Broken Home

Broken Home
PART 5


__ADS_3

Sudah setengah jam Felicia mencoba membangunkan Denis namun anak itu belum juga  bangun, memang anak itu sulit sekali jika disuruh bangun pagi .


Felicia sampai geleng kepala , mungkin ini turunan dari Miko yang juga sulit untuk dibangunkan .


Lagi , jika menyangkut Denis , otomatis pikiran Felicia lari kepada Miko.


Banyak dari diri Denis yang diwarisi Miko , ketampanan salah satu contohnya.


Felicia kadang tersenyum sendiri jika mengingat Miko , terlepas dari masalahnya dengan pria itu .


Setidaknya Miko pernah menjadi bagian terindah dari hidupnya , pernah menjadi sandaran ternyaman bagi dirinya.


Sudah sudah ! Felicia mengenyahkan pikiran tentang lelaki itu , kini ia harus cepat membangunkan Denis kalau tidak anaknya itu bisa telat .


Gawat kalau sampai terlambat berangkat sekolah, pasalnya ini hari pertama anak itu UTS .


"Bangun Denis !" Felicia menepuk pelan pipi putranya yang lembut , seperti pantat bayi .


"Ehmmm... masih ngantuk mami , lima menit lagi ." Denis mengeratkan selimutnya.


"Kalau gitu , ayam gorengnya mami kasih kucing !" Bisik Felicia tepat di telinga Denis .


Sedetik..


Dua detik..


Denis masih mencerna bisikan maminya .


Tunggu ! Tunggu ! Ayam goreng ?


Denis dengan cepat membuka matanya , menyibakkan selimutnya lalu bergegas ke kamar mandi .


Sayang sekali jika ayam goreng yang nikmat itu dikasihkan kucing , ia saja sangat suka ayam goreng !


Tidak rela !


Sepuluh menit Denis selesai mandi , lebih cepat dua puluh menit dari biasanya.


Pikirannya fokus kepada ayam goreng , takut kalau-kalau ayam itu sudah jadi santapan pagi kucing-kucing yang lapar .


"Mam , Denis sudah siap.  Mana sarapannya ?" Denis sudah duduk di meja makan , namun belum tersaji makanan dengan lauk nikmat itu.


Felicia membawa sepiring nasi goreng , meletakkannya di depan Denis .


"Loh ? Kok nasi goreng mam ? Ayam gorengnya mana ?" Tanya Denis kecewa .


"Udah mami kasih makan kucing , kamu lama sih ." Ucap Felicia santai .


Denis mencebik , tega sekali maminya ini .


Dengan terpaksa Denis memasukkan sesendok demi sesendok nasi goreng itu ke mulutnya , napsu makannya telah hilang .


Felicia terbahak-bahak melihat wajah anaknya yang cemberut , menggemaskan sekali .


"Maaf , tadi mami bohong . Abisnya kamu susah sekali di suruh bangun, " ucap Felicia memelas , agar anaknya itu berhenti ngambek .

__ADS_1


"Tau ah !"


"Gak sopan ya .."


"Kutuk nih jadi batu !" Denis terlebih dahulu menyela ucapan Felicia.


Felicia tersenyum lebar dibuatnya , anak sekarang mana ada yang takut dengan ancaman dikutuk jadi batu ?


"Nanti pulang ke sini lagi , selama seminggu Mami Masakin ayam goreng." Ucap Felicia.


Mata Denis berbinar , senyum sumringah tersungging di bibirnya.


"Janji ya mam ?" Denis mengangkat jari kelingkingnya.


Felicia menyambutnya dengan menautkan jari kelingking dengan jari Denis "Janji "


"Makasih mam ." dengan cepat Denis melahap habis nasi gorengnya , ucapan maminya kembali membangkitkan selera makannya .


🌿🌿🌿


Bel masuk pun berbunyi , anak-anak duduk di nomor meja seuai nomor absen .


Beruntunglah Rama , ia berada tepat di samping  meja Denis .


Ia bernapas lega , jika nanti ada yang belum tahu jawabnya ia tinggal minta contekan Denis .


Bagaimana nasibnya dengan Devan? Ah , salah sendiri namanya berawalan huruf D jadi ia mendapat ruangan yang berbeda dengan Denis yang bernama Pratama El Denis Pramudya.


Waktu tersisa hanya lima belas menit , Denis sudah menyelesaikan soal-soalnya .


"Nomor tiga puluh sampai lima puluh. " ucap Rama tanpa suara .


Denis mengangguk , ia memberi jawaban dengan isyarat jari .


Dengan skill mencontek yang baik , Rama bisa menangkap gerakan jari Denis dengan cepat .


Fiuh ..


Rama mengusap keningnya yang basah oleh keringat , baru saja ia selesai senam jari .


Rama tersenyum puas , soalnya kini telah selesai.


Denis terlebih dahulu meninggalkan ruangan tes , disusul oleh Rama .


"Makasih bro. " Rama merangkul bahu Denis .


"Sama-sama ."


Berbeda dengan mereka berdua , Devan belum terlihat keluar dari ruangan.


Rama dan Denis dengan setia menunggu teman seperjuangannya itu , meski kini Devan harus berjuang sendirian.


Lima menit kemudian Devan keluar , wajahnya pias .


Rama terkikik melihat wajah Devan , mengenaskan sekali .

__ADS_1


"Kenapa lo?" Tanya Rama .


Devan dengan lemas mendudukkan bokongnya di samping Denis "punya gue 15 nomor belum ke isi pas lima menit terakhir."


"Waduh , terus ?"


"Gue ngitung kancing lah , biar cepet." Jawaban Devan membuat Rama dan Denis terbahak.


"Jurus Lo masih dipakai aja? " Ledek Denis .


"Gue cuma punya satu itu ." ucap Devan .


Tak ingin berlarut dalam kesedihan , Rama mengajak kedua sahabatnya ke kantin .


Mending makan , timbang mikir UTS bikin beban pikiran kata Rama .


Tiga mangkuk bakso dan es teh  telah tersaji di depan mereka , Devan yang sudah kelaparan langsung melahap bakso itu .


"Hueh ..hueh.. panas !" Keluh Devan .


Denis terkekeh " Bege ! Panas Lo sosor aja ."


"Laper banget ya Lo !" Sindir Rama .


Denis menyodorkan segelas es ke arah Devan , mungkin bisa menghilangkan panas di lidah bocah itu .


"Thanks Den ."


Rama mengelus perutnya yang terasa kenyang , dibukanya dua kancing kemeja seragam. Gerah katanya .


Denis berulangkali melirik jam yang melingkar di lengannya "Le , gue cabut ya . Gue mau pulang ke rumah mami." pamitnya .


Sebelum beranjak ia menatap kedua Sabahatnya , membuat mereka menatap balik wajah Denis.


Sebuah cengiran Denis berikan kepada mereka , cengiran kuda yang penuh arti .


"Bayarin bakso sama es gue dulu ya , belum sempet tarik tunai . He. " Ucap Denis polos .


Devan mengibaskan tangannya "Haaah , gue udah tebak dari cengiran Lo . Iya , gue bayarin . Semangkok bakso inih. " Ucap Devan .


Denis menepuk bahu Devan "makasih brott ." ucapnya , kemudian meninggalkan area kantin .


🌿🌿🌿🌿


Denis memicingkan matanya ketika mendapati sebuah mobil mewah terparkir di depan cafe maminya , ia segera turun dari mobilnya untuk memastikan siapa yang datang .


Denis masuk ke dalam cafe , ia mendapati Felicia sedang menerima tamu .


Seorang lelaki bersama gadis kecil , keduanya terlihat akrab dengan Felicia.


Ada rona bahagia dari wajah Felicia , Denis seperti mencium bau-bau kasmaran tengah melanda maminya .


Denis memutar tubuhnya , lebih baik ia ganti baju dulu lalu membantu pegawai cafe melayani pengunjung.


Biarkan saja maminya bersama lelaki itu , Denis akan memantaunya terlebih dahulu.

__ADS_1


Ia akan bertindak jika lelaki itu membuat maminya menangis , sementara ini ia bebaskan maminya.


__ADS_2