoping matanya langsung ijo .
"Gue tunggu Lo di bawah , lima menit . Lebih dari itu , gue tinggal !" Teriak Adam , lalu ia keluar dari kamar Audrie .
Di ruang tengah ada Denis dan Milka yang tengah berbincang , Denis memang dekat dengan keluarga Adit . Sejak kecil , ia terbiasa bermain dengan Audrie saat Adit dan Milka berkunjung ke Semarang.
"Adikmu mana ?" Tanya Milka saat melihat Adam yang hanya turun sendirian.
Adam mendudukan pantatnya ke single sofa di samping Milka , ia menghela napas panjang karena sebentar lagi dompetnya akan dibobol oleh Audrie . Belum lagi Denis , ia tadi sudah berjanji akan membelikan ponsel baru untuk adik laki-lakinya itu.
"Lagi siap-siap ma , abis ini kita mau ke mall " ucap Adam .
Milka hanya menggelengkan kepalanya , sejak bekerja Adam selalu menuruti keinginan Audrie. Anak itu lebih sering meminta sesuatu kepada Adam ketimbang Adit ayahnya sendiri .
"Yuk mas Adam , eh ada mas Denis juga " ucap Audrie girang , ternyata kakaknya tadi tidak berbohong kalau Denis beneran ke apartemennya .
Adam dan Denis berdiri dari duduknya , terlebih dahulu pamit kepada Milka sebelum pergi .
__ADS_1
Mereka bergantian mencium punggung tangan Milka , lalu mereka bertiga pergi ke tempat yang di tuju.
🌿🌿🌿🌿
Di mall , Audrie mengajak Adam dan Denis berkeliling.
Mengingat kakinya yang belum sembuh , Denis memilih menunggu mereka berdua di sebuah foodcourt .
Ia memainkan ponsel milik Adam yang sengaja ditinggal , untuk menghilangkan rasa bosan .
Tiba-tiba ponsel itu bergetar, sebuah pesan terpampang di layar utama ponsel Adam .
Clarissa A.
Mas Adam
Denis membuka pesan itu , lalu membaca semua percakapan antara Adam dan wanita bernama Clarissa itu .
Ia tertawa ketika membaca gombalan garing dari Adam yang ditujukan kepada Clarissa , Denis mencemooh kemampuan Adam dalam merayu cewek . Menurutnya terlalu kuno , dan juga terlalu mainstream .
Bapak kamu tukang ini ya ...
Bapak kamu tukang itu ya...
Menurut Denis , itu gombalan jaman dia SMP dulu . Habis ini , ia akan mengajari Adam bagaimana merayu wanita yang baik dan benar .
Dengan iseng dan tanpa persetujuan yang punya , Denis membalas pesan itu , ia mencoba meniru cara mengetik pesan seperti Adam agar lawannya tidak curiga.
Adam F.M
Apa ?
Clarissa A.
Adam F.M
Buru gih.
Clarissa A.
Gue , Minggu depan dikawinin sama Alex 😭😭😭
Kata mamah , kita gak ada kejelasan. Kamu terlalu menarik ulurku kayak layang-layang, jadinya aku disuruh nikah secepatnya sama Alex itu 😖😖
Adam F.M
Ya Tuhan
Denis terkikik geli membalas pesan tadi , ia merasa lucu sekaligus prihatin kepada Adam gara-gara kurang peka an Adam membuat ia harus kehilangan gadis incarannya .
Ia pura-pura bermain game angry bird saat Adam dan Audrie berjalan ke arahnya , Adam terlihat pucat sedangkan Audrie tersenyum bahagia berhasil merampok kakaknya .
"Udah ?" Tanya Denis .
"Udah dong , nih buat elo . Kurang baik apa coba gue sama Lo mas , gue daftarin nih ke mas Adam . Dia beliin ponsel kembar buat gue dan elo , terus seragam buat Lo sekolah di sini juga " cerocos Audrie sambil menunjukkan satu persatu isi belanjaannya .
Wajah Adam memelas , gaji dua bulannya sudah ludes hari ini tinggal beberapa lembar uang sepuluh ribuan di dompetnya .
Denis menatap iba , kasihan sekali nasib Adam hari ini belum lagi mendapat kabar gadis pujaannya akan segera dipinang orang .
Dengan malas Adam mengajak kedua adiknya untuk pulang , ia tak mau mengingat-ingat berapa nominal uangnya yang melayang hari ini . Ia ingin segera pulang , memejamkan matanya untuk menghilangkan pening di kepalanya.
Di perjalanan pulang tak ada yang berbicara di dalam mobil , semua hening .
__ADS_1
Denis sama sekali tak menyukai situasi ini , ia berusaha menggoda Adam.
"Drie " panggil Denis membuat Audrie di jok depan menoleh ke arahnya .
"Apa ?"
"Bapak kamu tukang lotre ya ?"
Audrie mencebik , ia jijik mendengar gombalan itu .
"Hii apaan sih mas , itu udah jadul banget "
"Udah jawab aja !" Ucap Denis mendelik .
"Iya , kok tahu sih ?" Audrie terpaksa menimpali ucapan Denis .
"Karena kamu telah memenangkan hatiku ..eyaa " Denis kegirangan.
Wajah Adam memerah , antara marah dan malu .
"Drie " panggil Denis lagi .
"Apa lagi mas !"
"Lo pernah ngerasain gak ? Pas lagi PDKT , terus Lo ditinggal nikah ?"
"Kalau gue sih nangis guling-guling lah mas "
"Iya ya Drie , rasanya sakit tapi tak berdarah" ucap Denis mendramatisir, ia memegang erat dadanya yang sama sekali tidak sakit .
Adam mengernyit , ia sadar jika sejak tadi Denis mengejeknya .
Lihat saja nanti , Adam akan memberi perhitungan kepada bocah itu jika sudah sampai di rumah Surya.
Adam mengarahkan mobilnya ke rumah Surya , ia sudah lama tak berkunjung ke rumah itu .
Mobil Adam telah sampai di depan rumah , satpam membuka gerbang setelah Denis membuka jendela mobil memberitahu bahwa mereka bagian dari keluarga Pramudya.
Denis terlebih dahulu masuk ke dalam rumah , ia sengaja menghindari Adam yang tentu akan memberinya pelajaran atas ejekan-ejekan yang ia lontarkan , sedangkan Audrie tengah sibuk mengutak-atik ponsel Oppo find x yang dibelinya tadi .
Di ruang tengah , terdengar suara Maya dan Miko yang sepertinya sedang bersitegang .
"Jalan pikiranmu bagaimana sih Miko ? Kamu itu udah keblinger! Kelamaan hidup bersama Yasmin membuat akal warasmu hilang !" Ucap Maya bersungut-sungut , Surya yang duduk di sampingnya berusaha meredam amarah istrinya.
"Ma , aku dan Yasmin udah cerai jadi gak ada yang merhatiin Marsya lagi . Tujuan Miko nitipin Marsya di sini agar dia ada temannya "
" Kamu saja tak pernah memikirkan nasib Felicia dan Denis , di mana mereka tinggal , bagaimana kondisi keuangan mereka. Sedangkan kamu memusingkan nasib anak harammu ini ?" Maya menunjuk wajah Marsya dengan jarinya .
"Itu udah masa lalu ma , Denis pun sudah besar dan sekarang sudah tinggal bersama kita di sini , Marsya juga anakku ma cucu Mama . Tolong terima dia dengan baik di rumah ini , seperti Mama menerima Denis" ucap Miko memelas .
"Jangan gila Miko ! Mama bisa ngerasain bagaimana sakitnya Felicia waktu itu , hamil besar ditelantarkan suami . Pas kesini tahu-tahu kamu udah punya anak dan istri lagi , kalau Mama jadi Felicia sudah Mama banting anak yang ada di gendonganmu itu . Saat semua luka mereka mulai tertutup rapi , kamu mau nambahin lagi dengan menyatukan Marsya dan Denis di rumah ini ? Iya ! Kamu gak pernah mikirin rasanya jadi Denis saat tahu apa yang kamu lakukan kepada maminya dulu ! " Ucap Maya penuh amarah , pikirannya seakan terlempar pada kejadian masa lalu . Di mana ia harus kehilangan cucu dan menantu kesayangannya atas ulah anaknya sendiri yang menikah lagi dengan wanita sundal itu .
Denis terpaku di tempatnya , ia menangis saat mengetahui fakta itu . Fakta di mana Miko telah mencampakkan maminya dan lebih memilih hidup bersama keluarga barunya , tangannya mencengkram tongkat kuat .
"Makasih buat lukanya tuan Miko , aku bersyukur mami bisa melewati semua itu ! " Teriak Denis .
Semua yang ada di sana menoleh ke arah Denis , matanya menatap nyalang satu persatu anggota keluarga yang tengah berkumpul itu.
Denis mengayunkan lebar tongkatnya agar mempercepat langkahnya , sampai ia berada tepat di depan Adam yang tengah duduk di sofa sembari memijat pelipisnya ia berteriak .
"Pesenin gue tiket ke Semarang SEKARANG !"
Adam menatapnya bingung , namun Adam tak urung memesankan tiket untuk Denis melalui ponselnya.
__ADS_1