
Raisa berusaha untuk membuka brankas itu. Namun, berapa kali dia coba selalu gagal. Bi inah tidak sengaja melihat Raisa yang sedang berusaha membuka brankas. Bi Inah mengintip dibalik pintu.
"Bu Raisa memaksa untuk mendapatkan surat surat berharga itu. Tapi untuk apa ya?" gumam bi Inah dalam hati.
tiba tiba Bagas sudah ada dihadapan bi Inah. Saat bi Inah beranjak pergi bi Inah terkejut melihat Bagas yang sudah ada disitu sejak tadi.
"bapak...e...sudah pulang?" sapa bi Inah gugup.
Suara bi Inah terdengar ke kamar. Hingga Raisa mendengarnya.
"Bagas sudah pulang" gumam Raisa melirik jam tangannya. Raisa segera keluar kamar. Dan tersenyum menyambut Bagas.
"mas..kamu sudah pulang" sapa Raisa mencoba tenang.
Bagas tersenyum. Bi inah melirik sembari pergi meninggalkan tempat itu.
"sudah...sedang apa kamu?" tanya Bagas curiga kepada Raisa.
"e...ga apa apa..." jawab Raisa gugup
"ga kerja?" tanya Bagas heran
"ga...ambil cuti" jawab Raisa mencoba tenang.
"oh iya mas...aku sudah menyiapkan makan untuk kamu" jawab Raisa mengambil tas.
"oke" Bagas benar benar merasa heran dengan sikap Raisa yang mulai berubah.
namun tidak mudah untuk Bagas percaya dengan perubahan sikap Raisa. Karena bagaimana pun Raisa pernah mengkhianati Bagas.
"bagaimana hubungan kamu dengan Wisnu?" tanya Bagas dimeja makan
deg!.
Raisa terkejut mendengar pertanyaan Bagas.
"kamu ngomong apa sih mas. Mana ada hubungan dengan dia" bantah Raisa.
"aku kan udah tau kamu selingkuh dengan wisnu masa lupa?" tanya Bagas mengingatkan Raisa
"sudah ga lagi" jawab Raisa berbohong.
"serius?" tanya Bagas menyakinkan
"iya serius lah" jawab Raisa
"oke kalau begitu...kamu Risen dari pekerjaan mu" ucap bagas
"kalau soal itu... nanti aja mas..soalnya aku belum siap untuk keluar dari kerjaan" jawab Raisa.
" kamu ga pernah siap sampai kapanpun juga. Karena ga ada niat untuk Risen" bantah Bagas
Raisa terdiam cemberut menunduk.
Hari ini Radit mau chek kesehatan kandungan Alya. kini ditemani kedua sahabatnya. Dimas membawa mereka menggunakan si empat roda. Dimas pun menyetir. Jaki duduk didepan bersama Dimas. Radit dan Alya duduk di belakang. Pas lampu merah mobil pun berhenti seperti kendaraan lain.
__ADS_1
"gerahnya" ucap jaki mengibaskan tangannya.
"padahal udah pasang AC masa masih gerah?" tanya dimas melirik.
"ah..lu mah gerah ngeliat kemesraan Radit Ama Alya ya" ledek Dimas melirik Radit Ama Alya di kaca mobil.
"hehehe...tau aja lu!" seru jaki nyengir.
"lu carilah cewek kayak gua nih" cetus Radit.
"iya udah cantik, baik ,pintar masak ...rajin bantuin mang Ujang lagi" puji jaki melirik Alya.
"ngomong sih ngomong tapi ga usah melirik gitu ...tar ada yang cemburu lho!" tegur Dimas melirik Radit di kaca mobil.
Jaki tertawa kecil menggoda Radit dan Alya.
"apaan sih kalian... Iri ya?" hardik Radit cuek.
mereka pun tertawa lepas. lampu hijau pun telah nyala. semua kendaraan mulai berjalan. Termasuk Dimas. Namun, tanpa sengaja Alya melihat orangtuanya di dalam mobil. Saat Dimas menyalip mobil orang tua Alya.
"mamah, papah" pekik Alya pelan melihat mobil kedua orang tuanya.
Radit menoleh ke arah Alya.
"siapa?" tanya Radit mendongak ke jendela mobil.
"seperti mamah dan papah aku" jawab Alya ragu ragu.
"masa sih?" Radit menoleh ke arah belakang memastikan mobil orangtua alya yang dibelakang mobil Dimas.
"mereka mau kemana?" tanya Alya penasaran.
sesampainya di rumah sakit. Mereka turun dari mobil setelah mobil masuk parkiran. mereka pun segera ker Bagain pendaftaran. setelah itu mereka menunggu diruang tunggu bidan kandungan. Disaat mereka sedang menunggu panggilan. Winda dan Alex pun muncul, ternyata mereka juga mau memeriksa perut Winda yang sering mengeluh sakit. sontak saja Alya dan Radit terkejut melihat kedua orang tua Alya..begitupun dengan mereka melihat Alya dan Radit ada disitu.
"Alya?" ucap Winda terkejut.
Alya bengong kaget. Alya mencoba menghindari mereka. Namun, tangan Radit langsung menangkap tangan Alya. gelagat Radit membuat orang tua Alya kaget. Alya menatap Radit.
"jangan pergi lagi. Hadapi orangtua kamu disaat mereka bertemu dengan mu" ucap Radit menatap Alya.
Alya berlinang air mata mengalihkan pandangan menatap kedua orang tuanya.
"benar Alya. Mamah dan papah senang bertemu kamu lagi" jawab Winda melirik alex.
Alex cuek dan dingin. Winda memegang kedua tangan Alya.
"Alya.. pulang lah nak. Mamah merindukan kamu ..mamah mengkhawatirkan keadaan kamu sayang..apalagi sekarang kehamilan mu sudah besar seperti ini...pulang ya nak. ikut mamah dan papah" ucap Winda dengan nada sedih.
Dimas dan jaki kaget melihat kejadian itu. Mereka bengong melihat anak dan ibu itu. Alya melirik Radit dan Alex. Winda paham dengan perasaan anaknya yang pernah di usir Alex
"pah, Alya pulang bersama kita ya pah" ucap Winda melirik alex.
Alex menatap wajah polos yang akan menjadi calon ibu. tak lama kemudian Alex mengangguk tanda setuju. terlukis senyuman di bibir Winda. Bertanda senang. Akhirnya Alex mengijinkan Alya untuk pulang kerumah.
"Alya ..pulang ya" rengek Winda memohon.
__ADS_1
Alya melirik Radit. Radit mengangguk.
Akhirnya mereka duduk kembali menunggu panggilan. asisten dokter mulai memangil pasien nya satu persatu setelah dokter datang dan memasuki ruangan pemeriksaan.
"ibu Alya" panggil asisten dokter memanggil Alya.
Alya bangkit dari tempat duduknya. Winda pun menemani Alya masuk keruangan bersama Radit. Sedangkan Dimas , jaki dan Alex menunggu di ruang tunggu.
"silakan masuk" ucap suster itu lagi.
mereka pun masuk keruangan. Dokter spesialis kandungan tersenyum menyambut kedatangan mereka.
"ibu Alya kemarin sempat diperiksa ya. Sekarang sudah waktunya diperiksa lagi. Silakan berbaring dulu"
Alya pun berbaring diatas ranjang pasien dengan pelan pelan. Doktor pun mulai memeriksa perut Alya. Winda dan Radit melihat pergerakan janin yang sudah berbentuk menjadi bayi di layar USG.
"sekarang sudah keliatan ya..jenis kelaminnya perempuan. Dan Bu Alya sudah memasuki kehamilan 8 bulan jalan. Jadi ibu Alya harus berhati-hati menjaga kesehatan dan kandungan ibu Alya. Biar proses kelahiran berjalan lancar tanpa di operasi Caesar"
Mendengar ucapan doktor mereka pun kaget.
"operasi Caesar dok?" spontan Winda kaget.
"iya Bu. Disebabkan pinggul Winda terlalu kecil untuk melahirkan secara normal. Dan usia Alya pun bisa mempengaruhi lahirannya " jawab dokter menjelaskan.
Radit dan Winda melirik Alya yang sedang menunduk sedih.
"ini resep obat yang harus ibu Alya minum ya Bu. obatnya harus sampai abis. Dan rutin periksa kandungan ya Bu" ucap dokter menyerah kan secarik kerta berisikan resep obat.
Winda mengambil karta itu. setelah pemeriksaan Alya. Kini giliran Winda yang diperiksa.
"ibu Winda silakan masuk" panggil suster.
"kamu tunggu disini ya Alya" pesan Winda sebelum masuk ruangan.
Alya mengangguk. Winda dan Alex masuk keruangan pemeriksaan. Dokter pun kaget melihat Winda masuk keruangan.
"lho..ibu yang tadi nganter ibu Alya kan?" tanya dokter spontan
"iya dokter. saya ibu nya" jawab Winda.
"oh..oke kalau begitu. apa yang anda keluhkan?" tanya dokter.
"saya selalu mengalami sakit perut. Dan sakitnya menyiksa disaat sudah mulai sakit saya sampai menjerit menangis Bu" jawab Winda menjelaskan.
"baik Bu kalau begitu. Silahkan berbaring " jawab dokter.
Sementara Radit dan Alya menunggu di ruang tunggu.
"kamu pulang ya bersama orang tua mu Alya. Biar kesehatan kamu juga terjaga..dan kebutuhan buat kamu juga tercukupi.." ucap Radit.
"kamu ga sayang aku?" tanya Alya pelan
" bukan aku ga sayang. justru dengan menyuruh kamu untuk pulang. Aku sayang banget sama kamu. Aku ga mau terjadi sesuatu denganmu." jawab Radit mencoba memberi pengertian.
Alya pun terdiam.
__ADS_1
bersambung ..