
Wina melihat reaksi Bagas yang biasa saja. dia merasa aneh dengan reaksi Bagas setelah dia mengirim Poto editan Bagas dengan wanita lain. Wina menatap Bagas dengan tatapan penuh tanda tanya.
"ada apa ?" tanya Bagas menegur Wina.
"e .ga apa apa" jawab Wina gugup.
"selesaikan pekerjaan mu!" perintah bagas ketus.
"baik" jawab Wina singkat.
Bagas segera pergi meninggalkan Wina. dengan penuh dendam Wina menatap tajam punggung Bagas.
"bukannya sudah aku letakan dibawah pintu? apa jangan jangan ditemukan oranglain?" gumam Wina penasaran.
Raisa merasakan keanehan sikap Wisnu Yang sering menghindar. Raisa menemui Wisnu dimeja kerjanya.
"ada apa denganmu?" tanya Raisa heran.
"kenapa?" tanya Wisnu cuek.
"kamu ga makan bareng aku lagi. Kemana aja jam istirahat mu. Setiap aku nemui kamu. kamu sudah ga ada. Aku telepon kirim WhatsApp pun ga kamu respon. Aku ada salah sama kamu?" tanya Raisa penasaran dengan sikap Wisnu akhir akhir ini.
"tanyakan saja pada dirimu sendiri!" jawab Wisnu ketus.
"apa sih?" tanya Raisa tidak paham dengan sikap Wisnu.
"mana janji mu. Kamu belum berhasil kan mendapatkan aset aset bagus?" tanya Wisnu menatap tajam Raisa.
"kamu pikir mudah apa. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Tau!" bentak Raisa kesal.
"ya udah...terserah kamu aja ...kalau kamu masih mau hubungan denganku.. Secepatnya kamu dapatkan apa yang aku mau...setelah itu kita secepatnya nikah" jawab Wisnu Mendelik.
Raisa terdiam terpaku mendengar jawaban Wisnu.
menjelang petang tiba. Raisa sudah pulang lebih awal daripada Bagas. Raisa segera menuju ke dapur. Dia menyibukkan diri dengan memasak. Dia berharap dengan cara yang dilakukan dia, bisa membuat hati Bagas luluh dan dia akan mengetahui dimana Bagas menyimpan aset aset itu. Bi Inah terkejut melihat Raisa didapur. Bi Inah merasa aneh dengan Raisa yang tiba tiba mendadak menjadi koki di dapurnya. Bi Inah mendekati Raisa.
"ibu lagi masak?" tanya Bi Inah heran.
"iya bi" tanya Raisa tersenyum.
"tumben?" tanya Bi Inah penasaran.
"dulu sebelum aku sibuk dengan pekerjaan ku. Aku juga sering masak kok bi." jawab Raisa membersihkan sayuran yang akan dipotong potong.
"oh...sekarang ibu mau masak lagi. Atas keinginan sendiri atau..."
"saya ingin menyiapkan makan untuk bapak" jawab Raisa cepat memotong pembicaraan bi Inah
"Alhamdulillah kalau begitu Bu. Kasian mas Radit juga pingin makan Bareng keluarga" jawab bi Inah.
__ADS_1
"iya bi, saya juga merasakan apa yang dirasakan Radit. makanya saya akan baik baik sama bapak"
Raisa mencoba menyembunyikan rencananya dengan bersandiwara baik dan nurut terhadap Bagas.
makan malam pun tiba. Raisa menunggu kepulangan Bagas dan Radit. Tak lama kemudian Bagas datang beriringan dengan Radit. Raisa segera membuka pintu untuk mereka.
"lho kamu pulang bareng Ama Radit?" tanya Raisa heran.
"ga...kita ketemu disini aja" jawab Bagas mengelak.
Radit segera pergi menuju kamar. Dia merasakan perubahan pada sikap Raisa. Disaat Radit termenung Raisa mengetuk pintu.
"Radit ayo makan dulu" teriak Raisa diluar kamar.
"tumben mamah ngajak makan bareng?" gumam Radit.
"cepetan keluar Radit..kita makan dulu" Raisa terus membujuk Radit agar keluar kamar.
Radit membuka pintu..menatap Raisa dengan meras aneh. Benar benar aneh.
"Radit...kamu pasti belum makan. Mamah Udah masak buat kamu dan papah. Kita makan bareng yu. Kita kan udah lama ga makan bareng lagi" ucap Raisa merayu Radit dengan senyuman kepalsuan.
"tumben mamah masak dan ngajak makan bareng" jawab Radit merasa aneh.
"iya Radit... mamah kangen suasana keluarga kita yang dulu" jawab Raisa berpura pura.
"ada apa ini?" tanya Bagas melirik Raisa dan Radit.
"ini lho pah. Mamah ngajak makan bareng ke Radit. Kita makan bareng yu pah" ucap Raisa manja.
"tumben kamu ngakak makan bareng?" tanya Bagas merasa ada yang aneh pada diri Raisa.
"iya pah, mamah kangen masa masa dulu kita sering bersama" jawab Raisa penuh manja.
Bagas melirik Radit yang sejak tadi terdiam.
"udah ah ayo kita keruang makan" ajak Raisa menggandeng tangan Radit dan Bagas. mereka pun pergi keruang makan. Bagas dan Radit masih menatap Raisa dengan penuh tanda tanya. Apalagi Radit. Dia curiga dengan sikap Raisa yang tiba tiba berubah. apa benar Raisa berubah benaran atau cuma ada maunya aja!
Setelah mereka makan malam bersama. Raisa sedang menyisir rambut sambil bercermin. Bagas masih menatap Raisa. Sembari rebahan.
"kenapa ngeliatin akh seperti itu?* tanya Raisa menatap wajah Bagas di cermin.
"aneh aja dengan sikap kamu hari ini" jawab Baga tanpa basa basi lagi.
"ga ada yang aneh kok" jawab Raisa mencoba tenang dan menghindari dari kecurigaan bagas.
"apa jangan jangan ada maunya?" tanya Bagas terus terang.
"mau nya kita baikan lagi mas. Seperti dulu" jawab Raisa mendekati Bagas.
__ADS_1
Bagas menatap dalam dalam wajah Raisa. antara percaya dan tidak percaya dengan sikap Raisa yang berubah itu. Raisa menyandarkan kepalanya ke atas dada Bagas.
"mas..kamu kangen aku ga sih?" tanya Raisa melirik Bagas
"kenapa bertanya seperti itu?" bagas balik nanya. dihati Bagas masih menyimpan kecurigaan pada Raisa.
"aku kangen kamu mas" jawab Raisa manja.
Bagas mencoba mengelus rambut Raisa untuk pertama kalinya lagi. Dia tidak pernah mengelus Bahkan menyentuh Raisa lagi selama Raisa berselingkuh dengan Wisnu. Raisa tersenyum licik ketika Bagas mulai tersentuh hatinya.
"aku tidak begitu yakin kalau kamu kangen aku?" tanya Bagas ragu ragu.
"kenapa?" Raisa balik nanya.
"karena kamu belum membuktikan nya" jawab Bagas melirik Raisa.
Raisa bangun terduduk dari pelukan Bagas.
"mas..kamu mau bukti apa?" tanya Raisa menyakinkan hati Bagas..
"aku ingin kamu buktikan dengan cara keluar dari pekerjaan mu" jawab Bagas dengan permintaan berat dari Bagas. Raisa menghembuskan nafas kecil.
fiuh!
"mas kalau aku ga kerja .. aku akan bosan dirumah terus. Aku kan terbiasa kerja mas." jawab Raisa mencari alasan
"selama ini aku kurang memberi kamu uang?" tanya Bagas
"ga sih mas...tapi kan lumayan buat nambah nambah tabungan kita" jawab Raisa terus mengelak keinginan Bagas.
"berati kamu bohong dong kangen sama aku" gumam Bagas kecewa.
Raisa berpikir sejenak. Tiba tiba dia menemukan ide cemerlang. untuk mendapatkan aset aset itu.
"kalau kamu melarang aku kerja.. aku akan bosan dirumah..apa yang aku lakukan dirumah. sedangkan pekerjaan rumah sudah ditangani Sama bi Inah. Beres beres pun takut dokumen penting hilang lagi" ucap Raisa berpura pura bersedih.
"dokumen seperti apa?" tanya Bagas penasaran.
"ya aset aset surat surat tanah, rumah, kendaraan, mobil, perusahaan.. Pokoknya semua aset aset kamu mas" jawab Raisa dengan semangat menyebutkan aset itu.
"oh.. itu udah aku simpan ditempat aman" jawab Bagas tanpa mencurigai raisa.
"simpan dimana?" tanya Raisa penasaran
"di brankas" jawab Bagas polos tanpa menyadari jebakan Raisa.
Raisa melirik lemari kecil yang berisi brankas itu. Dia tersenyum licik senang akhirnya tau dimana Bagas menyimpan surat surat berharga itu.
Bersambung...
__ADS_1