
Felli kembali ke Rumah Bian, saat sampai di rumah terlihat Mamah Retta sedang duduk di taman samping rumah bersama Clara. Mereka tengah asik mengobrol. Felli langsung di bawa Bian ke kamarnya. Setelah menyuruh Felli untuk beristirahat Bian langsung turun
" Udah pulang kamu BI?" Tanya Mamah Retta. Terlihat Clara pun mengikutinya di belakang.
" Udah Mah" Bian langsung meneguk air dalam gelas yang sudah di ambil olehnya.
" Oh iya mulai sekarang Clara tinggal di sini ya Bi "
" UHUK... UHUKK... UHUK... " Perkataan Mamah Reta membuat Bian tersedak.
" Pelan pelan dong sayang " Clara mengusap usap punggung Bian..
" Apa Mah?! Clara tinggal disini.? Mamah nggak salah.? "
" Loh kenapa memang kan Clara istri kamu juga Bisa! "
Bian celingukan takutnya Felli turun dari kamarnya dan mendengar obrolan mereka..
" Mah Felli kan belum mengetahui hal ini dan Bian belum siap memberi tau Felli, Felli juga baru keluar dari rumah sakit. Dia baru kehilangan janinnya Mah. Jadi tolong lah jangan menambah beban Felli" Bian sedikit memohon kepada Mamah Retta. Mamah Retta terdiam karena merasa kesal
" Felli aja terus yang kamu bela dan fikirin perasaannya Bi, Aku juga istri kamu yang harus kamu fikirkan perasaan aku Bi " Kini Clara ikut berbicara membela dirinya
" Iya Bian kamu itu harus adil kepada Clara, jangan hanya Felli yang kamu bela dan di perhatikan.!! "
Bian merasa pusing menghadapi Mamahnya juga Clara yang sudah pasti tidak bisa di bantah keinginannya.
" Bi, Mamah sudah siapkan tiket pesawat sama sudah Boking kan hotel untuk kamu dan Clara Bulan madu di Bali " Perkataan Mamahnya membuat Bian membulatkan matanya.
" Koq kamu terkejut gitu si sayang? kan aku sudah bilang dan kamu setuju jadi nggak salah dong? Dan kamu harus menepati janji kamu "
" Ah tau ahh, Pusing aku. " Bian langsung pergi meninggalkan mereka.
" Mamah, bagaimana ini Mah? " Clara merengek kepada Mamah mertuanya.
__ADS_1
" Semua ini gara - gara Felli. Lihat saja nanti "
Bian semakin kesal dengan keadaan rumah yang semakin kacau, Dan dirinya selalu di tuntut untuk memenuhi keinginan Clara dan Mamahnya.
.
.
.
Michele tengah bermain bersama Marvel putranya. Pak Hermawan menghampiri mereka, Pak Hermawan masih penasaran dengan siapa ayah Marvel dan penasaran dengan seseorang yang pernah bertemu dengannya di supermarket, karena wajahnya begitu mirip dengan Marvel.
" Chelle, Papip mau tanya " Ujar Pak Hermawan sambil duduk di salah satu sofa yang berdekatan dengan mereka
" Boleh Pip, Papip mau tanya apa. ? " Michelle menatap Pak Hermawan dengan serius
" Laki - laki yang waktu itu mirip sekali dengan Marvel itu sebenarnya siapa Chelle " Michelle terkejut karena pertanyaan Papip nya. Michelle terdiam karena bingung harus menjawab apa.
" Chelle coba jelaskan sama Papip, Jangan ada yang kamu sembunyikan dari Papip"
" Ayo Chelle bilang sama Papip "
" Iya Pip, Itu Nikko mantan pacar Michelle, Dan dia Ayah kandung Marvel Pip. Michelle tidak ingin mengingat dia kembali, setelah semua yang dia perbuat kepada Michelle. " Ujar Michelle sembari mengingat ingat kembali yang sudah terjadi antara dirinya dan Nikko
" Jadi laki - laki itu yang sudah merusak dan menghancurkan masa depan kamu " Pak Hermawan kesal sambil mengepalkan tangannya.
" Sudah Pip, Papip jangan terlalu memikirkannya, Michelle sudah ikhlas menerimanya Pip lagian sekarang sudah ada Mario yang jauh lebih baik dari Nikko dan bertanggung jawab pada Michelle dan Marvel. " Michelle menenangkan Papipnya.
.
.
.
__ADS_1
Setelah menikah dengan Laudya Nikko kini di berikan kekuasaan untuk memegang salah satu perusahaan Milik Papih Laudya Pak Hendro. Karena Kekayaan keluarga Laudya membuat Nikko bertekuk lutut dan menuruti semua keinginan Laudya. Bahkan setelah menikah dengannya Nikko tidak pernah melihat ataupun berkunjung ke tempat Nikken.
Bahkan Nikko tidak mengetahui jika Nikken sudah melahirkan, Walau Nikko selalu memberikan Nikken uang untuk keperluan nya namun Nikken merasa benar - benar sakit hati atas perlakuan Nikko.Walaupun sebenarnya Anak yang sudah Nikken lahirkan sesungguhnya bukan anak Nikko.
Tekad Nikken sudah bulat untuk membalas semua perlakuan Nikko kepadanya, Beserta keluarganya. Nikken berniat untuk mencari tahu siapa keluarga Laudya dan Nikken akan memberitahukan siapa dirinya. Karena Pak Hendro pasti tidak akan Terima jika Anak semata wayangnya di sakiti oleh laki - laki sudah di percayai olehnya.
****
" Pih, Lihat Nikko sekarang dia sudah menjadi pimpinan perusahaan berkat Pak Hendro Pih. Nggak salah memang kita menjodohkan Laudya dengan Nikko. " Ujar Ibu Hellen sambil menyeruput Tehnya pada Pak Brata
" Iya Mih, dari pada jadi model kesana kesini belum tentu banyak job. Kalo jadi pimpinan perusahaan sudah pasti kan. Sekarang Nikko sudah hebat bisa memegang dan mengendalikan perusahaan sendiri. Laudya membuat pengaruh bagus untuk Nikko "
" Tapi Pih, Mamih khawatir kalau sampai Pak Brata nanti mengetahui tentang Nikken dan Marvel Pih. Apa Pak Brata akan menerima jika Nikko sudah memiliki dua anak dari dua wanita lain. Mamih benar-benar khawatir Pih "
" Jangan sampai Pak Brata mengetahuinya Mih, Bisa - bisa gawat kalau tahu Mih. Mamih bujuk aja Laudya kan kekuasaan Pak Brata ada di Laudya Mih" Ibu Hellen pun memikirkan kata - kata sang Suami. Ia harus bisa merayu Laudya agar bisa di kendalikan olehnya.
Nikko sendiri sesungguhnya frustasi karena tuntutan sang mertua juga orang tuanya. Nikko tidak berminat bekerja di sebuah perusahaan karena Nikko lebih suka dalam dunia permodelan. Bahkan kesehariaannya selalu di kintilin Istrinya Laudya sehingga dirinya tidak bisa berkutik sama sekali.
" Nikko, Kamu kenapa si akhir - akhir ini sering diemin aku ? " Laudya merengek kepada Nikko yang tengah fokus mengecek laporan dari sekertarisnya.
" Nggak apa - apa " Jawab Nikko singkat masih sibuk dengan berkas yang di pegangnya.
Laudya menghampiri Nikko lalu bergelatut manja pada Nikko
" Lau, Bisa nggak kamu diem. Aku lagi kerja kalau sampai salah nanti aku yang kena omelan Papi kamu.. " Nikko sedikit keras bicara pada Laudya. Membuat Laudya manyun dan kesal.
" Kamu kenapa sih Ko, jadi sering bentak - bentak aku. Apa salah aku? "
Nikko merasa capek berpura - pura pada Laudya.
" Heuhh.... Aku itu cape ya Laudya, di rumah di kantor kemana - mana selalu kamu kintilin. Di tuntut ini itu oleh Papih kamu dari keluarga aku juga. Tau nggak aku itu berasa boneka buat kalian. Kamu juga, kamu itu istri aku tapi kamana mana ngikutin terus , bosen tau nggak " Ujar Nikko terus terang kepada Laudya..
" Tapi aku itu ingin terus terusan sama kamu Ko"
__ADS_1
" Ya tapi nggak begitu juga Laudya, Aku juga ingin punya me time. Aku juga capek ingin istirahat nenangin diri aku. Nggak harus kamu kintilin terus ngerti nggak? Udah lah pusing aku. " Nikko meninggalkan Laudya sendiri di ruangannya.