Broken Home

Broken Home
PART 2


__ADS_3

Pratama El Denis Pramudya


Jadilah manusia berguna . Jika tidak , janganlah jadi manusia seperti sampah .


"Den , Aden . Sarapannya sudah siap. " Teriak bi Parni , bibi yang sudah bekerja di rumah ini selama belasan tahun bahkan sebelumnya ia sudah bekerja saat Miko ayah Denis masih kecil .


Denis yang masih bergelung di dalam selimutnya itu pun dengan malas turun dari ranjangnya , kemudian membuka pintu kamarnya .


Ada bi Parni di depan kamar "Nek , Denis masih mengantuk, "


Denis biasa memanggil bi Parni nenek , karena memang bi Parni seusia dengan Bu Rahma neneknya.


"Tapi Den , maminya Aden tadi nelpon suruh bangunin sarapan ," ucap bi Parni.


"Denis nek ,bukan Aden. " Ralat Denis .


"Gak sopan lah panggil nama saja sama majikan ." Lirih bi Parni.


"Sopanin aja nek , udah ya . Denis mau bobo ganteng lagi , nanti biar Denis yang nanganin kalau mami marah ." Ucap Denis , kemudian menutup pintu kamarnya lagi .


Bi Parni menghela napas pasrah , memang anak majikannya itu susah sekali jika disuruh sarapan apalagi hari Minggu seperti ini.


Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke dapur , membereskan pekerjaannya.


🌿🌿🌿🌿


"Mam , Denis bukan anak kecil !" Ucap Denis sembari menyingkirkan tangan Felicia yang hendak menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya .


Denis sekarang ada di rumah Felicia , maminya itu menerornya dengan puluhan panggilan di ponsel Denis meminta Denis ke rumahnya .


Felicia sejak tadi memaksa Denis agar mau makan , ia takut anak bungsunya akan sakit perut.


"Kamu itu susah kalau disuruh sarapan , nanti kena magh! " Ucap Felicia kesal .


"Mam , mami doain Denis kena magh ya ?" Ketus Denis .


Felicia menyentil pelan kening Denis , membuat Denis meringis.


Bukan karena sakit , ia kaget saja dengan sentilan mendadak maminya .


"Dibilangin ngeyel aja , kutuk nih jadi batu !" Omel Felicia.


"Ampun mam , iya makan. " Ucap Denis patuh .


Ia mengambil alih piring di tangan Felicia , dengan berat hati ia memasukkan makanan itu ke mulutnya .


"Anak pintar !" Felicia mengusap kepala Denis .


"Mam..akhu thu buhan aak lima taun Agi! " ucap Denis dengan makanan yang memenuhi mulutnya .


"Makan jangan sambil ngomong!" Denis pun mengangguk patuh .

__ADS_1


Setelah sarapan , Denis dan Felicia bercengkrama di ruang televisi.


Denis menidurkan tubuhnya dengan menjadikan paha Felicia sebagai bantalannya , kebiasaan Denis sejak kecil ia memang sangat manja kepada maminya itu .


Mereka menikmati acara kartun , dengan tokoh utama dua ekor ulat.


Denis tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol ulat-ulat itu , terkadang ulat itu bertingkah sangat bodoh .


Sesekali Felicia mengelus rambut Denis , menyisirnya dengan jari-jari lentik miliknya.


Denis , anaknya kini sudah remaja .


Tak terasa ia sudah bertahun-tahun melewati hidupnya dengan menjanda , namun Felicia tetap bahagia selama Denis dan Adam masih menyayanginya.


"Mam, "


"Mam, " ulang Denis .


"Eh , ya ?"


"Mami ngelamun ya ?" Selidik Denis , ia tak suka jika maminya melamun pasti hal yang dilamunkan maminya tak jauh dari Miko .


"Enggak! " Elak Felicia.


Denis menangkap kebohongan di mata maminya , ia mengubah posisinya menjadi duduk tegap di samping Felicia.


Ia memeluk erat maminya "Mam , jangan ingat-ingat lagi. Denis gak mau Mami sedih ,"


Denis menumpukan kepalanya di leher Felicia , Felicia mengusap tangan Denis yang melingkar di bahunya.


"Tetaplah jadi strong mam  buat Denis ya mam." Felicia mengangguk pelan.


🌿🌿🌿🌿


Hari ini jadwal Denis berada di cafe peninggalan dari Miko , ia mengecek kondisi cafenya .


"Tante !" Sapa Denis saat melihat Natasha , teman maminya yang kini jadi kepala cafenya .


"Denis , baru nyampe?" Denis mengangguk .


"Ada masalah gak Tan ?"


"Alhamdulillah enggak sih , malah sekarang tambah rame . Banyak yang nanyain kamu , kebanyakan cewek-cewek cantik. Ciee , yang udah famous. "


Natasha mencolek dagu Denis , menggodanya .


"Apa sih Tan , geli ah !" Ucap Denis bergidik .


Denis melangkah keruangan yang dulu menjadi ruangan Miko , kini ruangan itu mutlak milik Denis .


Tak ada yang berubah, mungkin Denis harus merombaknya sedikit agar sifat dominan Miko yang tercetak jelas di ruangan ini agak memudar .

__ADS_1


Denis menelpon kenalan maminya untuk merenovasi ruangan ini , ia ingin menjadikan ruangan ini nyaman tanpa bau-bau lelaki itu .


Denis menaikkan kakinya ke atas meja , ia terkikik geli dengan tingkahnya sendiri .


Sudah seperti bos besar , batinnya .


Ya , bukan seperti lagi . Bahkan dia sudah menjadi bos dengan usianya belum genap dua puluh tahun , ia sudah memiliki cafe yang ramai dengan omset dua digit di depan nominalnya .


Namun baginya itu bukan sesuatu yang "WAH" , karena semua itu ia dapat dari warisan Miko bukan dari hasil keringatnya sendiri.


Jika saja daddy-nya itu bukan orang yang brengsek , pasti ia sudah mengagumi sosok itu dan menjadikannya panutan .


Denis segera menepis pikirannya itu , semakin mengingat daddy-nya semakin terasa sesak di dadanya .


Jika ada orang yang ingin ia lupakan dalam hidupnya , satu-satunya adalah Miko .


Berbagai cara telah ia lakukan, namun nihil . Ia justru semakin teringat dengan Miko , karena memang hubungan darah tak dapat dipisahkan.


Denis beranjak dari duduknya , ia harus secepatnya keluar dari ruangan ini agar ingatannya tentang Miko bisa hilang .


Lebih baik ia ke rumah singgah saja , bermain dengan anak-anak di sana .


🌿🌿🌿🌿


"Denis , Lo di mana ?" Terdengar suara Devan saat Denis mengangkat panggilan di ponselnya .


"Gue di tempat anak-anak, kenapa ?"


"Elah , Lo lupa ? Kita latihan hari ini , bege ih !" Omel Devan .


Denis menepuk jidatnya "Astaghfirullah!!! Gue lupa Dev, oke gue ke studio sekarang."


Hari ini jadwalnya the Begundals latihan , karena mereka akan perform setelah UTS.


Dengan cepat Denis memacu mobilnya ke tempat biasa mereka latihan , ia sudah ditunggu Devan dan Rama .


Karena jaraknya yang tidak jauh dari rumah singgah , Denis dengan cepat bisa sampai di studio .


Untung saja jam mereka belum dimulai , hampir saja akan terbuang sia-sia uang yang mereka pakai untuk menyewa tempat itu .


"Sorry gue lupa , abis mami tadi nyuruh gue ke rumah . Terus gue gak tau mau ke mana , jadi gue ke tempat anak-anak." Jelas Denis , tak lupa dengan cengiran kuda khasnya.


Penjelasan Denis hanya dijawab dengan anggukan dari Rama dan Devan , mereka sudah hapal dengan Denis yang selalu lupa dengan jadwal latihan mereka .


Namun keduanya memaklumi , kegiatan Denis yang banyak membuatnya sering pontang-panting. Beruntung Denis anak yang kuat , jika tidak ia akan tumbang .


Kini giliran mereka yang latihan , mereka mengambil posisi masing-masing.


Perlahan , suara merdu Denis memenuhi ruangan kedap suara itu .


Denis sangat menghayati saat bernyanyi , apalagi jika lagu itu bercerita tentang ayah .

__ADS_1


Kadang Denis sampai menangis , terlalu meresapi lagu yang ia nyanyikan .


Semua itu menjadi kesenangan diri bagi Denis , ia dapat meluapkan emosinya . Emosi terhadap Miko daddy-nya.


__ADS_2