
setelah mengetahui dimana aset milik Bagas.
Raisa mencari waktu untuk mengambilnya. Diam diam di membuka sandi brankas. Namun, di gagal membuka brankas itu. Karena sandi brankas sudah diganti oleh Bagas.
"sial...selicik itu kah Bagas! Diam diam sudah ganti sandinya!" gerutu Raisa kesal. Bagas tidak sebodoh apa yang dipikirkan Raisa. Dia sudah mengganti kata sandi brankas. Karena dia curiga dengan kebaikan Raisa yang mendadak baik padanya. Sedangkan Bagas Tau Raisa berselingkuh dengan Wisnu.
Sesampai di vila Radit dan kawan kawannya menemui Alya. nampak alya kerasan tinggal di villa Dimas. Dia membantu pekerjaan mang Ujang. tiap pagi dia siram tanaman. menyapu halaman dan membuat tanaman menjadi asri. Alya pun belajar masak dengan mang Ujang. kini Alya sudah tidak ragu ragu lagi dengan mang Ujang. Alya sudah menganggap mang Ujang sebagai ayahnya sendiri. Radit dan kawan kawan menghampiri Alya dan mang Ujang ketika mereka sedang asyik ngobrol diluar.
"aduh ada yang sudah dekatan nih" ucap Radit menyindir Alya dan mang Ujang
"eh, nak Radit, nak Dimas dan nak jaki. Sini sini. Nih mang Ujang udah rebus singkong. cobain deh" jawab mang Ujang menyodorkan rebus singkong.
Alya tersenyum melihat mereka datang.
"widih...enak nih sore sore gini makan rebus singkong" seru Dimas langsung mengambil rebusan singkong.
Radit duduk di dekat Alya.
"iya nih ..mamang udah panen singkong. gimana rasanya enakan ga kalah Ama roti hehehe" ucap mang Ujang tertawa
"enak banget mang..tapi panas " jawab jaki dengan mulut kepanasan karena melahap singkong.
"main lahap aja! Tau panas. Nih kayak aku ditiup dulu ..baru dimakan" hardik Dimas.
Radit dan Alya hanya tersenyum melihat tingkah kedua sahabat radit.
"gua kira lu tadi langsung lahap aja. Ga tau nya ada triknya juga" sahut jaki mendelik
"sudah sudah jangan ribut lagi. mamang siapkan kopi dulu ya buat kalian" ucap mang Ujang sembari ngeloyor pergi ke dapur.
"iya mang biar tambah mantap!" seru jaki.
"kamu ngapain aja disini?" tanya Radit kepada Alya
"bantuin mang Ujang kerja" jawab Alya tersenyum
"tambah rajin aja ya tinggal disini" jawab Radit mengusap kepala Alya
"cie cie ..yang lagi kangen kangenan" goda jaki melirik
"apaan sih lu!" Hardik Radit memukul lengan jaki
"iya aja gitu...ga usah ngelak.. Benar ga Dimas?"
"benar banget ...kayak nya kita makan rebus singkong nya di taman deh biar udaranya tambah wuih gitu " jawab dimas menggoda Radit dan alya memberi isyarat kepada jaki untuk meninggalkan mereka berdua
"oh iya benar ..hayu ah..udah lama juga kita ga nongkrong di taman vila" sahut jaki bangkit dari tempat duduknya
"kalian begitu ya ..ninggalin kita disini!" tegur Radit
"iya ga lah! Kalian kan baru ketemu lagi. Sok aja ngobrol ngobrol dulu..siapa tau kangen kangenan gitu hehehe" goda dimas melirik nakal
__ADS_1
"mulai ya kalian menggoda aku!" hardik Radit mencubit kedua pipi temannya
"aduh sakit dong.kayak anak kecil aja. Main cubit pipi segala!" pekik Dimas
"iya nih Radit kebiasaan!" ucap jaki mengelus pipinya.
"rasian tuh buat kalian yang suka iseng godain aku" Radit meledek mereka
Alya tertawa kecil melihat tingkah laku mereka
"udah yu ah..kita pergi" ajak dimas menarik lengan jaki.
"hayu lah!" seru jaki.
"eh kalian ..." ucap Radit pasrah..
Dimas dan jaki berlari kecil segera meninggalkan mereka berdua. Radit mengacak acak rambut melihat tingkah kedua temannya.
"teman teman kamu lucu juga ya" ucap alya tersenyum
"begitulah kalau dekat. Mereka sering usil" jawab Radit kesal.
"tapi kamu suka kan?"
"suka apa..?"
"Suka usil juga" jawab Alya tertawa.
"ga ah..." jawab Alya tersenyum.
Tak lama kemudian mang Ujang datang membawa tiga gelas kopi.
"lho Dimas dan jaki mana?" tanya mang Ujang bengong melihat mereka tidak ada disitu.
"udah biarin kopinya disini mang. Nanti juga mereka kesini" jawab Radit
"oh iya atuh" mang Ujang pun meletakan kopi diatas meja. lalu dia pergi meninggalkan Radit dan Alya berduaan
"kamu belum chek kesehatan lagi ya?" tanya Radit melirik perut Alya.
Alya melirik perutnya yang sudah menginjak 7 bulan.
"kira kira sekarang berapa bulan?" tanya Radit lagi
"mungkin 7 bulan" jawab Alya menundukkan kepala.
Radit mengangkat dagu Alya pelan pelan. Alya pun melirik Radit.
"kenapa setiap aku ngomongin soal kandungan mu..kamu seperti tidak suka gitu?" tanya Radit lemah lembut.
awalnya Alya hanya diam saja. namun, setelah Radit mendesaknya. Alya pun berbicara
__ADS_1
"aku..."
"aku apa?" tanya radit menatap wajah Alya.
"aku malu" jawab Alya menunduk.
"malu...malu kenapa?" tanya Radit heran
"sebenarnya aku malu sama kalian. kalian sebagai seorang pelajar yang seusia ku. Harus mengenal diriku yang sudah tak perawan lagi!" jawab Alya polos.
Radit paham akan perasaan Alya. Tapi dia tidak pernah merendahkan Alya bahkan berpikir kesana.
"Alya dengarkan aku. aku tidak pernah berpikir negatif tentang Mu. apapun yang terjadi dengan mu. ambil hikmahnya aja. jangan pesimis. Kamu harus tetap semangat. Optimis...ingat Alya ..dengan kamu seperti ini...tandanya Allah sayang kamu... anak adalah rezeki...jangan pernah mengeluh...menyesali bahkan berpikir jelek tentang dirimu...orang orang diluar sana yang sudah menikah aja susah pingin anak...dengan adanya seperti ini.. kamu telah membuktikan menjadi seorang wanita yang sempurna.." panjang lebar Radit menjelaskan kepada Alya.
"tapi, aku hamil diluar nikah" ucap Alya polos dan putus asa
"setelah kamu melahirkan aku akan menikahi kamu" jawab Radit.
Alya terkejut mendengar ucapan Radit. Dia benar benar tidak menyangka akan niat Radit untuk menikahinya
"kenapa kamu mau menikahi ku?" tanya Alya heran
"bukankah kamu sudah tau aku bukan perawan lagi, malah punya anak" sambung Alya merasa aneh.
Radit tersenyum. lalu memegang tangan Alya.
"apakah masalah bagi ku? Itu bukan penghalang bagi ku untuk mencintai mu. cinta butuh pengorbanan dan tidak memandang siapa dia. Bagiamana dia. Tapi cinta itu hadir dari hati yang tulus" tatapan mata Radit menyakinkan Alya.
Alya menatap dan merasakan ketulusan hati Radit.
secara diam Dimas dan jaki mengejutkan mereka.
dagh!
Sontak saja Radit dan Alya terkejut malu.
"apaan sih kalian !?" pekik Radit.
"pacaran sih pacaran .tapi jangan lupa kopi kita udah dingin tuh!" tegur Dimas melirik gelas kopi.
Lalu, mengambil nya. Jaki pun mengambil gelas kopi miliknya.
"begitulah kalau pacaran lupa Ama kawan sendiri" ucap Jaki cemberut.
Radit tertawa kecil.
"makanya jangan jauh jauh...salah sendiri ngapain ninggalin kita" Radit mengelak.
"lah kalau ga kita tinggalkan..mana bisa kalian pacaran" bantah Dimas melirik sambil meletakan gelas kopi.
Radit dan Alya tersenyum malu...
__ADS_1
Bersambung...