Broken Home

Broken Home
PART 18


__ADS_3

Adam pov


Aku memutuskan pulang ke Jakarta setelah memastikan  mami sudah baik-baik saja dan tidak terlalu memikirkan Denis , banyak urusan yang harus aku kerjakan di Jakarta.


Salah satunya tentang gadis kecil itu , aku penasaran apa yang akan dilakukan anak itu saat bertemu mami .


Harus ku pastikan terlebih dahulu , takutnya nanti ia melukai mami seperti apa yang telah ibunya lakukan.


Rasa penasaran ku semakin bertambah jika melihat wajahnya , seperti tak pernah ada kebahagiaan dalam hidupnya .


Wajahnya selalu murung , aku ragu jika daddy tak pernah memberi apa yang diinginkannya.


Aku masih ingat saat masih kecil , aku saja yang bukan anak kandungnya selalu dimanjakannya .


Bahkan sampai terakhir mami hidup bersamanya , aku tetap mendapatkan kasih sayang darinya .


Walaupun semua itu harus aku lupakan , bukannya aku tak tahu balas budi. Namun semua yang ia lakukan kepada mami sangat sulit untuk ku lupakan.


Tok..tok..


"Mas , disuruh Mama makan " ucap adikku , Audrie.


Adik cewek yang sangat bawel , namun bisa menghiburku jika aku kesepian.


Aku turun dari ranjang ku , ku buka pintu kamar .


"Gue gak napsu makan " jawabku .


"Ayolah , kita jarang-jarang makan malam . Lo aja bisa dihitung pake jari pulang ke rumah ini " rengek Audrie.


Aku tak pernah bisa menolak Audrie , bagiku ia prioritas orang yang harus aku lindungi.


"Oke lah " ucapku pasrah .


Dengan tergesa , Audrie menarik tanganku turun ke lantai bawah.


Mama dan papa sudah menunggu kami , rasanya sudah lama juga aku tak menikmati makan bersama mereka .


Setelah makan malam selesai , Audrie masuk ke dalam kamarnya.


Aku pun ikut Audrie , banyak yang ingin aku tanyakan tentang Marsya.


"Mas , Lo ngapain ikut gue masuk !" Ucap Audrie dengan suara cempreng khasnya.


Tanpa permisi, aku duduk di pinggiran ranjang miliknya.


"Hey , Lo bisu ya ?" Teriak Audrie .


Sepertinya ia mulai kesal denganku , biarkan saja . Membuatnya kesal adalah hobi ku .


Ia melemparkan tubuhnya tengkurap di atas ranjang "ada apa sih ?" Tanyanya .


Aku masih diam saja , ia mengubah posisinya menjadi duduk di sampingku .


"Mas ?"


"Mas Adaaaaaaam ! Lo kesambet setan bisu di kamar Lo ya ?" Ucapnya tepat di telingaku .


Sudah sudah, jika ia sudah berteriak, aku tak mampu lagi menggodanya.


Suaranya begitu menyakitkan telingaku , bahkan kini masih saja berdenging akibat teriakannya barusan .


Aku membaringkan tubuhku ke atas kasur yang empuk , ku jadikan tanganku sebagai bantalan .


Audrie mengikutiku , ia berbaring di sampingku.


Kita sama-sama menatap langit-langit kamar Audrie , kebiasaan lama yang sudah tak lagi kami lakukan .


Audrie terkekeh "mas , kita dulu sering sekali ya kayak gini . Sambil curhat" ucapnya.


Aku pun tersenyum kecil "iya "


Aku teringat tujuan ku datang ke kamar Audrie , ingin menanyakan tentang temannya itu.


"Drie , temanmu...."


Belum sempat aku melanjutkan omonganku , ia sudah memotongnya "Marsya ?"


"He em "


"Kenapa ?" Audrie menoleh ke arah ku sekilas.


"Jadi ketemu sama gue engga ?" Tanyaku .


"Ya jadi lah , Lo bisanya kapan mas ? "

__ADS_1


Aku berpikir sejenak , aku harus menyesuaikan dengan jadwal ku .


"Sabtu mungkin ?"


"Bisa , nanti coba aku bilang Marsya ya " ucap Audrie .


"Ketemu di mana ?" Sambungnya .


"Hotel " jawabku asal.


Ku lihat Audrie membulatkan matanya , kaget dengan tempat yang ku sebutkan tadi .


"What the... !!!!!!! Lo mau ngajakin dia bicara apa cek-in mas !" Teriaknya .


Audrie hobi sekali teriak-teriak , aku menggulingkan tubuhku untuk membungkam mulutnya.


Tanpa sadar , aku menindih tubuh Audrie. Dia berada di bawah ku , aku terpaku melihat wajah polosnya .


Cantik ! Batinku .


Astaga Adam , dia adikmu.


Belum sempat aku menurunkan tubuhku , Mama dan papa sudah berada di ambang pintu kamar Audrie yang tak tertutup.


"ALLAHUAKBAR!! Adam , apa yang kau lakukan !" Teriak Mama .


Aku segera menyingkir , lalu berjalan cepat ke arah Mama dan papa.


Berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tak seperti yang mereka lihat , mereka membawa kami turun ke ruang keluarga.


Seperti terdakwa , aku dan Audrie diinterogasi.


"Adam , Audrie itu adikmu. Papa ingatkan kalau kamu lupa " ucap papa datar , aku tahu ia menyimpan emosi .


Aku menunduk "maaf pa , tadi tidak sengaja "


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Kini Mama Milka yang angkat bicara , ia lebih bijak daripada papa.Mama bisa menjadi penengah .


"Tadi mas Adam mau ngajakin anak orang ke hotel ma " ceplos Audrie .


Aku mendelik , ini bukan waktunya bercanda Audrie!


"Hehe , bercanda ma " ucap Audrie seakan tanpa dosa .


"Bukan pa "


"Lalu ?"


Aku bingung , haruskah aku memberitahu papa alasanku ingin menemui Marsya di hotel .


"Bicaralah Adam " kata Mama .


Aku menghela napas berat , mungkin lebih baik aku cerita saja kepada mereka .


"Cuma mau ketemu Marsya ma , pa . Katanya dia ingin bertemu mami Cia" ucapku jujur .


"Untuk apa ?" Tanya papa mulai penasaran .


"Mana Adam tahu pa , makanya mau ketemu dulu "


Ya , aku juga tak tahu apa inginnya bocah itu.


"Ya sudah , lain kali jangan ulangi lagi hal tadi . Kalian sudah besar , harus tahu batasan-batasannya " tutur papa .


"Baik pa " ucap kami bergantian .


Padahal tadinya aku mau sekalian bercerita dengan Audrie tentang hubunganku dan Denis saat ini , keburu kepergok Mama dan papa jadi aku mengurungkan niatku.


Papa dan Mama beranjak dari duduknya , kesalahpahaman tadi sudah terselesaikan.


Aku melanjutkan obrolanku tentang Marsya dengan Audrie , dia bilang akan memberitahu Marsya kalau aku ingin menemuinya.


🌿🌿🌿🌿


Hari Sabtu telah tiba , hari ini aku dan Marsya akan bertemu di cafe hotel milik papa sekalian aku mengecek hotel yang kini menjadi tanggung jawabku itu .


Pukul sembilan tepat , aku telah menunggu di tempat kita janjian .


Aku mengedarkan pandanganku , belum nampak bocah yang membuat janji kepadaku hari ini .


Sebuah pesan masuk di ponselku , satu pesan dari orang yang aku tunggu.


Aku sempat terkekeh melihat nama kontak yang belum sempat aku ganti itu , karena aku mendapat nomor ponsel bocah itu dari Audrie.

__ADS_1


Marsya N Bear


Di mana mas ?


Me


Meja nomor sembilan


Aku mencari sosok itu , tepat di depan pintu masuk aku melihat Marsya tengah celingukan mencariku .


Ia berjalan ke arahku setelah membaca pesan dariku , tampak kecanggungan terpancar di wajahnya.


Mataku otomatis memindai tampilannya , nampak sederhana. Tak ada satupun barang bermerek menempel di tubuhnya , membuatku berpikir kenapa orangtuanya seorang pengusaha sekelas Miko tapi anaknya sesederhana ini ?


Berbeda sekali dengan Audrie , anak itu kalau tidak bermerek mana mau memakainya .


"Mas Adam " panggilnya saat aku masih fokus dengan penampilannya.


"Ah , silahkan duduk " ucapku .


Marsya mengangguk "Terima kasih "


Duduk tepat di depanku , ia menatapku dengan kikuk .


Aku memanggil pelayan cafe , memesankan minuman untuknya dan untukku .


Lama diam , ia memberanikan diri untuk mengatakan tujuannya bertemu mami .


Aku tatap matanya , caraku mengetahui lawan bicaraku tengah berbohong atau tidak .


Ceritanya mengalir begitu saja , sesekali ia menyeka air matanya yang jatuh menetes.


Satu fakta yang baru aku tahu , dia sama sekali tak bahagia dengan hidupnya meski semua keperluannya tercukupi.


Tak ada kasih sayang di dalamnya , cukup miris .


Aku terharu mendengar semuanya , ku kira kini ia tengah bersenang-senang dengan harta daddy . Namun salah , ia sama sekali berbeda dengan ibunya yang licik itu .


Kenapa aku bilang licik ? Karena ia merebut daddy dari mami !


Aku bersyukur karena sedikit beban mami telah daddy rasakan , kehidupan rumahtangganya sama sekali tak harmonis.


Perempuan itu hanya menginginkan harta dari daddy , sungguh malang nasib daddy .


Aku tersenyum miring "mam , hidup mereka lebih miris daripada hidup kita " batinku dalam hati .


Namun aku juga iba dengan Marsya , sepertinya ia sangat tertekan dengan hidupnya.


Baiklah , suatu saat nanti aku akan mempertemukannya dengan mami . Semoga beban hidupnya sedikit terangkat.


Jujur aku dulu sangat membenci Marsya , tapi sekarang benci itu berubah menjadi rasa simpati .


Semua kesalahan dari orang tuanya , tak seharusnya ia menanggung beban itu sendirian di usianya yang masih remaja.


Setelah semuanya telah diceritakan Marsya , aku memintanya untuk pulang karena sebentar lagi aku ada pertemuan dengan beberapa klien.


Aku dan dia keluar cafe berbarengan , sempat ku lirik saat ia menunggu angkutan di halte .


Rasa iba kembali menyerang ku , aku tak tega melihat gadis kecil itu pulang sendirian.


Ku lirik jam dipergelangan tanganku , masih ada waktu untuk sekedar mengantarnya pulang.


Segera ku ambil mobilku , lalu aku menghampirinya yang tengah duduk di halte .


Awalnya sempat menolak , namun dengan bujukanku akhirnya ia pun mau .


Aku mengendara mobilku ke alamat yang ia sebutkan tadi , bukan alamat rumah Opa Surya .


Tiba-tiba aku terpikir Denis yang ikut daddy ke Jakarta ,Apakah Denis juga ada di rumah itu ?


Aku sampai di depan sebuah rumah , nampak sangat sepi bagai tak berpenghuni.


Saat Marsya akan turun , aku mencekal lengannya .


Aku tanyakan apa yang ada di benak ku tadi , sekalian memastikan Denis baik-baik saja bersama daddy .


"Tinggal sama siapa ?" Tanyaku .


"Papi dan bi Siti , mami jarang pulang  "


Itu jawaban Marsya , aku sedikit lega .


Denis tidak berusuran dengan si Yasmin , setidaknya dapat mempercepat pemulihan Denis .


Aku membiarkannya turun , lalu kembali ke hotel untuk menghadiri pertemuan itu.

__ADS_1


Soal Denis , aku bisa cari tahu dengan bantuan Edo esok hari .


__ADS_2