
Radit pelan pelan membuka isi yang ada didalam amplop. Namun, tiba tiba Bagas mengejutkan mereka.
"Radit!" tegur Bagas.
sontak saja Radit dan bi Inah sama sama terkejut. Radit segera menarik tangan nya keluar dari amplop itu. Dan dia buru buru memasuki amplop itu kedalam saku jaket. Bagas melihat gerak gerik Radit yang mencurigakan. Bi Inah semakin tegang saat Bagas mendekati mereka.
"apa yang kamu sembunyikan?" tegur Bagas melirik saku jaket Radit.
"ga ada apa apa" jawab Radit mencoba tenang.
"jangan bohong kau Radit!" hardik Bagas.
"iya udah kalau tidak percaya "jawab Radit ketus sembari pergi.
"tunggu Radit! kamu kebiasaan orang tua lagi ngomong selalu pergi menghindar!" tegur Bagas menghentikan langkah Radit.
Bi Inah semakin tegang menyaksikan itu semua. Radit berhenti dan menoleh.
"kenapa kamu selalu bikin malu orang tua! persentase belajar kamu berkurang. jangankan untuk prestasi. untuk kerajinan absen pun kamu sering bolos! Selama ini apa yang kamu kerjakan! HAH!" bentak Bagas bersuara keras.
mendengar suara keributan Raisa segera muncul. Dia melihat Radit Yang sedang di interograsi Bagas. Raisa ingin sekali membuka suara. Namun, dia ingat rencana liciknya bersama wisnu. Raisa tiba tiba mengusap bahu lengan Bagas. Hingga Bagas terkejut. Tidak biasanya Raisa bersikap seperti itu.
"ngomongnya pelan pelan pah. Biar masuk di pikiran Radit" ucap Raisa lemah lembut.
Melihat reaksi Raisa seperti orang aneh mendadak. Radit dan bi Inah tercengang. namun, Radit yang sudah mengetahui perselingkuhan ibunya. Tidak merasa simpatik terhadap Raisa. Yang ada dia muak dengan kelakuan Raisa.
"kamu tumben bersikap lembut padaku?" tanya Bagas merasa aneh.
Raisa pun kaget membelalakkan mata.
"aku sudah cape ribut terus dengan mu. Aku ingin kita damai, mas" ucap Raisa terpaksa tersenyum.
Radit melihat kecurigaan terhadap Raisa. Begitu pun dengan bi Inah yang sudah tau apa yang di inginkan Raisa.
"serius kamu?" tanya Bagas tak percaya.
"iya mas. Masa kamu tidak percaya dengan ku" jawab Raisa lembut.
__ADS_1
Bagas melirik Radit.
"Radit! Kamu belum menjawab pertanyaan ku!" bentak Bagas.
"apalagi?" tanya Radit dengan tatapan sinis.
"selama ini apa yang kamu kerjakan! sekolah sering bolos. nilai pun merosot. Bahkan kamu sudah pintar korupsi ya!" ucap Bagas ketus.
"kemanakah uang itu! Apa yang kamu lakukan selama ini! jangan jangan kamu sudah mulai bergaul bebas diluar sana! Kamu melakukan tindakan senonoh!" sambung Bagas meluapkan emosi
"kamu selalu mempermalukan aku dihadapan semua guru!" Bagas terus ngomel ngomel.
"urus saja istrimu itu. Sudah benar ga" jawab Radit ketus lalu pergi kekamar. Dan mengunci diri.
Bagas dan Raisa kaget dengan ucapan Radit dan kelakuan Radit terhadapnya.
"apa yang dia maksud? Benar benar anak kurang ajar!" kesal Bagas.
"sudah mas...sudah..biarkan Radit sendirian dulu. Menenangkan pikiran nya dulu" ucap Raisa mencoba menenangkan hati Bagas.
"kamu tau apa yang dimaksud Radit tadi?" tanya Bagas merasa heran.
Bi Inah benar benar bingung melihat kelakuan Raisa yang tiba tiba berubah menjadi lemah lembut.
didalam kamar Radit segera mengeluarkan amplop besar itu dari saku jaket. Dia pelan pelan mengeluarkan benda yang ada didalam amplop. Radit terkejut Melihat isi amplop itu. Beberapa lembar Poto Bagas terpasang bersama wanita cantik muda. Seperti anak ABG. Radit tidak berkedip melihat poto vulgar itu. Bagas yang sedang tertidur pulas berselimut dengan gadis yang seusia Radit. Bagas juga memeluk gadis itu dengan mencium keningnya. Ada pun gadis itu memeluk Bagas. Semua Poto itu keadaan berselimut putih tebal. Seakan akan tempatkan kejadian di hotel. Radit benar benar tidak menyangka dengan kelakuan kedua orang tuanya sama sama memalukan. Radit muak dengan Raisa dan Bagas. Kini hati Radit hancur putus asa. Tidak ada harapan lagi untuk menyatukan orangtuanya. Dia benar benar kecewa dan syok melihat itu semua. Raisa maupun Bagas sama sama memiliki selingkuh. namun , yang sebenarnya Poto yang terpasang wajah Bagas. Adalah editan hasil dari balas dendam Wina. yang ingin menghancurkan keluarga mereka.
Wisnu tertawa puas setelah menjalankan misinya berhasil. Wina berharap Raisa lah yang mengambil amplop itu. Namun, Wina tidak tau kalau rencananya itu telah menyakiti perasaan Radit.
"hahahha.. akhirnya aku tinggal nunggu kabar kehancuran mereka saja. Dengan ini, Raisa akan meminta cerai Bagas. Bagas pun tidak mengelak lagi. hahaha" Wina tertawa puas.
setelah Radit melihat poto Poto itu. Radit pun menyimpan di bawah laci tumpukan buku. Dia tidak ingin bi Inah mengetahuinya. Karena itu akan mempermalukan keluarganya. Radit segera pergi meninggalkan rumah. Dia bingung menghadapi permasalahan keluarganya. baginya sama.saja. tidak ibu nya tidak bapaknya. Dia sekarang merasa sebatang kara. Sama dengan Alya. Ketika Radit berhenti di jalan baru yang saat itu sedang sepi kendaraan. Dia memukul pohon yang ada dipinggir jalan sebagi penghias jalan.
"Argh!!!" Radit meluapkan amarahnya.
Tak lama kemudian Dimas dan jaki yang tidak sengaja lewat jalan itu. Melihat Radit sendirian dan memukul pohon. Jaki dan Dimas saling melirik.
"itu Radit!" tunjuk jaki
__ADS_1
"betul! Sedang apa dia ada disitu?" tanya Dimas penasaran.
"ya udah kita samperin. Siapa tau dia sedang membutuhkan kita" ajak jaki.
Dimas mengangguk. Lalu, mereka menghampiri jaki. Radit mengerat kepalanya.
"Radit!" sapa Dimas dan jaki mengejutkan Radit.
Radit mendengar suara itu tidak asing lagi ditelinga. Radit segera menyeka air mata jaki dan dimas menoleh Radit dan menepuk bahu Radit.
"sedang apa kamu disini Radit?" tanya Dimas pelan pelan.
"kalian. ngapain ada disini?" Radit malah balik nanya.
"kita sering nongkrong disini.. semenjak kamu tidak lagi nongkrong bersama kami" jawab jaki menatap dalam dalam wajah Radit yang kelihatan bersedih
"kenapa tidak di cafe shop lagi?" tanya Radit
"ga ada Lu sih! Jadi kami ..." Dimas tidak melanjutkan lagi kata katanya.
"kenapa?" tanya Radit heran
"kami teringat kamu terus dit. Makanya kami pindah tempat nongkrong. Karena kami tidak ingin berlarut sedih mengingatmu terus" jawab jaki dengan nada sedih.
"benar Radit. Semenjak sikap kamu berubah. kami merasa kehilangan kamu. padahal kami kangen saat saat bersamamu lagi. Kamu yang sekarang Selian menghindar dari kami juga. Kamu sering tertutup. tidak seperti dulu lagi" sambung Dimas merasa prihatin.
Radit benar benar tidak menyangka. Akan ucapan kedua sahabatnya yang mengharukan. Radit pun merasakan apa yang mereka rasakan. Semenjak menjauh dari kedua sahabatnya. Radit semakin banyak beban dan masalah yang tidak terpecahkan. Karena tidak ada lagi yang memberi saran.
"dit.. " ucap jaki menepuk lengan bahu Radit
"aku tau kamu ada masalah. tapi, kamu tidak mau cerita dengan kami kan?" sambung jaki.
"benar dit... harusnya kamu cerita. siapa tau kami bisa ngasih solusi " Dimas angkat bicara.
Radit melepaskan tangan jaki dari bahunya.
"selama ini kalian telah berbohong!" tegas Radit yang membuat mereka terkejut.
__ADS_1
Bersambung...